Dr I Nyoman Pugeg Aryantha, ahli mikrobiologi dari Institut Teknologi Bandung, menggunakan berbagai macam akar tumbuhan seperti kangkung, rumput, dan eceng gondok sebagai bahan baku pupuk hayati. Dengan akar, tidak perlu menambahkan mikroba dari luar. Musababnya, “Di akar sudah terdapat mikroba yang diperlukan tumbuhan seperti mikroba penambat nitrogen,” kata doktor mikologi alumnus University of Melbourne, Australia itu.
Untuk membuat pupuk hayati dari akar, Nyoman menumbuk 15 g akar beragam tumbuhan dan memasukkannya ke dalam larutan nutrisi. Larutan nutrisi itu dibuat dengan melarutkan 100 g gula merah, gula pasir, atau molase ke dalam 1 liter air. Lalu ia menambahkan 5 g tanah subur dan 5 g kompos. Semua bahan itu dicampur dalam drum atau ember yang memiliki pompa sirkulasi. Setelah diperam selama 2 hari, cairan dalam drum bisa digunakan sebagai starter.
Untuk memakai, biakkan kembali 10% starter dalam 2,5—5% larutan nutrisi. Tambahkan juga 10% bahan hijauan yang sudah dihancurkan. Fermentasikan semua bahan itu selama 5 hari sambil sesekali diaduk. Sebelum pemakaian, encerkan 1 liter larutan hasil fermentasi dengan 10—50 liter air. Hasil pengenceran itulah yang digunakan sebagai penyubur.***
