Tuesday, November 29, 2022

Awas! Penyakit Serang si Bulat

Rekomendasi

 

Menurut Ahmad Irfan, juri asal Yogyakarta, kehadiran bercak cokelat itu mengurangi nilai di aspek kesehatan. Lidah jin sakit sulit menduduki posisi puncak meski unggul dalam kesan pertama, tampilan daun, dan kematangan karakter. “Apalagi jika gejala penyakit itu terlihat jelas,” kata Ipang, sapaannya.

Dari gejala yang terlihat Yos Sutiyoso, ahli hama dan penyakit di Jakarta, menduga sansevieria koleksi Edi itu terinfeksi cendawan Colletotrichum sp. Serangan cendawan lebih gampang muncul ketika daya tahan tanaman sedang merosot, misal pascapemisahan dari tanaman induk. Bekas serangan biasanya berbentuk bulat dengan lingkaran berwarna kuning di pinggirnya, disebut halo. Pada sansevieria halo tidak terlihat karena struktur tanaman yang kuat membuat penyebaran infeksi lebih lambat. Walaupun tidak sampai mematikan, koloni cendawan itu akan meluas dan menular ke tanaman lain jika tidak segera diatasi.

Kehadiran bintik cokelat itu sungguh di luar dugaan Edi. Sepekan sebelum kontes, bercak itu belum terlihat. “Mungkin karena variegata, jadi serangannya begitu cepat. Saya baru tahu setelah bintik terlihat jelas karena ukurannya besar,” kata pengusaha kayu itu. Menurut Dr Ir Ni Made Armini Wiendi MSc, ahli fisiologi tanaman dari Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, variegata merupakan salah satu bentuk mutasi genetik. “Bila mutasi itu mengubah gen ketahanan penyakit, maka tanaman menjadi lebih rentan serangan penyakit dibandingkan tanaman normal,” ujarnya. Untuk mengatasinya Edi rutin menyemprotkan fungisida setiap pekan.

Tak pandang bulu

Edi menduga, kondisi iklim yang tidak menentu dan curah hujan tinggi membuat hama dan penyakit menyerang bertubi-tubi. Bahkan, serangan itu kini tak pandang bulu. Dulu ada anggapan sansevieria berdaun bulat “kebal” serangan hama penyakit. Ternyata, kini si daun bulat pun tak luput dari incaran.

Nun di Depok, Jawa Barat, Sansevieria cylindrica var patula milik Yasa nyaris meregang nyawa. Hampir separuh daun lidah naga yang dikenal dengan sebutan boncel itu berwarna cokelat. Begitu ditekan jaringan daun terasa lunak. Serangan itu bermula saat muncul bercak cokelat kecil di daun bagian tengah. Sepekan kemudian, bercak itu makin meluas hingga separuh panjang daun.

Yos menduga boncel milik Yasa itu terkena serangan Erwinia carotovora. Serangan erwinia ditandai dengan munculnya bercak basah. Lama-kelamaan jaringan daun yang terserang menjadi busuk. Lazimnya erwinia muncul bila kondisi lingkungan terlalu lembap. Iklim yang tidak menentu dan curah hujan tinggi memicu perkembangbiakan bakteri berukuran 0,7—1,5 mikrometer itu.

Untuk mengatasinya, Yos menyarankan potong daun yang terserang, lalu simpan tanaman di tempat yang terpapar cahaya matahari penuh. Hindari menyentuh tanaman lain setelah menyentuh boncel karena bakteri yang memiliki masa inkubasi 20 jam itu dapat menyerang cepat ke tanaman lain.

Serangan penyakit pun mengancam akar. Gejala busuk tidak terlihat karena rimpang dan akar tertutup media. “Biasanya tanaman yang terserang pertumbuhannya mandek,” kata Edi. Menurut Yos yang menjadi biang penyakit busuk rimpang adalah cendawan Sclerotium rolfsii. Cendawan itu masuk dari media tanam ke jaringan tanaman yang luka. Untuk mencegahnya perlu sterilisasi media.

