Friday, January 16, 2026

Anak Muda di Kebumen Memilih Berbisnis Jamu, Datangkan Keuntungan dan Manfaat Kesehatan

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Yudi Setyawan memilih berbisnis kafe jamu.  Ia mendirikan kedai bernama Seger Waras sejak 2022. Kedai bersahaja seluas 54 m2 itu senantiasa ramai. Pengunjung datang silih berganti.

Kedai yang berlokasi di Desa Jladri, Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah, itu menyajikan menu jamu kekinian dan herbal berkualitas.

Pengunjung dapat memilih menu jamu sesuai kebutuhan seperti beras kencur, kunyit asam, gula asam, wedang ambyang, dan seruni (campuran sereh dan jeruk nipis).

Yudi membanderol sama untuk setiap menu yakni Rp9.000 per gelas. Yang paling laris tentu saja beras kencur dan kunyit asam.

Keduanya merupakan jamu yang paling populer di masyarakat. Yudi menuturkan, omzet dari perniagaan jamu di kedai setidaknya Rp500.000 per hari. Kedai Seger Waras beroperasi mulai pukul 08.00—22.00 setiap hari.

Pengunjung semakin ramai saat malam. Konsumen jamu di kedai Seger Waras mulai dari anak-anak hingga lansia. Yudi membangun suasana keakraban di dalam kedai. Ia mendesain ruangan selayaknya rumah.

Hiasan dinding, lampu, dan ornamen ruangan ditata sederhana, tetapi rapi. Pengunjung saling bercengkerama bagai di rumah sendiri. Yudi begitu ramah melayani pengunjung.

Ia sangat terbuka apabila ada pengunjung yang ingin mengetahui khasiat herbal yang mampu menghalau flu, batuk, dan pilek. Maklum, keluhan seputar flu, batuk, dan pilek sering dirasakan oleh masyarakat dari segala lapisan umur.

Menurut Yudi meminum jamu merupakan upaya menjaga imunitas tubuh agar selalu prima. “Belum ada aturan baku tentang kapan dan pada usia berapa seseorang dapat mengonsumsi jamu,” ujar pria berumur 35 tahun itu.

Secara umum manusia memiliki risiko sama terhadap ancaman penyakit. Musababnya penyakit datang lantaran beragam faktor seperti genetika, perubahan iklim, pencemaran lingkungan, dan pola hidup tidak sehat.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img