
Avokad mulia dan kenzu unggul dalam rasa, produktivitas, dan memiliki karakter buah yang unik. Pohon genjah, 2 tahun berbuah.
Trubus — “Rasanya sangat gurih dan penampilannya juga bagus,” kata Ir. Dinno Marianus Dionysius, M.M. Ketua Komunitas Alpukat Nusantara (AlNusa) itu mengomentari rasa dan sosok avokad mulia. Dinno menerima kiriman satu buah avokad dari Miswanto di Kecamatan Pagarmerbau, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara. Setelah membelah buah Persea americana, tampak daging buah yang kuning terang dan menggoda.
Daging buah tebal, hingga 2,74 cm. Dinno memotong dadu, memasukkan ke mulut, dan terasa kelembutan daging buah. Sudah lembut, daging buah itu juga manis dan gurih. Paduan rasa buah amat pas. Porsi yang dapat dimakan atau edible porsion amat tinggi, yakni 87%. “Sangat prospek menjadi avokad ekspor,” kata Dinno yang tinggal di Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Dinno memberi skor 81 untuk avokad mulia.
Avokad genjah

Daya tahan avokad mulia juga tinggi. Dinno pernah membelah dan membiarkan buah di suhu ruangan selama 40 jam. Namun, buang anggota famili Lauraceae itu awet, tidak menghitam dan membusuk. “Menurut saya karena kadar air yang rendah, sedangkan kadar lemak dan karbohidrat tinggi. Oleh karena itu, buah tidak mudah busuk,” kata Magister Manajemen alumnus Universitas Padjadjaran itu.
Miswanto memperoleh bibit mulia hasil perbanyakan sambung pucuk. Tetangganya memiliki satu pohon induk yang tumbuh di pekarangan. Tinggi pohon mencapai 5 meter. Sayang, pemilik menebang pohon induk berumur 8 tahun pada 2018. Lokasi pohon kini berubah hunian. Miswanto memperbanyak tanaman sebelum penebangan. Ia mengambil 4 tunas untuk perbanyakan.
Karyawan swasta itu menduga, pohon induk avokad mulia berasal dari biji buah avokad lokal. Miswanto tergerak memperbanyak tanaman setelah mendapat informasi, pohon rajin berbuah dan cita rasa buah lezat. Miswanto mempebanyak dengan sambung pucuk pada 2018. Kini Miswanto memiliki empat pohon avokad mulia yang tumbuh di pematang sawah di Kecamatan Pagarmerbau, Kabupaten Deliserdang, berketinggian 24 meter di atas permukaan laut.

Umur tanaman kerabat kayu manis itu dua tahun pada 2020. Miswanto tidak merawat tanaman intensif. Ia hanya pernah sekali memberi 50 kg pupuk kandang pada saat penanaman. Selebihnya ia membiarkan tanaman tumbuh alami. Meski demikian, tanaman panen perdana pada 1 Juli 2020. Pria 42 tahun itu memetik total 5 buah dari sebuah tanaman. Di tanaman itu masih tersisa 25 buah yang belum matang.
Artinya produksi perdana itu mencapai 30 buah per tanaman. Harap mafhum, pembungaan tanaman tidak bersamaan. Bobot buah rata-rata 600—800 gram. Sebagian hasil panen itulah yang dikirim ke Dinno di Bekasi. Miswanto memperkirakan panen berikutnya pada akhir Juli 2020.
Avokad kenzu
Sementara tiga tanaman avokad mulia lain tengah berbuah muda. Tinggi tanaman 2,5 m. Jika tanpa aral, ia kembali memanen avokad mulia dari 3 pohon lain pada akhir Agustus 2020. Ciri-ciri avokad mulia medan yaitu berkulit buah hijau tua bertekstur. Ketika masak warna kulit buah tetap hijau, kulit buah mudah dikupas. Bahkan, Miswanto bisa mengupas avokad seperti membuka kulit pisang. Daunnya kecil-kecil bila dibandingkan avokad miki, serta ruas tangkai daunnya sangat berdekatan satu sama lain.

Miswanto mengatakan, “Avokad mulia adaptif dan bagus untuk ditanam di dataran rendah, serta layak untuk dikebunkan karena cepat panen.” ujar pria berumur 42 tahun itu. Selain mulia, Miswanto juga mengoleksi avokad lain. Namanya kenzu. Dinno yang mencicipi kenzu kiriman Miswanto mengatakan, ketebalan buah kenzu mencapai 3,2 cm serta porsi yang bisa dimakan hingga 90%. “Nilai total kenzu 80/100,” kata Dinno.
Rasa daging buah manis dan tidak berair. Bobot buah berkisar 500—1.000 g. Penampilan kulit buah kenzu sangat mengilap. Miswanto menyebut kenzu bak selebritas. Sudah mulus, rasa kulit bagian dalam itu tak pahit pula. “Bahkan ada yang memakan berbarengan dengan kulitnya, rasa daging buah terasa seperti garing. Bila dimakan daging buah saja terasa lembut,” jelas Miswanto.
Pemilik pohon avokad kenzu bernama Jhon Kenzu di Deliserdang, Sumatera Utara. Jhon justru tidak mengetahui bahwa avokad milik keluarganya itu kulitnya tidak pahit dan bisa dimakan. Pohon induk kenzu berumur 18 tahun. Produksi mencapai 400 kg buah per tahun. Setahun terakhir, Miswanto dan Jhon memperbanyak avokad kenzu dengan sambung pucuk. (Tamara Yunike)
