Tuesday, January 27, 2026

Paphiopedilum : Selop Venus Paling Gres

Rekomendasi
- Advertisement -

Tiga varietas anggrek paphiopedilum pertama di Indonesia. Ada yang berbunga ganda dan awet hingga 56 hari.

Anggrek Paphiopedilum rupini agrihorti berciri khas berkuntum ganda dalam satu tangkai. (Dok. Dr. Dra. Sri Rianawati, M.Si)

Trubus — Para pehobi menyebut anggrek paphiopedilum sebagai selop venus. Musababnya bentuk bagian tengah bunga atau bibir anggrek itu berbentuk mirip selop kayu asal Belanda atau klompoen. Warna-warna anggrek itu juga eksotis mengingatkan dewi kecantikan dan cinta Romawi, Venus. Kini para pehobi dapat menikmati keelokan selop venus baru hasil pemuliaan para peneliti Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) yang terdiri atas Sri Rianawati, Budi Marwoto, Suskandari Kartikaningrum, Minangsari Dewanti, Dewi Pramanik, dan Kurniawan Budiarto.

Para pemulia Balithi itu membidani kelahiran tiga varietas baru paphiopedilum. Ketiga varietas itu bernama mauredi agrihorti, tonsina agrihorti, dan rupini agrihorti yang dirilis pada 2019. Doktor Agronomi alumnus Institut Pertanian Bogor itu memanfaatkan spesies lokal Sumatera Paphiopedilum tonsum sebagai induk jantan dan Paphiopedilum maudiae black sebagai induk betina.

Kuntum ganda

Daun Paphiopedilum elok bercorak, tidak polos seperti jenis-jenis anggrek lainnya.(Dok. balithi)

Karakter yang muncul dari persilangan itu adalah warna-warna bunga yang merah dan cokelat. ”Sifat yang muncul campuran dari kedua karakter tetua,” kata Ririn—panggilan akrab Sri Rianawati. Bunga Paphiopedilum tonsum berwarna cokelat muda agak kehijauan. Adapun bunga anggrek Paphiopedilum maudiae black berukuran besar, berbentuk bulat, dan berwarna merah tua.
Persilangan itu melahirkan mauredi agrihorti. Kelopak bunga varietas itu merah, warna mahkota bunga hijau muda, dan ukuran mirip induk jantan. Ciri utama varietas mauredi memiliki totol pada mahkota bunga yang mengelompok di bagian tengah. Ukuran bunga besar, panjang 11,8 cm, dan lebar 13,2 cm.

Ririn dan tim juga membidani kelahiran rupini agrihorti. Keunggulan rupini satu tangkai terdapat dua kuntum. Itulah sebabnya rupini menjadi paphiopedilum favorit Ririn. Warna rupini warisan dominan induk betina, yaitu merah. Ciri utama rupini agrihorti terdapat totol di mahkota bunga yang mengelompok pada bagian tengah.

Anggrek Paphiopedilum merupakan genus anggrek yang memiliki struktur khas bibir bunga seperti selop. (Dok. Balithi)

Varietas baru ketiga bernama tonsina agrihorti. Nama tonsina berasal dari warna varietas itu yang sangat mirip dengan tetua jantan Paphiopedilum tonsum, tetapi ukuran sebesar induk betina. Panjang bunga tonsina mencapai 11,7 cm dan lebar 14,8 cm. Ciri utama tonsina warna mahkota bunga bagian tengah hingga ke pangkal bunga sama seperti bagian belakang kantong bibir, yaitu hijau kekuningan.

Keunggulan lain varietas tonsina agrihorti yaitu kesegaran bunga pada tanaman cukup lama, yaitu 56 hari ketimbang saudaranya mauredi agrihorti (47 hari) dan rupini agrihorti (52 hari). Sebagai pemulia, Ririn dan tim ingin melahirkan varietas-varietas anyar yang multikuntum dan bertangkai pendek. Musababnya, “Supaya secara proporsi cantik untuk tanaman meja,” ujar Ririn.

Dataran rendah

Bunga Paphiopedilum tonsina agrihorti lebih bertahan lama pada tanaman. (Dok. Dr. Dra. Sri Rianawati, M.Si)

Pemerhati anggrek di Jakarta, Frankie Handoyo, mengatakan, warna bunga paphiopedilum baru itu cukup menarik. Selain itu sosok tanaman juga kecil sehingga tidak membutuhkan area luas. Paphiopedilum itu merupakan alternatif baru untuk penggemar anggrek di Indonesia. Harap mafhum, Balithi baru pertama mengembangkan paphiopedilum dengan memanfaatkan tanaman asli Indonesia.

Frankie mengatakan, secara umum paphiopedilum hidup di dataran tinggi. Anggrek itu tidak dapat hidup dengan baik didataran rendah. Sementara itu konsumen anggrek Indonesia sebagian besar tinggal di kota-kota dataran rendah. Kondisi lingkungan yang ideal untuk membungakan paphiopedilum di ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut (m dpl). Namun, sejatinya di habitat aslinya Paphiopedilum tonsum dapat tumbuh di dataran rendah.

Itulah sebabnya Ririn dan tim dari Balithi berencana menguji paphiopedilum di rumah kaca Balithi Serpong, Provinsi Banten. Itu upaya menguji lokasi di dataran rendah. Serpong berketinggian 0—25 m di atas permukaan laut. Menurut Frankie kedua induk berasal dari kelompok Barbata yang penggemarnya terbatas. Banyak pehobi justru menggemari kelompok Coryopedilum yang berbunga banyak dan Brachypetalum yang memiliki kantong cantik. (Tamara Yunike)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img