Monday, August 8, 2022

Berburu Durian Bintang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Durian si bintang milik Mohammad Ajid HMA menjadi rebutan para maniak durian.
Durian si bintang milik Mohammad Ajid HMA menjadi rebutan para maniak durian.

Amarah pengunjung lapak Durian Jatohan Ajid (DJA) di Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, itu sudah tak terbendung. Suara keras meledak-ledak. Pengunjung itu berhasrat memborong seluruh durian si bintang. Tawaran harga fantastis, yakni Rp150.000 per buah. Harga itu tiga kali lipat harga durian kualitas biasa. Pohon induk si bintang rata-rata menghasilkan 400 buah, Rp60-juta di depan mata Ajid.

Pengunjung itu kesal karena Mohamad Ajid HMA, pemilik DJA, menolak permintaannya. Mengapa Ajid menolak? “Saya menolak seluruh durian diborong agar pencinta durian lain bisa mencicipinya,” katanya. Gagal membujuk Ajid, pengunjung pulang dengan memendam kemarahan. “Hari berikutnya saya menerima puluhan pesan singkat penuh makian dari pengunjung itu melalui telepon genggam,” katanya.

Ajid menuturkan bukan kali itu saja ada pelanggan yang ingin memborong si bintang. “Ada pelanggan lain yang menawar lebih mahal, hingga Rp400.000 per buah,” tuturnya. Meski tawarannya sangat menggiurkan, Ajid lagi-lagi menolak. Iwan Subakti, penjelajah durian asal Kabupaten Serang, Provinsi Banten, paham betul para pelanggan memperebutkan si bintang.

Durian si ketan bayong, daging buahnya lengket seperti ketan.
Durian si ketan bayong, daging buahnya lengket seperti ketan.

Iwan pernah mencicipi si bintang. Citarasa Durio zibethinus itu memang “bintang”. “Umami si bintang komplet. Rasanya macam-macam yang didominasi manis dengan sedikit pahit,” ujar Iwan. Warna daging buah yang kuning turut menggugah selera. “Keunggulan lain kualitas buah stabil. Rasa buah dari tahun ke tahun relatif sama,” kata Iwan. Sayangnya saat Trubus berkunjung ke DJA pada pertengahan Januari 2016 si bintang masih muda.

Ajid memperkirakan si bintang mulai jatuh pada Maret 2016. “Meski buah masih muda, sebanyak 50% buah sudah dipesan pelanggan,” kata Ajid. Iwan menuturkan si bintang juga layak dikembangkan karena berbuah lebat. Setiap musim berbuah Ajid rata-rata memanen hingga 400 buah. Si bintang hanya salah satu nama durian unggulan DJA. Ajid masih menyimpan durian-durian lezat di kebun miliknya yang mencapai 40 ha.

Tekstur daging buah si bolu sedikit berserat.
Tekstur daging buah si bolu sedikit berserat.

Lokasi kebun tersebar di Serang dan Pandeglang. Ajid mengajak Trubus ke salah satu kebun di Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang. Untuk menuju ke kebun itu Trubus harus melewati jalan aspal yang lebarnya hanya pas untuk satu jalur mobil. Jalan itu melewati pemukiman yang cukup padat di kawasan wisata Pantai Anyer. Di ujung pemukiman jalan aspal berakhir dan berlanjut jalan berbatu dan tanah yang menanjak.

Sekitar 1 km dari jalan aspal, Ajid yang memandu rombongan menghentikan mobil. Perjalanan berlanjut menuju saung tempat para penunggu kebun dengan berjalan kaki. Di salah satu sudut saung tampak tumpukan durian yang jatuh dua hari yang lalu.

Sebagai jamuan pembuka, seorang anak buah Ajid lalu membuka durian. Bentuk durian itu hampir bulat dengan permukaan bagian dasar buah agak rata sehingga buah dapat diletakkan dalam posisi tegak. Saat terbelah tampak daging buah berwarna kuning menggoda. “Ini namanya si bolu,” tutur Ajid. Trubus bersama Iwan Subakti masing-masing mengambil sebuah pongge dan menyantapnya. Saat digigit daging buah terasa lembut dengan sedikit berserat. “Daging buah kurang lengket. Harus dikurangi kadar airnya,” kata Iwan. Ajid pun membuka durian kedua. Kali ini ia menyodorkan si blue band yang diambil dari merek produk margarin.

