Trubus.id— Alpukat markus terkenal dengan ukuran buahnya yang jumbo dan memiliki cita rasa manis dan gurih. Namun, uniknya saat ini alpukat markus hadir tanpa biji (seedless). Arya Bagus Abhiseka membudidayakan alpukat itu.
“Baru panen kali kedua 70—80% tanpa biji,” kata Abhiseka.
Petani alpukat di Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur, itu menamakan alpukat itu lato-lato. Alasannya ketika memvideokan markus tanpa biji suara mainan lato-lato ikut masuk sebagai latar video.
Bobot buah alpukat lato-lato itu tidak sebesar markus normal. Bobot alpukat markus normal 1,2—1,5 kg per buah, sedangkan lato-lato 200—300 gram. Ada juga yang berbobot 400 g. Meski begitu lato-lato merupakan alpukat tanpa biji paling besar ketimbang alpukat nirbiji yang ada.
Alpukat tanpa biji lainnya seperti alpukat seedless dari Filipina yang per kg isi 12—20 buah. Nah lato-lato per kg isi 3—4 buah. Soal rasa, daging buah alpukat lato-lato lebih lembut dan lebih tipis kulitnya dibandingkan dengan markus normal. Alpukat itu kini berusia sekitar 4,5 tahun dan berbuah dua kali.
“Sekarang muncul pentil lagi. Kemungkinan tiga bulan lagi kelihatan stabil atau tidaknya,” tutur Abhiseka.
Pada panen pertama, persentase buah alpukat yang nirbiji 30—40%. Sementara pada panenan kedua persentasenya naik menjadi 70—80%. “Saya berharap di panenan ketiga bisa stabil dan lebih banyak yang seedless,” kata Abhiseka.
Ia mendapatkan dua tanaman alpukat markus hasil sambung pucuk dari indukan pada 2013. Saat itu, alpukat markus banyak berkembang di Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur. Abhiseka mendapatkan indukan itu dari petani alpukat di Kota Blitar.
“Sudah ribuan kali saya ambil entres untuk dijadikan bibit, tetapi baru dua panen ini yang seedless,” tutur Abhiseka.
