Friday, January 30, 2026

Agar Rendemen Minyak Maksimal

Rekomendasi
- Advertisement -

Ia hanya memperoleh 2 liter minyak dari 150 kg bahan baku. Padahal, rendemen minyak biji pala minimal 6%. Biji muda–umur 3—4 bulan – rendemennya malah bisa 14—18%. Kalau hasil penyulingan menghasilkan rendemen di bawah itu, berarti tekniknya keliru.

Menyuling minyak pala cukup menggunakan metode kukus. Tak perlu steam boiler berharga ratusan juta rupiah. Dengan 1 ketel berkapasitas 25—50 kg bahan baku saja, usaha ini menguntungkan. Mafhum jika penyuling di Jawa Barat berani mendatangkan bahan baku dari tempat jauh, seperti Sulawesi Utara, Maluku, dan Nanggroe Aceh Darussalam.

Namun, untuk menghasilkan rendemen optimal tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebab, ada banyak faktor yang menentukan keberhasilan penyulingan. Mulai dari kualitas bahan baku, konstruksi alat, hingga teknik menyuling. Sayangnya, penyuling baru biasanya kurang memperhatikan masalah itu. Akibatnya hasil yang dicapai tidak sesuai harapan.

Kualitas bahan

Gunakan biji pala berumur 3—5 bulan karena kadar minyak asirinya di atas 12%; biji tua, 6—8%. Kualitas minyak biji pala muda juga lebih baik lantaran mengandung miristisin 10—14%. Miristisin memberikan aroma khas pala dan menjadi indikator mutu paling penting.

Biji pala muda bertempurung putih dan lunak karena baru mulai terbentuk. Pada kondisi itu fuli masih berwarna keputih-putihan, melekat erat, dan sulit dipisahkan dari tempurung. Fuli itulah yang mengandung senyawa miristisin tertinggi. Karena biji muda masih dilengkapi fuli, minyak hasil sulingan pun mengandung kadar miristisin tinggi.

Penyulingan minyak pala dapat menggunakan alat suling sistem uap langsung maupun sistem kukus. Sistem kukus dipakai untuk ketel dengan kapasitas maksimal 150 kg. Sebab, proses penyulingannya tidak memerlukan tekanan uap. Penggunaan metode uap langsung dengan steam boiler hanya untuk ketel berkapasitas di atas 500 kg.

Penyuling baru berskala kecil menggunakan metode uap langsung tanpa tekanan. Sayangnya, ketel uap tidak dilengkapi blower. Akibatnya, energi panas berkurang karena jalannya uap untuk mencapai bahan lebih panjang. Malah, uap seringkali mengembun di tengah jalan dan kembali ke ketel uap. Uap tidak mampu mendorong butiran-butiran minyak pada bahan. Alhasil, rendemen pun rendah.

Ketel suling

Agar aliran uap berlangsung sempurna, tinggi dan diameter ketel harus dipertimbangkan. Untuk penyulingan dengan metode kukus, diameter dan tinggi ketel sama, atau maksimal 1:1,25. Ketel yang terlalu tinggi dapat menyebabkan tekanan uap tidak merata.

Sebaliknya ketel terlalu pendek menyebabkan tekanan uap terlalu tinggi. Bahan cenderung menjadi gosong. Akibatnya, kualitas minyak dihasilkan pun rendah. Selain itu, air destilat yang keluar dari kondensor masih cukup panas sehingga banyak minyak yang menguap percuma. Pada penyulingan uap langsung, sebaiknya ketel berbentuk meninggi agar uap lebih lama kontak dengan bahan yang disuling.

Banyak penyuling melengkapi ketel suling dengan ketel dalam untuk mencapai hasil terbaik. Penggunaan ketel dalam memang memungkinkan bahan baku tidak bersentuhan langsung dengan ketel suling. Ketel suling yang panas dapat menyebabkan bahan baku yang menempel pada dinding hangus. Akibatnya, kualitas minyak turun karena berwarna cokelat kehitaman dan berbau gosong. Selain itu, dengan ketel dalam, bahan suling dapat dikeluarkan dengan mudah dari dalam ketel suling.

