Thursday, January 29, 2026

Bawang Merah Tumbuh Tanpa Tanah

Rekomendasi
- Advertisement -

Menanam bawang merah dengan teknologi hidroponik. Produksi menjulang.

Trubus — Ismi Sufi Diyan Fitri dan perempuan-perempuan muda di Desa Margaasih, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, giat menanam bawang merah. Mereka tidak khawatir kepanasan atau belepotan tanah sehingga tangan kotor. Harap mafhum, mereka membudidayakan bawang merah tidak di tanah, melainkan menerapkan teknologi hidroponik.

Sistem budidaya tanpa tanah itu lazimnya untuk mengembangkan sayuran daun seperti bayam dan kangkung. Padahal, membudidayakan sayuran umbi seperti bawang merah dengan hidroponik bukan hal mudah. Umbi bawang merah rentan busuk jika selalu terendam air. Petani hidroponik di Kota Depok, Jawa Barat, Charlie Tjendapati, merakit kombinasi sistem hidroponik sumbu alias wick system dan dutch bucket untuk mereka.

Kombinasi

Charlie menuturkan, sistem sumbu merupakan teknologi sederhana. Sistem sumbu mengandalkan kapilaritas, mirip kompor minyak tanah yang menggunakan sumbu. Pada sistem itu sumbu menghubungkan antara larutan nutrisi di bak penampung dengan media tanam. Oleh karena itu, sistem sumbu bersifat pasif alias tidak ada bagian yang bergerak seperti pada sistem nutrient film technique.

Bawang merah hasil budidaya hidroponik yang siap panen. (Dok. Charlie Tjendapati)

Adapun sistem dutch bucket memakai sistem sirkulasi air nutrisi dari tandon air ke masing-masing pot tanaman. Jadi, pada sistem kombinasi itu nutrisi mengalir dari tandon ke setiap pot. Lalu sumbu akan meneruskan nutrisi ke media tanam. Model hidroponik dutch bucket yang memiliki jalur rotasi air masuk-keluar menggunakan pompa tepat untuk rancangan sistem skala komersial.

Charlie menyebut sistem hidroponik rancangannya itu sistem sumbu terotomatisasi. Menurut Charlie 240—300 pot cukup untuk memulai skala komersial. Namun, menggunakan wick system saja sangat repot mengecek ketersediaan dan menambah nutrisi ratusan pot. “Otomatisasi seperti ini juga tidak perlu tenaga kerja yang banyak,” ujar pendiri Hidroponikita itu.

Sistem wick terotomatisasi itu juga hemat biaya produksi lantaran efektif dan efisien bahan. Pengguna hanya perlu menyalakan pompa tiap sore selama 15 menit sehingga larutan nutrisi dalam sistem berotasi. Lumut jadi sukar untuk tumbuh.  Ismi menggunakan 117 bekas wadah es krim setinggi 24 cm dan lebar 20 cm. Di atas pot itu, Ismi dan rekan meletakkan sebuah pot berukuran lebih kecil dan berdiameter 20 cm.

Di pot atas itulah ia menanam bawang merah bermedia tanam serbuk sabut kelapa atau cocodust. Setiap pot terdiri atas 1 umbi sebagai bibit. Pot-pot itu berjajar di sebuah greenhouse berukuran 5 m x 10 m. Di bagian bawah pot terdapat sumbu untuk mengalirkan nutrisi tanaman. Ismi menggunakan nutrisi AB mix dengan EC 2—2,5 hingga panen.

Produksi tinggi

Setelah 70 hari penanaman bibit bawang, Ismi Sufi Diyan Fitri dan kawan-kawan panen perdana pada 15 Agustus 2019. Mereka menuai 68,85 kg umbi dari 117 pot. “Kalau dirata-ratakan panen masing-masing pot 570 gram,” kata Ismi yang menjadi ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Cumantel. Ismi mengatakan, produktivitas itu relatif tinggi. Beberapa rumpun malah menghasilkan 1,1 kg.

KWT Cumantel memiliki 240 pot tanam hidroponik. (Dok. Charlie Tjendapati)

Data Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian menunjukkan, produktivitas bawang merah nasional 9,47 ton per ha. Jarak tanam 15 x 15 cm, berarti tiap rumpun Allium cepa var. aggregatum memiliki bobot sekitar 21 gram. Sebelum menerapkan kombinasi sumbu dan dutch, Charlie menerapkan sistem sumbu. Ketika itu Charlie hanya menuai 300—400 gram per rumpun. Bandingkan dengan hasil hidroponik Ismi dan rekanan menggunakan sistem kombinasi rata-rata 570 g. Sayang, Ismi tidak mengetahui varietas bawang merah karena hanya membeli di pasaran.

“Semula kami kurang yakin bakal berhasil menanam bawang merah dengan hidroponik karena cuaca di sini dingin karena dataran tinggi. Bawang merah biasanya tumbuh di dataran rendah,” kata ketua kelompok tani di Desa Naluk, Kecamatan Cimalaka, Sumedang, Iwan Ruhiyat Purnama. Iwan dan sekumpulan petani yang juga mengelola hidroponik bawang merah rakitan Charlie merasakan perbedaan bawang merah hasil hidroponik ketika digoreng lebih renyah dan tidak gampang layu ketimbang bawang biasa.

Menurut Charlie biaya untuk pembangunan dan kebutuhan sistem dutch bucket-wick juga ekonomis. “Paket setiap pot dihitung Rp25.000. Larutan nutrisi hanya butuh 1 kg per bulan dengan harga Rp50.000 per kg,” ujar Charlie. (Tamara Yunike)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img