Para pencinta ular dan reptil lain melakukan aksi penyelamatan dan edukasi kepada masyarakat.

Apa yang harus dilakukan ketika menemukan ular masuk ke dalam rumah? Menghubungi Komunitas Aspera salah satu solusi. Komunitas itu menyelamatkan ular dan reptil lain serta mendidik masyarakat. “Menemukan ular atau reptil lain di pemukiman seharusnya tidak takut, cukup waspada. Selama tidak ada gangguan, ular dan reptil lain tentu tidak menyerang untuk melindungi dirinya,” kata Ketua Komunitas Aspera, Roy Silalahi.

Komunitas Aspera memang kerap membantu melakukan penangkapan dan penyelamatan ular. “Penyelamatan reptil seperti itu cukup sering kami lakukan. Dalam sepekan terakhir ada sekitar 3 panggilan di wilayah Jakarta dan sektarnya,” kata Kepala Divisi Edukasi dan Kesekretariatan Komunitas Aspera, Aswad Andrianto. Setelah penangkapan reptil, Aspera melepasliarkan kembali ke alam atau memelihara untuk sarana edukasi.
Pengenalan reptil
Menurut Andri panggilan penyelamatan reptil berasarkan tingkat kedaruratan.Ketika Aspera mendapat informasi mengenai ular di pemukiman, diharapkan pelapor dapat membantu mengidentifikasi berdasarkan ciri-ciri fisik dari ular yang ditemukan. “Bila ular itu tidak berbahaya, tentu masih bisa ditangani sendiri. Tetapi kalau membahayakan, meskipun dengan keterbatasan waktu dan jarak, kami pasti usahakan untuk membantu,” papar Roy.

Nama komunitas itu berasal dari nama spesies ular boa tanah papua, yakni Candoia aspera. Tubuh aspera sepanjang 60—80 cm, warna cokelat gelap bercorak kemerahan. Satwa anggota keluarga Boidae itu ular asli Indonesia. Ular endemik itu sohor dengan sebutan mono tanah, tidak berbisa, dan gigitannya cukup berbahaya karena dapat menyebabkan luka yang cukup serius.

Komunitas Aspera berdiri pada 28 Desember 2012. Kini anggota komunitas itu mencapai 25 orang yang tersebar di berbagai wilayah seperti Kota Depok, Kabupaten Bogor, Jakarta, dan Tangerang. Para pencinta reptil itu aktif di berbagai kegiatan yaitu edukasi, herping atau eskplorasi di suatu wilayah untuk menidentifikasi spesies yang ditemukan, sweeping (panggilan pembersihan wilayah biasanya pemukiman berdasarkan panggilan dari warga setempat), dan rescue (upaya penyelamatan reptil).
Edukasi diadakan di lingkungan terbuka atau menerima undangan dari institusi pendidikan dari mulai anak-anak hingga umum. “Selama ini banyak stigma negatif dan mitos yang melekat pada ular. Untuk meluruskan itu kami tergabung di Aspera” kata Roy Silalahi. Komunitas memberikan informasi mengenai identifikasi spesies reptil dan pertolongan pertama pada gigitan ular kepada masyarakat.
Ensiklopedi reptil
Kegiatan lain berupa Camping Herpetofauna (CampHerp) pada 2017. Dengan kuota peserta sebanyak 50 orang, aktivitas yang berlangsung di Gunung Pancar, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. CampHerp merupakan kegiatan yang pertama kali diadakan oleh Komunitas Aspera yang juga bekerja sama dengan beberapa institusi pendidikan seperti Universitas Negeri Jakarta, Universitas Indonesia, dan Institut Pertanian Bogor.

Selain itu Komunitas Aspera menjalin kemitraan dengan beberapa komunitas pencinta reptil yang tergabung dalam Paguyuban Keluarga Besar Reptil Jabodetabek (PKBRJ). Aktivitas lain menyelenggarakan seminar edukasi mengenai reptil, kemping singkat selama 2 hari 1 malam. Animo masyarakat untuk mengikuti acara itu cukup tinggi. Peserta tersebar luas dari seluruh Indonesia.

“Tidak hanya seminar, di sana kami juga melakukan herping di wilayah perkemahan untuk belajar mengidentifikasi spesies-spesies reptil yang ditemukan” kata bendahara Komunitas Aspera, Nyimas Bemby. Komunitas Aspera memelopori aplikasi ensiklopedi reptil pertama, yakni Aspera Aklopedia. Aplikasi itu berisi informasi identifikasi spesifik ular seperti ciri fisik hingga kategori bahaya.
Namun, kini aplikasi itu sedang tidak dapat digunakan. Anggota komunitas tengah memperbaiki aplikasi menuju versi yang lebih baru dan lebih lengkap. Selain ular, sejatinya Komunitas Aspera juga peduli pada reptil lain dan amfibi.(Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)
