
Dua belas tahun menggeluti adenium. Meski pandemi Glen Hayat tetap memamen hasil.

Trubus — “Setiap bulan permintaan adenium 1.500—2.000 tanaman, padahal maksimal yang bisa kami penuhi 1.500 tanaman saja,” kata Glen Hayat. Pengusaha tanaman hias di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, itu kewalahan melayani permintaan pelanggan. Glen mengatakan, justru saat pandemi korona permintaan naik 30%. Ketika pandemi banyak orang bekerja di rumah dan merawat adenium sebagai pelampiasan.
Menurut petani adenium sejak 2003 itu setiap hari 5—10 pelanggan mendatangi nurserinya. Mereka masing-masing meminta 100—250 tanaman. Oleh karena itu, ia belum sanggup melayani semua permintaan pelanggan. Glen terpaksa membatasi setiap pembeli borongan hanya bisa mengambil 40—50 tanaman setiap pekan. Pembeli borongan antara lain pedagang adenium yang memesan tanaman secara daring.
Komposisi berubah
Selain itu masih ada konsumen yang datang ke rumahnya. “Setiap hari pasti ada saja yang ke rumah dan setidaknya terjual 1—2 tanaman,” kata petani berumur 37 tahun itu. Pengunjung merupakan pehobi yang ingin membeli tanaman untuk konsumsi pribadi. Bahkan, ada yang jauh-jauh datang dari Semarang, Jawa Tengah, berjarak hampir 364 km. Ia terpaksa harus menutup nurseri pada Ahad agar dapat beristirahat.
Konsumen Glen dari berbagai wilayah. Pada umumnya pembeli daring dari luar Jawa seperti Sulawesi dan Papua. Ayah dua anak itu mengatakan, dahulu konsumen lebih banyak pedagang ketimbang konsumen langsung dengan rasio 70:30. Namun, kini rasio keduanya berimbang dengan komposisi 50:50. Glen mengatakan, selama masa pandemi pembeli meminati adenium berharga kurang dari Rp100.000.

Harga itu untuk tanaman ukuran bonggol 3—5 cm dan berbunga atau ukuran A. Jenisnya antara lain adenium tumpuk black lady, yellow happy gold, dan blushing. Meski begitu ada juga yang membeli adenium eksklusif berharga hingga Rp25 juta. Glen pernah melepas sebatang Adenium somalense yang penuh bunga dengan harga fantastis pada September 2020.
Masyarakat menjadikan adenium pilihan koleksi lantaran terjangkau dan memiliki banyak varian bentuk maupun warna. Apalagi pada 2020 banyak varian adenium seperti adenium kumbang, lumintang, dan mayura. Beberapa varian itu hasil penyilang lokal. Belum lagi introduksi dari mancanegara seperti Thailand, Vietnam, dan Taiwan. Glen memperbanyak adenium dengan teknik sambung sisip.
Petani kelahiran Gresik itu mampu memperbanyak 1.000 tanaman per hari. Dua setengah bulan sejak perbanyakan, tanaman memunculkan setidaknya 5 daun. Ketika itulah Glen menjual tanaman. Konsumen tidak selalu menghendaki mawar gurun—julukan adenium—yang berbunga. Mereka tetap memesan tanaman meski tanpa bunga, asalkan varian bunga sesuai permintaan.
Selain pasar domestik, Glen kini juga menjajaki pasar ekspor. Ia menyiapkan tanaman untuk memasok pasar Singapura dan Korea Selatan masing-masing 2.000—2.500 tanaman. Pasar mancanegara meminta adenium jenis A. obesum dan A. arabicum. Ia memperoleh pasar ekspor dengan cara bekerja sama dengan rekan bisnis yang merupakan pembeli langganan. Glen juga pernah mengekspor adenium pada 2010—2014 ke Singapura dan Korea Selatan.
Media sosial

Glen memasarkan tanaman anggota famili Apocynaceae itu melalui media sosial. Ia mengunggah koleksi dan dagangannya. Mereka yang penasaran mengenai cara perawatan dan varian adenium tinggal menggerakkan jari untuk membaca informasi atau menonton video di media sosial. “Dari Youtube dan Facebook mereka mencari saya dan ingin berkunjung ke kebun untuk melihat varian-varian adenium yang mereka cari secara langsung,” kata Glen.
Menurut Glen hambatan berbisnis adenium adalah meningkatnya harga bahan atau bibit untuk sambungan. Harga normal sebelum pandemi Rp10.000, kini dengan spesifikasi kualitas yang sama melonjak Rp12.000. Selain itu ancaman bagi Glen adalah kehilangan kepercayaan pelanggan baru karena banyak oknum di dunia maya yang dengan sengaja menipu.
Penipuan itu berupa foto tanaman yang diungah dan yang dikirimkan berbeda jenis. “Kami harus selalu bisa menjamin barang yang kita kirimkan, meskipun belum berbunga, akan sesuai dengan permintaan pelanggan yang menghendaki warna atau bentuk bunga varian tertentu,” kata Glen. Selain itu, sesama petani berebut bahan sambungan karena jumlah petani dan jumlah bahan tani terbatas. Glen menanggulanginya dengan menyeimbangkan jumlah penjualan dan kecepatan bertani, tanpa mengurangi kualitas adenium. (Tamara Yunike)