Durian si bolu berdaging kuning dari kebun milik Ajid di Anyer, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
Durian si bolu berdaging kuning dari kebun milik Ajid di Anyer, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.

Disebut demikian karena warna daging buah berwarna kuning mirip mentega. Namun, nama itu beda dengan durian blue band yang menjadi juara pada kontes durian yang diselenggarakan di kawasan hutan lindung Sesaot di Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, pada 9 Januari 2016. Sayang, yang disodorkan Ajid kali ini warnanya kurang optimal sehingga tampak lebih pucat.

Warna daging buah si blue band kalah kuning dibandingkan si bolu. Namun, saat Trubus mencicip rasa blue band lebih unggul daripada si bolu. Daging buahnya lebih lengket, tapi sama-sama sedikit berserat. Pada bagian antara biji dan daging buah terdapat selaput yang terasa renyah, tapi tidak terlalu tebal. Citarasa si blue band dominan manis. Berikutnya Ajid menyodorkan si ketan bayong.

Tekstur daging buahnya lengket seperti ketan. Sementara kata bayong berarti ikan gabus dalam bahasa Banten. Ia menyerupakan dengan gabus karena sosok pongge si ketan bayong memanjang, tidak membulat seperti si bolu atau si blue band. Saat Trubus mencicip tekstur daging buahnya memang lengket dan nyaris tanpa serat. Rasanya manis dan sedikit pahit di ujung. Pendapat serupa disampaikan Iwan.

Durian si blue band, rasa dominan manis.
Durian si blue band, rasa dominan manis.

“Dari segi rasa si ketan bayong juara dibandingkan si bolu dan blue band. Namun, warna daging buahnya putih,” kata Iwan. Saat sedang asyik mencicip si raja buah jamuan Ajid, tiba-tiba terdengar bunyi “buk”. Rupanya ada durian yang jatuh di dekat lokasi saung. Karyawan Ajid bergegas menuju sumber suara. Sesaat kemudian ia kembali seraya menenteng sebuah durian berbentuk lonjong.

Durian itu langsung dibuka, dan wow… tampak daging buah berwarna kuning sedikit jingga dengan pemukaan seperti berkerut. Penampilan daging buah seperti itu menggugah selera maniak durian karena berdaging basah, tapi terasa lengket. Benar saja. Ketiga dicicip daging buah terasa basah dan lengket, tapi sedikit berserat dan bertepung. Rasa daging buahnya dominan manis.

Si nangka, warna daging buahnya atraktif.
Si nangka, warna daging buahnya atraktif.

“Mungkin rasa seperti bertepung dan hanya manis itu karena buah baru saja jatuh. Jika disimpan 1—2 malam kemungkinan rasa tepungnya akan hilang dan muncul sedikit pahit,” tutur Iwan. Karena warna daging buahnya kuning kejinggaan, Ajid menyebutnya si nangka, merujuk pada warna daging buah tanaman anggota famili Moraceae itu. Sayangnya daging buah si nangka relatif tipis. Durian si nangka menjadi jamuan terakhir di kebun Ajid seluas 14 hektare itu. “Durian unggulan lainnya belum ada yang jatuh,” tutur Ajid. Ia memperkirakan musim panen puncak pada Maret 2016.

Sebagian besar pohon durian di kebun Ajid itu tumbuh di lahan yang miring. Menurut ahli durian dari Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, Dr Lutfi Bansir SP MS, kondisi lahan yang miring sangat ideal untuk menghasilkan durian berkualitas. “Pada lahan miring, ketika sedang musim hujan air tidak akan menggenangi pohon karena langsung mengalir ke daerah yang lebih rendah. Dengan begitu rasa durian tidak terlalu terpengaruh saat musim hujan,” kata Dekan Fakultas Pertanian Universitas Kalimantan Utara itu.

Tekstur daging buah si nangka, lengket, sedikit berserat, tapi berdaging tipis.
Tekstur daging buah si nangka, lengket, sedikit berserat, tapi berdaging tipis.

