Sunday, August 14, 2022

Ekspor Minyak Pala Tersumbat Bahan Baku

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Meski pintu gudangnya dibuka lebar-lebar bagi setiap penyuling, TR Manurung hanya bisa mengekspor 5—10 ton/tahun. Sampai saat ini ia masih kesulitan mendapatkan pasokan. Beberapa penyuling yang menjanjikan pasokan belum terealisasi. Wajar kalau ketua Asosiasi Pemasaran Minyak Asiri Indonesia itu kelimpungan.

“Permintaan minyak pala dunia mencapai 400 ton/tahun,” paparnya. Pemanfaatannya yang semakin meluas—mulai dari industri obat, makanan, minuman, dan kosmetika—membuat permintaan meningkat 3—5% per tahun. Mafhum sampai sekarang belum ada zat lain yang dapat menggantikan fungsi minyak pala.

Hal senada diungkapkan Suwandi, staf ekspor PT Jasulawangi. “Selain dibutuhkan pasar, harga minyak pala juga relatif stabil,” ungkap Wandi, panggilan akrab Suwandi. Sayangnya, karena produksi terbatas, Jasulawangi hanya mampu mengekspor 10—15 ton per tahun. Padahal, permintaan Amerika Serikat saja tak kurang dari 15 ton/tahun. Belum lagi dari negara-negara di kawasan Eropa.

Belum stabil

Salama ini Jasulawangi hanya mendapat pasokan dari penampung di Bogor dan Sukabumi. Namun, untuk memenuhi permintaan, “Kami sedang merencanakan pendirian pabrik pengolahan di Sangihe, Sulawesi Utara, bekerjasama dengan pemerintah dan masyarakat setempat,” ungkap Wandi. Ketersediaan bahan baku di Bumi Nyiur Melambai memadai untuk dijadikan tumpuan ekspor mereka.

Sebelum suhu politik memanas di Nanggroe Aceh Darussalam, para eksportir banyak mendapatkan pasokan dari sana. Provinsi berjuluk Serambi Mekah tercatat sebagai produsen terbesar. Sekitar 90% pasokan Indonesia ke pasar dunia berasal dari sana. Karena gejolak politik berkepanjangan, ekspor minyak pala Indonesia pun seakan lumpuh.

Hingga sekarang produksi minyak pala belum stabil. Munculnya banyak penyuling baru di berbagai daerah belum mampu mengisi pasar yang ditinggalkan Nanggroe Aceh Darussalam.

Kondisi ini jelas sangat disayangkan. Sebab, selama ini pasar dunia sangat bergantung kepada Indonesia. “Lebih dari 70% kebutuhan dunia dipasok Indonesia,” papar Muklis Zainal Abidin, direktur CV Mitra Agro Pala. Menurutnya, Grenada yang menjadi pesaing terbesar hanya memberikan kontribusi 20%.

Pasar gampang

Karena tertarik dengan prospek pasar, Muklis di Bekasi membuka pabrik penyulingan minyak pada akhir 1998. Waktu itu usaha percetakannya goyah diterpa badai krisis ekonomi. “Pertama kali saya hanya mencoba dengan 400 kg bahan baku per minggu,” papar pria berusia 56 tahun itu. Ternyata produksinya habis diserap pasar.

Usaha coba-coba itu pun terus berlanjut. Bahkan kapasitas produksi pun ditingkatkan. Kini, proses penyulingan dilakukan 10—12 kali sebulan. Sekali suling 550 kg bahan baku dipakai.

Muklis menggunakan bahan baku dari seputaran Bogor, Cianjur, dan Sukabumi. Hasilnya, rendemen minyak sekitar 10% dengan kadar miristisin di atas 10%. Dengan harga bahan baku yang lebih murah dibanding pala asal Ambon, Manado, atau Aceh, ia tetap meraih keuntungan.

Adhi Caksono, produsen lain di Jakarta, juga hanya memanfaatkan bahan baku dari Bogor dan Sukabumi. Dengan keahliannya, sarjana teknik kimia lulusan Universitas Indonesia itu mampu menaikkan rendemen minyak dari 10—11% menjadi 15%. Padahal menurutnya, dengan kenaikan rendemen 1% saja keuntungan bakal berlipat hingga jutaan rupiah.