Multitubular

Namun, penempatan ketel dalam seringkali keliru sehingga rendemen minyak yang diperoleh justru rendah. Agar ketel dalam gampang keluar masuk, diameter ketel dalam dibuat lebih kecil 2—3 cm dibanding ukuran ketel suling. Sayangnya, akan ada ruang kosong di antara kedua dinding ketel. Jarak antara dinding ketel luar dan ketel dalam menjadi celah bagi uap untuk naik ke atas lewat ruang kosong itu.

H a l i n i s a n g a t merugikan. Sebab, uap memilih jalan pintas bebas hambatan untuk naik ke atas tanpa harus menembus tumpukan bahan baku. Akibatnya, uap keluar tanpa membawa butir-butir minyak yang ada pada bahan. Jika ini terjadi, tak akan ada minyak yang dihasilkan.

Jalan pintas itu harus ditutup agar uap tidak dapat melewati ruang kosong. Caranya, alas ketel dalam tidak dipasang tepat di bawah dinding ketel, melainkan agak masuk setinggi 1 cm. Dudukan ketel dibuat semacam selokan sedalam 1,5—2 cm dan dalam dipasang melingkar pada dinding ketel suling. Dengan cara itu, celah di antara kedua dinding ketel tertutup bagi uap.

Kondensor sebaiknya dibuat dengan sistem multitubular, agar pendinginan uap berlangsung sempurna. Pada sistem ini sejumlah pipa destilat disusun paralel dalam tabung kondensor. Tujuannya agar kontak antara pipa destilat dan air pendingin bisa maksimal. Makin p a n j a n g t a b u n g kondensor dan makin banyak pipa destilat, proses pendinginan kian baik. Untuk ketel berkapasitas di bawah 150 liter, panjang tabung 1,5 m dan 9—13 pipa destilat.

Teknik penyulingan

Sebelum disuling biji pala digiling. Tujuannya agar kelenjar minyak terbuka sebanyak mungkin. Hasilnya, rendemen minyak maksimal. Bila disuling dalam bentuk utuh sulit bagi uap menembus dinding bahan untuk memecahkan sel-sel minyak. Namun, terlalu halus juga tak bagus karena penetrasi uap akan terhambat. Hasilnya, rendemen minyak tidak maksimal. Butiran terbaik 3—5 mm.

Penetrasi uap berlangsung baik bila bahan di dalam ketel tidak terlalu tebal dan padat. Bahan yang terlalu penuh, tebal, dan padat menyebabkan distribusi uap tidak merata. Akibatnya, tekanan uapnya pun tidak merata. Tekanan di sekitar dasar lebih tinggi, sedangkan di bagian atas rendah sehingga penyulingan tidak maksimal.

Untuk mengatasinya, bahan dibagi ke dalam beberapa lapisan. Tempatkan lempengan (tray) di antara lapisan. Tebal bahan baku setiap lapisan maksimal 35 cm, atau 50 kg per lapisan.

Agar uap menembus semua lapisan, jarak permukaan bahan dengan tray sekitar 2 cm. Sedangkan jarak antara permukaan air dan lapisan bahan paling bawah sekitar 7 cm.

Dengan cara itu, kelebihan tekanan pada salah satu bagian lapisan bahan dapat dihindarkan. Uap pun mengangkat semua butiran minyak secara maksimal. Bersama uap air, minyak akan terbawa keluar. Hasilnya, rendemen minyak yang diperoleh pun memuaskan. (Sofyan Rusli, Ahli Peneliti Utama Balittro Bogor)

 

Artikel Terbaru

Cara Mengatasi Philodendron Layu, Busuk Akar, dan Daun Menguning

Philodendron termasuk tanaman yang kuat. Meski beitu tanda seperti layu, busuk akar, atau daun menguning biasanya mengindikasikan gangguan fisiologis...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img