Trubus.id-Khairur Rizal, S.P. adalah petani muda asal Desa Kalisapu, Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Ia memimpin Kelompok Satria Tani Hanggawana yang beranggotakan 10 orang anak muda di bawah usia 40 tahun.
Bersama timnya, Rizal mengembangkan konsep pertanian terintegrasi di lahan seluas dua hektare. Sistem itu mencakup hortikultura, peternakan kambing, budi daya lele, pengelolaan sampah terpadu, dan budi daya magot.
Sayuran yang ditanam di lahan terbuka meliputi cabai, mentimun, dan kol. Pola tanam dilakukan secara rotasi untuk memutus rantai hama dan penyakit tanaman.
Untuk cabai, Rizal menggarap lahan 3.500 meter persegi dengan produktivitas rata-rata 1 kg per tanaman. Total panen dari 7.000 tanaman mencapai sekitar 7 ton cabai.
Setelah panen cabai rawit, lahan ditanami terung-terungan lalu dilanjutkan dengan mentimun atau paria. Ia juga membudidayakan kembang kol di dalam greenhouse yang hasilnya lebih tinggi dibanding di lahan terbuka.
Dalam sistem greenhouse, 1 kg kembang kol dapat dihasilkan hanya dari dua hingga tiga tanaman. Sementara di lahan biasa, diperlukan empat tanaman untuk bobot yang sama.
Selain hortikultura, Satria Tani Hanggawana juga membudidayakan lele di 100 kolam bioflok dan memelihara 1.500 ekor kambing. Semua limbah pertanian dan ternak dikelola agar tidak terbuang percuma.
Mereka mendirikan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) 3R untuk mengolah sampah organik menjadi pakan magot dan bahan kompos. Magot digunakan sebagai pakan lele dan entog, sedangkan limbah buah busuk digiling untuk pakan tambahan ternak.
Kotoran hewan difermentasi menjadi pupuk padat dan cair sebanyak dua ton per bulan. Sistem daur ulang itu menjadikan pertanian lebih ramah lingkungan dan hemat biaya.
Rizal juga aktif membina 35 siswa SMK dalam praktik pertanian modern. Langkah ini menjadi upaya nyata regenerasi petani muda agar sektor pertanian tetap berkelanjutan.
Menurut Rizal, stigma bahwa bertani itu kotor dan tidak menjanjikan harus dihapuskan. Dengan pemanfaatan teknologi dan manajemen yang baik, bertani bisa menjadi profesi membanggakan dan berpenghasilan tinggi.
Berdasarkan Sensus Pertanian 2023, jumlah petani milenial berusia 19—39 tahun mencapai 6,18 juta orang atau 21,93% dari total petani Indonesia. Data itu menjadi pengingat pentingnya regenerasi untuk menjaga masa depan pertanian nasional.