Lutfi menuturkan pengembangan kebun durian di Malaysia saat ini juga mengarah ke lokasi-lokasi berlahan miring. “Selain ideal untuk menghasilkan durian berkualitas, juga berperan untuk mencegah bencana longsor di lahan-lahan miring,” ujar doktor alumnus Universitas Brawijaya itu. Namun, Lutfi menyaratkan di lahan miring itu harus tersedia pasokan air yang cukup, terutama saat kemarau.

Lokasi lahan yang relatif dekat dengan laut juga menjadi kelebihan lokasi kebun milik Ajid. Kebun durian seperti itu mirip dengan kebun-kebun durian di Pulau Pinang, Malaysia. Durian yang dihasilkan kebun-kebun itu sebagian besar memiliki citarasa istimewa. Lutfi menduga angin laut yang membawa kandungan garam dan mineral dari laut dapat memberi rasa gurih dan memperbaiki warna pada durian yang dihasilkan.

Si tangkil, mungil bercitarasa pahit.
Si tangkil, mungil bercitarasa pahit.

Dari kebun durian Ajid, perjalanan menelusuri potensi durian di Provinsi Banten berlanjut ke daerah Kecamatan Kaduhejo, Kabupaten Pandeglang. Dari nama daerahnya saja menunjukkan di daerah itu populasi kadu—berarti durian dalam bahasa Sunda—melimpah. Di Pandeglang terdapat 10 kecamatan yang merupakan sentra durian.

Tanaman tersebar di berbagai lokasi seperti pemukiman, perbukitan, dan hutan. Populasi durian di Pandeglang terbanyak di Provinsi Banten. Dari jalan raya Pandeglang—Serang, Iwan mengajak Trubus melewati jalan aspal sempit. Dari jalan raya itu mobil berhenti di sebuah lapangan. Di sekeliling lapangan itu tampak deretan pohon-pohon durian yang tinggi menjulang.

Dari lapangan itu Iwan mengantar Trubus ke sebuah kebun durian milik warga Jakarta yang dikontrakkan ke pengepul durian, Robiyana Wahid. Di perjalanan menuju kebun, Trubus menjumpai pohon durian raksasa yang pangkal batangnya kira-kira tiga pelukan orang dewasa. Pohon itu tumbuh persis di pinggir jalan setapak. Sayangnya saat Trubus berkunjung tidak ada buah yang jatuh. Menurut Robi durian unggulan dari kebun itu ada 3 jenis, yaitu si lumut, elvi, si nangka, dan si gembol.

Durian yang akan dikirim ke Jakarta.
Durian yang akan dikirim ke Jakarta.

Beruntung di dekat lokasi kebun Robi ada kebun durian yang dikontrak Mohamad Yusuf Hidayat dan ada buah yang jatuh. Ucu—sapaan Yusuf—lalu menyodorkan 3 buah durian yang ia sebut si tangkil. Disebut demikian karena durian itu berukuran mungil dan berbentuk lonjong mirip buah tangkil yang dalam bahasa Indonesia berarti melinjo. Daging buah si tangkil berwarna putih. Namun, rasanya cocok untuk penyuka durian dengan sensasi rasa pahit. Ketebalan daging buah bervariasi karena ada beberapa pongge yang berbiji kempet.

Selama perjalanan menelusuri durian di Provinsi Banten, pohon anggota famili Malvaceae itu mudah sekali ditemukan. Menurut Iwan sejak zaman dahulu Kabupaten Serang dan Pandeglang gudangnya durian di Provinsi Banten. “Itu terbukti banyak sekali nama daerah berawalan kata kadu yang berarti durian, terutama di Kabupaten Pandeglang,” ujar pria yang juga tokoh pelestari benda-benda cagar budaya Banten itu.

Iwan Subakti, penjelajah durian asal Serang, aktif mengidentifikasi durian unggul Banten.
Iwan Subakti, penjelajah durian asal Serang, aktif mengidentifikasi durian unggul Banten.

Contohnya nama Kecamatan Kaduhejo, Desa Kaduela dan Kaduengang di Kecamatan Cadasari, Desa Kadubelang dan Kadujangkung di Kecamatan Mekarjaya, serta Desa Kadubale, Kadulimus, dan Kadumaneuh di Kecamatan Banjar. Menurut Ir Wijaya MS, penangkar buah di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, nama Banten sebagai gudangnya durian enak sudah terkenal sejak awal Indonesia merdeka.

