Trubus.id — Beras pratanak dengan indeks glikemik rendah dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah hasil panen sekaligus mendorong kesejahteraan petani. Inovasi tersebut dikembangkan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (FPIK UNDIP) bersama Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT).
Pembina SPPQT, Bahruddin, mengatakan pengembangan beras pratanak dilatarbelakangi kelangkaan pupuk yang memicu tingginya biaya produksi dan menyulitkan petani dalam mempertahankan produktivitas pangan.
Menurut Bahruddin, peningkatan nilai gizi dan kualitas beras dapat menghasilkan harga jual yang lebih baik. Kondisi tersebut diharapkan turut meningkatkan harga gabah di tingkat petani.
“Kesetimbangan harga dan kualitas beras ini secara otomatis dapat meningkatkan harga dasar gabah yang sekaligus memberikan solusi petani terhadap biaya produksinya,” ujar Bahruddin dalam lokakarya perencanaan usaha Rumah Produksi FPIK UNDIP.
Beras pratanak diproses sejak gabah dalam kondisi kering panen. Gabah terlebih dahulu dicuci dan direndam selama beberapa jam. Selanjutnya, gabah dikukus menggunakan suhu tinggi, kemudian dikeringkan dan digiling hingga menghasilkan beras pratanak.
Proses perendaman dan pengukusan membuat sebagian zat gizi dari lapisan kulit padi masuk ke bagian dalam biji beras. Tahapan pengolahan tersebut juga mengubah struktur pati sehingga menghasilkan beras dengan indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan beras putih biasa.
Beras pratanak memiliki karakter nasi yang lebih padat dengan butiran terpisah dan tidak mudah lengket setelah dimasak. Karakter tersebut membuatnya sesuai untuk berbagai olahan, seperti nasi goreng dan nasi kebuli.
Selain itu, perubahan struktur pati membuat nasi tidak mudah menggumpal ketika dipanaskan kembali. Proses pengolahan juga membuat beras lebih tahan disimpan.
Pengembangan beras pratanak tersebut merupakan bagian dari pendampingan FPIK UNDIP terhadap Rumah Produksi Kelompok Belajar Qaryah Thayyibah (KBQT). Pendampingan dimulai pada 2025 melalui pembekalan dasar kelayakan usaha serta penerapan analisis bahaya dan pengendalian titik kritis untuk mendukung keamanan produksi pangan.
Pada awal 2026, pendampingan berlanjut melalui studi kelayakan usaha dan penyusunan perencanaan usaha berbasis pertanian hijau dan biru. Dari rangkaian lokakarya pada Maret, April, hingga Mei 2026, dikembangkan lima produk unggulan, yakni beras pratanak rendah indeks glikemik, pertanian terpadu berupa susu sehat dan rumput Gama Umami, gula rendah indeks glikemik, empon-empon, serta budidaya ikan nila salin (Oreochromis niloticus).
Sebagai langkah lanjutan, FPIK UNDIP menggelar lokakarya perencanaan usaha pada Juli 2026. Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan penyusunan rencana kerja pada 19 September 2026 yang berfokus pada pengembangan dan operasionalisasi lima produk tersebut.
Pengembangan inovasi itu juga mendapat perhatian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Prof. Y Sardjono dari BRIN menjajaki kerja sama hilirisasi melalui pengembangan percontohan produksi obat herbal berbasis kulit jeruk Japan yang dibahas pada 2 Oktober 2026 di Yogyakarta.
Untuk memperkuat pengembangan usaha, FPIK UNDIP dan SPPQT sepakat mendirikan PT Agro Tekno Lestari sebagai perusahaan induk pada 3 Oktober 2026.
Ketua Tim Pengabdian FPIK UNDIP dan mitra pembinaan Rumah Produksi Qaryah Thayyibah, Prof. Dr. Ir. Nur Taufiq-Spj, M.App.Sc., mengatakan program pendampingan diarahkan untuk mendorong lahirnya inovasi pangan berbasis riset yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat.

“Melalui pendampingan di Rumah Produksi Qaryah Thayyibah, kami mendorong penerapan teknologi beras pratanak dengan indeks glikemik rendah agar mampu menghasilkan beras sehat bernutrisi tinggi, sekaligus meningkatkan taraf ekonomi para petani binaan secara berkelanjutan,” kata Prof. Taufiq.
Prof. Taufiq menambahkan, FPIK UNDIP berupaya memastikan proses produksi beras pratanak rendah indeks glikemik memenuhi standar kualitas, efisien dari sisi biaya, serta mampu memberikan nilai tambah bagi petani dan masyarakat.
Pengembangan tersebut juga diarahkan untuk memberikan manfaat lebih luas, mulai dari peningkatan ekonomi petani dan nelayan, penguatan usaha berbasis potensi lokal, hingga penciptaan lapangan pekerjaan.
Kolaborasi FPIK UNDIP dan SPPQT juga mendukung penerapan prinsip konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab melalui konsep pertanian hijau dan biru. Inisiatif tersebut diharapkan dapat memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus mendorong pengembangan produk pangan yang ramah lingkungan.