“Media kompos bisa saja mengandung mikroorganisme pembawa penyakit,” ujar entomolog alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Caranya, taburkan campuran fungisida, insektisida, dan nematisida berbahan aktif dazomet pada media tanam. Semprotkan air dan aduk rata agar dazomet mengeluarkan gas yang akan membunuh cendawan, hama, benih gulma, dan nematoda pada media. Biarkan selama satu malam. Keesokan hari media siap dipakai.

Ancaman hama

Ancaman yang tak kalah berbahaya, serangan hama. Contohnya dialami Sansevieria ballyi yang juga milik Edi. Di bawah permukaan daun terdapat gerombolan kutu putih Pseudococcus citri. Menurut Yos anggota famili Pseudococcidae itu biasanya muncul saat kemarau ketika kelembapan udara rendah. Kutu putih dapat tersebar melalui angin. Celakanya, kutu putih mengeluarkan embun madu yang menjadi bahan makanan cendawan jelaga Meliola mangifera. Proses fotosintesis pun terhambat karena jelaga menghalangi daun mendapatkan cahaya matahari.

Kutu putih tergolong hama yang sulit dikendalikan. Edi sudah berkali-kali menyemprot dengan insektisida, tapi hasilnya nihil. Menurut Yos, kutu putih kebal karena ada lapisan lilin di sekujur tubuh. Lapisan itulah yang melindungi sang kutu dari insektisida. Untuk mengatasinya, semprot tanaman dengan air hingga kutu rontok. Cara lain semprotkan cairan sabun pada gerombolan kutu putih. Sabun dapat menghilangkan lapisan lilin di kutu putih yang berfungsi sebagai pelindung. Setelah itu lanjutkan dengan penyemprotan insektisida.

Berbagai serangan itu membuat para hobiis mesti ekstraketat merawat si lidah naga. Itulah sebabnya untuk mencegah serangan hama dan penyakit, Edi rutin menyemprotkan insektisida, fungisida, dan bakterisida setiap pekan secara bergantian. Jika tidak dicegah, tak mustahil sang klangenan meregang nyawa. (Tri Istianingsih)

 

Sungkup Lidah Jin

Penyemprotan insektisida berulang kali tak selalu membuahkan hasil. Sang hama selalu hadir karena mereka bersembunyi. Jika sudah begitu, jurus pamungkas pun dikeluarkan Edi Sebayang untuk menghalaunya.

  1. Pisahkan sansevieria yang terserang hama
  2. Tempatkan masing-masing 1 sendok teh insektisida sistemik berbahan aktif karbofuran pada wadah kecil seukuran tutup botol. Letakkan wadah di permukaan media.
  3. Sungkup tanaman dengan plastik transparan, lalu ikat hingga kedap agar gas dari insektisida tidak menguap. Biarkan selama 24 jam.
  4. Setelah 24 jam, larva hingga serangga dewasa biasanya keluar dari persembunyian karena tak kuat menahan uap insektisida saat kondisi kedap udara. Setelah sungkup dibuka, semprotkan insektisida untuk mematikan hama. (Tri Istianingsih)

 

Berikan Nitrat, Bukan Amonium

Di tengah kondisi cuaca yang tak menentu, daya tahan tanaman menjadi kunci agar terhindar dari serangan penyakit. Agar kekebalan tubuh tanaman tidak anjlok, hindari pemberian pupuk nitrogen, amonium (NH4+) seperti Urea. Amonium membuat dinding sel tanaman lemah. Itu karena amonium senang membawa air sehingga terbentuklah sel raksasa dengan kandungan air tinggi di jaringan tanaman. Akibatnya tanaman cepat tumbuh, tapi rentan terserang penyakit.

Sebaiknya berikan pupuk nitrogen dalam bentuk nitrat (NO3) seperti kalium nitrat (KNO3). Selain itu berikan juga pupuk dengan kandungan fosfor, kalsium, dan kalium tinggi. “Kalsium dan fosfor berfungsi memperkuat dinding sel. Sedangkan kalium mengatur alur pasokan makanan agar tersedia bagi seluruh jaringan tanaman” ujar Yos. (Tri Istianingsih)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mencetak Petani Milenial, untuk Mengimbangi Perkembangan Pertanian Modern

Trubus.id — Perkembangan pertanian modern di Indonesia harus diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Dalam hal ini...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img