Trubus.id—Periset dari Program Studi Magister Bioteknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Udayana, I Gusti Agung Oka Hendrawati, S.P., M.P., dan I Dewa Nyoman Darmayasa, S.P., M.P., mengkaji campuran biourine dan agen pengendali hayati pada tanaman cabai rawit.
Dewa mengatakan, riset yang dilakukan pada 2019 itu bertujuan menghadirkan alternatif pengendali hama dan penyakit cabai yang ramah lingkungan.
Penelitian yang dilaksanakan di Desa Sanur Kaja, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar, Provinsi Bali, itu berada di lahan berketinggian tempat 0—7 meter di atas permukaan laut (m dpl).
Dewa dan tim menggunakan urine sapi segar yang difermentasi dengan campuran daun dan agen pengendali hayati sebagai perlakuan.
Bahan alami yang digunakan yakni campuran bumbu khas Bali seperti bawang merah, bawang putih, cabai, lengkuas, kencur, jahe, kunyit, serai, lada, cengkih, jeringau, dan kayu manis.

Masyarakat bali menyebut campuran anke bumbu itu dengan sebutan base genep atau bumbu yang lengkap. Selain itu ada daun mimba, trichoderma, tembakau, Bacillus thuringiensis, Beauveria bassiana, dan daun sirsak.
Tim peneliti meracik biourine dengan perbandingan 10 liter biourine dan 1 liter larutan ekstrak daun dan agen hayati. Setelah 1 bulan, campuran bahan organik itu siap digunakan.
Dosisnya 100 ml biourine dilarutkan dalam 1 liter air untuk aplikasi pada tanaman cabai rawit berumur 7 HST dan diberikan rutin saban pekan sampai panen.
Campuran biourine dan base genep menunjukkan produktivitas tertinggi dengan nilai 5,50 ton/ha dengan persentase kerusakan daun paling rendah yaitu 20%.
Base genep memiliki senyawa yang berpotensi sebagai pestisida dan berfungsi sebagai antibiotik. Rasa getir base genep melindungi daun dari serangan hama yang menyebabkan sensasi terbakar bagi serangga.
Senyawa capsaicin, saponin, flavonoid, tanin, gingerol dan eugenol dalam base genep juga bermanfaat sebagai senyawa zat pengatur tumbuh (ZPT) yang membantu pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai.