Salah satu yang melegenda adalah durian si potret yang berasal dari Desa Sukacai, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang. Durian itu konon menjadi kegemaran Presiden Soekarno. Sayang, pohon induk si potret mati akibat tersambar petir. Untuk menyeleksi durian-durian unggul di Provinsi Banten, pemerintah Kabupaten Pandeglang dan Serang menyelenggarakan kontes durian.

Pada 11 Januari 2010 Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Pandeglang menggelar kontes durian yang diikuti 43 peserta. Pada kontes itu muncul nama durian si radio milik H Ahmad sebagai juara pertama, si seupah milik Ading juara kedua, dan si jabrig milik H Asari juara ketiga. Sejak menjadi juara kontes itu ketiga durian itu kini menjadi sohor dan incaran para maniak durian.

Pohon induk si radio berumur sekitar 70 tahun.
Pohon induk si radio berumur sekitar 70 tahun.

Keunggulan si radio kembali teruji pada ajang Festival Durian Banten 2015 yang diselenggarakan pada 7 April 2015. Sayangnya saat Trubus berkunjung ke pohon induk si radio dan si jabrig pada pertengahan Januari 2016 ukuran buah rata-rata masih sekepalan tangan orang dewasa. “Mudah-mudahan pada Maret 2016 sudah ada yang matang sehingga bisa diikutkan lomba,” ujar Iwan.

Iwan berpendapat potensi durian Banten harus dikembangkan ke arah komersial. Apalagi lokasi Provinsi Banten dekat dengan ibukota yang menjadi pusat konsumsi. Para maniak durian dari Jakarta bisa menempuh perjalanan ke Serang dan Pandeglang hanya dalam waktu 2 jam. Antusias warga ibukota yang ingin mencicip durian Banten terbukti saat masa liburan nasional menyambut tahun baru 2016. “Pada saat liburan tahun baru saya menjual hingga 3.000 durian,” tutur Ajid.

Durian Banten terkenal karena durian jatuhannya, bukan hasil petikan.
Durian Banten terkenal karena durian jatuhannya, bukan hasil petikan.

Iwan mengatakan upaya pengembangan durian secara komersial sebetulnya sudah dimulai sekitar 15 tahun lalu. Ia menemukan kebun durian seluas 95 hektare di daerah Anyer. “Di kebun itu bahkan tumbuh durian-durian introduksi dari Malaysia dan Thailand,” kata Iwan. Durian introduksi juga Trubus temukan saat mengunjungi salah satu kebun di Desa Kadubeureum, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang. Di sana tumbuh durian kob asal Thailand yang diperkirakan berumur sekitar 30 tahun. Ciri khas durian yang ditanahair dikenal dengan nama kani itu dapat dikenali dari pola spiral pada bagian bawah batang sehingga tampak seperti terpelintir.

Moh. Ajid HMA, pemilik toko Durian Jatohan Ajid (DJA) yang populer di Pandeglang.
Moh. Ajid HMA, pemilik toko Durian Jatohan Ajid (DJA) yang populer di Pandeglang.

Untuk melestarikan durian-durian unggul di Banten, Iwan bersama rekan-rekan di Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Greentool melakukan perbanyakan dengan teknik sambung sisip. “Bibit hasil perbanyakan tersebut kami bagikan ke para petani di daerah sekitar lokasi pohon induk,” ujar Iwan yang juga menjadi Direktur LPM Greentool. Iwan menuturkan upaya itu melahirkan keturunan durian unggul Banten seperti si potret, si radio, dan si bintang.

“Bahkan keturunan si potret sudah ada yang menghasilkan buah,” tuturnya. Namun, buah yang dihasilkan tidak sesempurna pohon induknya. “Itulah kesulitan memperbanyak durian lokal. Hasil buahnya tidak sama dengan induknya,” kata pria yang juga gemar fotografi itu. Dengan upaya pelestarian itu diharapkan dapat memperpanjang sejarah Banten sebagai surganya kadu. Beragam durian seperti blue band, bolu, tangkil, dan ketan bayong tetap lestari sebagai durian bercitarasa “bintang”. (Imam Wiguna)

H Ahmad (berpeci), pemilik pohon induk si radio.
H Ahmad (berpeci), pemilik pohon induk si radio.
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img