Untuk kapasitas alat 400 kg bahan baku, hasil sulingan bertambah 4 kg untuk kenaikan rendemen 1%. Jika harga jual Rp290.000/kg, berarti tambahan pendapatan Rp1.160.000 sekali suling.

Bujangan 25 tahun itu juga mengaku tak sulit memasarkan. “Produksi 1 ton minyak per bulan tak pernah bersisa,” ungkapnya. Padahal, ia tergolong pemain baru dalam bisnis minyak pala. Ia baru memulai usaha pada akhir 2001 dengan produksi 36 kg/bulan. Lantaran kualitas produknya baik, banyak eksportir dan penampung memburu hasil sulingannya.

Menguntungkan

Untuk meningkatkan rendemen dan kualitas minyak, Royadi, penyuling di Desa Cinagara, Kecamatan Caringin, Bogor, mendatangkan bahan baku dari Manado dan Ambon. “Kalau cuma mengandalkan pala dari Sukabumi, Cianjur, dan Bogor, kualitas minyak kurang bagus,” ungkap pemilik 2 ketel berkapasitas 400 kg itu. Dengan mencampur pala dari Manado, kualitas minyak bisa ditingkatkan.

Pala dari Manado atau Ambon memang tergolong mahal. “Harganya mencapai Rp28.000—Rp29.000/kg pranko Bogor,” ungkapnya. Meski begitu, ia berani mendatangkan 8 ton per bulan.

Rendemen minyak pala dari Manado di atas 13%. Karena itu, meski mahal ia berani membelinya sebagai bahan baku. Dengan rendemen 12% saja ia sudah meraup keuntungan. Sebab, “Biaya operasional hanya sekitar Rp1.200/kg bahan baku,” jelas pria berusia 27 tahun itu.

Lihat saja hitung-hitungannya. Dengan rendemen 12%, 400 kg bahan baku menghasilkan minyak 48 kg. Dengan harga jual minyak sulingan Rp280.000/kg, diperoleh pendapatan Rp13.440.000. Biaya pembelian 400 kg bahan baku hanya Rp11.600.000, jika harga belinya Rp29.000/kg. Berarti, ada selisih Rp1.840.000. Dikurangi ongkos suling Rp480.000, maka keuntungan yang ia peroleh Rp1.360.000 setiap kali suling.

Karena keuntungan itu pula Syamsuar Yatim, penyuling asal Tapaktuan, Nanggroe Aceh Darussalam tetap menekuni usaha yang digeluti sejak 1970 itu. “Sampai hari ini saya masih rutin memasok minyak pala ke beberapa eksportir besar di Medan,” tutur pemilik CV Jasa Bumi itu.

Dengan 24 unit ketel berkapasitas 600 kg, Syamsuar memproduksi minyak 10—12 ton/bulan. Hasilnya dipasok ke PT Karimun Kencana Aromatics, PT Harum Segar Aromatic, PT Djasulawangi, dan CV Aroma & Co. Permintaan setiap eksportir 3—5 ton/bulan.

Ada kendala

Pada Agustus lalu Dian Risdianto dan kawan-kawan di Semarang juga terjun di bisnis minyak pala. Mereka mempersiapkan 3 unit penyulingan. Sayangnya, ketel belum sempat mengepul lantaran kesulitan bahan baku. “Padahal, kami telah menggandeng mitra kerja asal Manado untuk pengadaan bahan baku,” keluh alumnus teknik industri ITB itu.

Franky di Gadingserpong, Tangerang, juga terpaksa menunda impiannya menjadi produsen minyak pala. Pasalnya, 1 unit alat penyulingan senilai Rp35-juta yang telah ditempatkan di tanah kelahirannya, Manado, tak bisa dipakai. Dalam 2 kali penyulingan ketel sulingnya hanya menghasilkan beberapa liter minyak saja, jauh di bawah standar.

Memang menurut Manurung, penyulingan minyak pala tak semudah membalikkan telapak tangan. Kesalahan konstruksi dapat menyebabkan penyulingan sia-sia. Pemain baru pun kerap harus menjalin hubungandengan para penampung agar produknya bisa dipasarkan.

Untuk menjual langsung kepada eksportir ada persyaratan yang harus dipenuhi. Antara lain jaminan kualitas dan kuantitas produksi. “Hubungan baik antara eksportir dan pemasok akan lebih menjamin pasar,” tutur Manurung mengakhiri percakapan (Fendy R. Paimin)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img