Dendrobium eksotis kian langka dan perlu perbanyakan untuk melestarikannya.

Alyadi Prasetyo jatuh hati pada Dendrobium stratiotes. Nama anggrek itu mengacu pada bunga berkelopak tegak bak tentara berbaris dengan bayonet. Dalam bahasa Yunani stratiotes berarti tentara. Pada umumnya dendrobium spesies epifit (dendro berarti pohon) dengan pertumbuhan batang mencapai lebih dari 1,5 m. Kolektor anggrek di Rawalumbu, Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat jatuh hati pada anggrek stratiotes lantaran warna bunga berbeda.

Lazimnya anggrek Dendrobium stratiotes memiliki guratan ungu pada bagian petal. Namun, corak garis ungu pada Dendrobium stratiotes forma Alba koleksi Alyadi Prasetyo terlihat samar. “Kalau terlihat dari kejauhan seperti benar-benar warnanya putih bersih,” ujar Alyadi. Menurut Alyadi perbedaan warna itu akibat sedikitnya kandungan pigmen antosianin. Antosianin berfungsi sebagai pemberi warna merah, ungu, dan biru pada bunga.
Kian langka
Dendrobium stratiotes asli Kepulauan Maluku, Sulawesi, dan Papua. Alyadi mengatakan, keberadaan Dendrobium stratiotes forma Alba di alam kian langka. “Jenis Dendrobium stratiotes yang biasa saja, juga sudah relatif sedikit dibudidayakan. Biasanya digunakan dalam hibridisasi oleh penyilang bunga. Sebenarnya, jenis itu relatif mudah untuk ditanam dan dibudidayakan di luar habitat aslinya, asalkan mengetahui syarat-syarat lingkungan yang tepat,” ujar Alyadi.

Anggrek itu dapat tumbuh pada suhu menengah hingga tinggi di daerah tropis, kelembapan udara 50—70 %, luminositas tinggi dan sirkulasi udara yang baik. Tanaman anggota famili Orchidaceae itu membutuhkan banyak air. Penyiraman harus cukup sering dan berlimpah, tetapi air harus segera lepas dari tanaman sehingga terhindar dari pembusukan, terutama pada bagian akar.
Koleksi lain Alyadi jenis Dendrobium gouldii var. acutum forma flava. Penampilan bunga terlihat berbeda dari jenis D. gouldii biasa terutama pada bentuk bunga. “Ujung-ujung sepal, petal, labellum pada Dendrobium gouldii var. acutum forma flava terlihat jelas lebih runcing. Selain itu adanya tambahan forma flava menunjukkan bahwa warna bunganya dominan kuning sampai pada bagian labellum atau lip yang kalau pada Den. gouldii biasa berwarna putih,” ujar Alyadi. Irawati mengatakan, Dendrobium gouldii var. acutum forma flava istimewa karena bunga meruncing dengan jelas dan warnanya juga solid.

Lingkungan aslinya berupa hutan sungai, hutan pantai, hutan rawa, pantai dan perkebunan pada ketinggian 700 meter dari permukaan laut. Anggrek itu memiliki tipe bunga yang berkerumun, arah pertumbuhan seperti kumparan, dan banyak buku-buku pada batangnya. Panjang batangnya dapat mencapai 70 cm. “Banyak bunga yang tumbuh dari atas buku-buku batang pada saat dewasa berjumlah hingga 40 buah,” ujar Irawati, ketua Divisi Konservasi Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) itu.
Spesies eksotis
Aliyadi juga memiliki anggrek spesies berwarna berbeda dari biasanya yaitu Dendrobium calophyllum forma yellow. “Dendrobium jenis itu biasanya berwarna hijau, tetapi saya beruntung mendapatkan yang warnanya kuning keemasan,” ujar pria 48 tahun itu. Ia mendapatkan satu tanaman saat mendatangkan dari rekannya sesama kolektor anggrek spesies. Irawati tidak dapat memastikan penyebab terjadinya “penyimpangan” warna kuning pada koleksi Alyadi.
Menurut Irawati spesies itu banyak tumbuh sebagai epifit di hutan pulau Papua yang intensitas hujannya sedang di dataran rendah. Anggrek spesies itu memiliki bentuk pseudo-bulb atau umbi semu silinder yang membesar di dekat pangkal, panjangnya antara 30—50 cm dengan bentuk oval. Tipe perbungaan racemose atau bunga sederhana yang tak terbatas dengan panjang sampai 20 cm, dengan diameter masing-masing bunga sekitar 5 cm.

Sementara itu di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, Dedek Setia Santoso juga mengoleksi berbagai macam anggrek spesies. Koleksi Dedek termasuk unik seperti Dendrobium jenis archipilagense, sylvanum, dan cochliodes—semuanya berhabitat di Papua. Sosok archipilagense pendek, lebih cepat berbunga, dan rajin berbunga, tanduknya tegak, serta mudah keluar tunas baru.
Adapun Dendrobium sylvanum penghasil warna bergaris pada anakan kalau dipakai sebagai induk tanaman silangan. Keunggulan cochlioides dengan tanduk melintir, bagus buat induk penghasil tanduk melintir yang bentuknya tegak, tanaman relatif tinggi, penghasil warna kuning, cokelat, sampai hitam. “Jika untuk induk silangan, warna anakan makin solid saat disilangkan dengan anggrek yang punya sifat-sifat warna gelap,” ujar Dedek.

Saat ini Alyadi dan Dedek sedang berusaha untuk memperbanyak anggrek spesies untuk tujuan konservasi untuk mencegah kepunahan. Menurut Dedek tingkat kesulitan dalam perbanyakan tergantung jenis. Kendala yang ia hadapi biasanya media kultur yang susah didapat. Alyadi mengatakan anggrek spesies yang ada di tempatnya semuanya sangat mudah untuk diperbanyak dan sangat mudah untuk dirawat.
Menurut Irawati ketiga anggrek langka dan anggrek spesies lain itu menjadi sumber genetik yang penting. Keragaman itu penting dimanfaatkan dalam hibridisasi karena menurunkan karakter (kualitas bunga baik ukuran, warna, susunan, ketahanan lama mekar atau di beberapa anggrek juga aroma atau karakter lain) berbeda dari sejenisnya yang umum. “Perkembangan untuk urusan anggrek saat ini, orang awam dapat belajar dan praktik sekaligus secara otodidak, berani mengambil risiko dan mempunyai jejaring yang baik,” ujarnya. (Muhammad Hernawan Nugroho)
