Monday, November 28, 2022

Pemangsa Raksasa dari Papua

Rekomendasi

 

Sosok treubiana mudah dikenali karena kantungnya besar dengan panjang mencapai 27 cmNepenthes klossii memanfaatkan cahaya untuk memerangkap seranggaKantung klossii dilihat dari sisi dalamN. treubiana tumbuh dekat permukaan laut di Teluk MacCluerLukisan tangan manusia purba dekat habitat N. treubianaKedua jenis kantung semar itu ditemukan lebih dari seabad silam. Namun, kini keberadaannya terbilang langka lantaran sulit ditemukan. Treubiana dan klossii sama-sama tumbuh di tempat terpencil dan susah dijangkau manusia. Wajar informasi mengenai keduanya minim. Akibatnya, seringkali pencarian kedua spesies itu menemui jalan buntu.

Itu saya alami sendiri saat melakukan pencarian treubiana. Informasi awal menyebutkan treubiana ditemukan tumbuh di Pulau Misool, barat daya Kabupaten Sorong. Namun, pencarian di pulau itu ternyata tak membuahkan hasil. Nepenthes yang ditemukan Melchior Treub – ahli botani asal Belanda pada akhir abad ke-19 itu justru ditemukan di Teluk MacCluer, bagian tenggara Sorong.

Tahan asin

Treubiana hidup di tepi tebing-tebing kapur. Lokasinya dekat dengan situs purbakala berupa lukisan tangan manusia purba. Sosoknya mudah dikenali karena berkantung besar dengan panjang mencapai 27 cm dan lebar 14 cm. Makin ke pangkal, kantung makin menyempit sehingga bagian atas tampak menggembung.

Bagian depan kantung dihiasi sepasang sayap selebar 2 cm dan kadang mencapai 3 cm. Pada beberapa strain, sayap itu bergelombang. Bibir kantung mengilap, membulat, dan tebalnya mencapai 2 cm. Bibir alias peristom menebal pada sisi samping dan belakang kantung. Bibir juga diperkokoh rusuk selebar 2 mm yang memanjang pada bagian dalam bibir kantung membentuk tonjolan sepanjang 2 mm. Pada bagian belakang mulut kantung, peristom tampak terangkat.

Bagian luar kantung bawah biasanya hijau kekuningan, kuning, dan kadang-kadang jingga kemerahan. Ada pula yang dihiasi bercak-bercak merah gelap atau ungu. Bagian dalam kantung hijau kekuningan. Seringkali dengan kombinasi noda merah gelap, ungu, atau hitam. Sementara bibir berwarna kuning, ungu, atau hitam. Penutup kantung sewarna dengan bagian luar perangkap. Pada bagian bawah tutup terdapat noda ungu gelap. Kadang semua bagian sisi bawah perangkap hijau kekuningan atau kemerahan.

Di Teluk MacCluer, treubiana sebagian besar tumbuh di bagian atas tebing pulau-pulau kecil di sepanjang pantai. Kemungkinan treubiana memilih habitat itu untuk menghindari cipratan air laut. Namun, ada juga treubiana yang tumbuh hanya beberapa sentimeter di atas permukaan air laut dan terciprat air laut. Itu sangat luar biasa karena kebanyakan nepenthes tidak toleran terhadap salinitas atau kadar garam tinggi.

Di habitatnya itu treubiana dewasa tumbuh rimbun dan berbunga. Panjang tandan bunga mencapai 75 cm dan terdiri atas ratusan bunga kecil. Mereka berbunga berkali-kali tiap tahun sehingga menghasilkan banyak biji.

Namun, sulit menemukan treubiana muda. Diduga karena habitat tumbuhnya ekstrem, sehingga tingkat perkecambahan dan tumbuhnya tanaman baru rendah. Sebagian besar biji yang dihasilkan juga rentan jatuh dari tebing ke laut di bawahnya. Kemungkinan suatu biji jatuh di habitat yang cocok dan berkecambah pun kecil. Beruntung spesies itu menghasilkan biji dalam jumlah banyak sehingga masih berpeluang melahirkan generasi baru.

Perangkap rumit

Jika treubiana tumbuh di tepi laut,  klossii ditemukan jauh di pedalaman Papua. Spesies itu ditemukan pertama kali pada 1913 oleh Cecil Kloss, seorang ahli zoologi asal Inggris, saat ekspedisi ke Papua. Klossii dijumpai di daerah Paniai dan Merauke, serta tumbuh di lereng bawah Gunung Jayawijaya. Status konservasi spesies itu tidak diketahui karena habitatnya sangat terpencil dan susah diakses. Namun, kini populasinya terancam karena kerusakan hutan akibat pembangunan jalan dan bangunan baru.

Klossii menghasilkan kantung sepanjang 26 cm dan 7 cm lebarnya. Struktur kantung mirip N. aristolochioides, salah satu jenis kantung semar yang ditemukan di Taman Nasional Kerinci Seblat, Sumatera Barat. Pada kedua spesies itu, kantung memerangkap artropoda alias hewan berbuku-buku dengan bantuan cahaya.

Perbedaannya bentuk kantung klossii relatif lebih sempit dan memanjang dengan mulut lebih lebar. Lebar sayap pada bagian depan kantung mencapai 9 mm. Pada bagian tepinya terdapat filamen sepanjang 7 mm. Mulut berbentuk oval berdiameter 4 cm. Sementara tebal bibir kantung mencapai 14 mm dan menonjol di bagian dalam. Bibir diperkokoh dengan rusuk setinggi 1 mm, berjarak 1,5 mm satu sama lain. Permukaan daun dan kantungnya terasa seperti beludru lantaran tertutup rambut-rambut halus keemasan sepanjang 7 mm.

Warna kantung klossii juga mirip aristolochioides. Bagian luar kantung kuning kehijauan pucat dan tertutup noda-noda merah gelap atau ungu beragam ukuran yang memanjang. Permukaan bagian dalam kuning terang atau krem. Jaringan kantung dan bagian atas perangkap tipis sehingga tembus pandang. Akibatnya ketika terkena sinar matahari bagian dalam kantung menjadi terang. Noda-noda di bagian luar kantung pun dapat terlihat jelas dari dalam.

Bibir kantung klossii merah gelap atau ungu. Bagian atas tutup kantung kekuningan dan dihiasi bercak-bercak merah gelap. Sementara bagian bawah tutup lazimnya merah gelap atau ungu tanpa bercak.

Klossii memangsa serangga dengan proses yang rumit. Bibir dan bagian bawah tutup mensekresikan nektar untuk menarik serangga hinggap di mulut kantung. Tutup yang terletak di atas mulut kantung lebar sehingga menimbulkan bayangan tepat di pintu masuk perangkap.

Saat serangga mengisap nektar di bibir kantung, ia malah tertarik masuk ke dalam kantung yang sangat terang. Serangga menduga itu jalan keluar menuju kebebasan. Padahal, di sanalah maut menjemput. Ia akhirnya terjebak dalam cairan di dalam kantung yang mampu mengurai tubuh serangga jadi makanan bagi klossii. Kebanyakan serangga yang terjebak adalah aneka jenis lalat kecil.

Keberadaan treubiana dan klossii di tempat terpencil memberi perlindungan sementara bagi keberlangsungan hidupnya. Namun, kelestarian dua pemangsa cantik dari tanah Papua itu tetap bergantung pada upaya kita menjaga habitat tempat mereka tumbuh.***

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img