Trubus.id—Bagi penyilang aglaonema, kehadiran bunga sangat dinantikan. Sayangnya keluarnya bunga untuk tiap jenis tidak berbarengan. Agar muncul bersamaan, Chirayu Th ongwutthisak— penyilang di Bang Bon, Thailand—menyemprotkan 1—2 kali giberelin.
Dosis giberelin itu 250— 400 ppm ke seluruh bagian tanaman. Sebelum disemprot, pastikan sri rejeki dalam kondisi sehat, tak ada hama dan penyakit. Bunga anggota famili Araceae itu keluar selang 2—3 bulan kemudian.
Selain Chirayu, Satid Suemaksuk membagikan tip cara memisahkan anakan aglaonema dari induk tanpa membawa akar. Pehobi tanaman di Thailan itu menuturkan anakan disungkup dalam plastik agar kelembapan di sekitar tinggi, mencapai 80%. Suhu stabil.
Hasilnya, proses metabolisme lebih kencang, akar lebih cepat muncul. Satid Suemaksuk mengganti plastik dengan tabung bening. Anakan yang baru dipisah ditanam dalam pot dengan media campuran coconut chips , sekam, dan kompos daun.
Di tanahair, lazimnya sekam bakar. Lalu sri rejeki dimasukkan dalam tabung plastik bening setinggi 50 cm, diameter tergantung ukuran pot. Tabung plastik dipilih karena awet. Setelah 3 minggu, akar keluar. Aglaonema siap dipindah ke luar.
Jika anakan baru dipisah dari induk, anakan lemah sehingga luka gampang terserang cendawan. Penyelamat anakan aglaonema itu dengan cara mengoleskan antiseptik ke bagian yang dipotong. Lalu tanam anakan di media steril dan sungkup dengan plastik transparan.
Gunawan Wijaya di Sentul, Bogor, menggunakan media pasir malang 100%. Antiseptik menggantikan peran fungisida. Oleskan juga pada luka di tanaman induk.***
