Trubus.id-Di tengah ancaman perubahan iklim, sawah di Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai lumbung pangan, tetapi juga memiliki potensi sebagai penyerap karbon. Inovasi ramah lingkungan seperti biochar dan metode Alternative Wetting and Drying (AWD) mulai dilirik sebagai solusi pertanian berkelanjutan.
Dalam artikel yang ditulis oleh Saiful Lathif, M.Si dan dipublikasikan di laman resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dijelaskan bahwa kombinasi biochar dan AWD berpotensi menurunkan emisi gas rumah kaca secara signifikan. Pendekatan ini juga terbukti meningkatkan kualitas tanah dan efisiensi penggunaan air di lahan pertanian.
Biochar adalah arang kaya karbon yang dihasilkan dari bahan organik seperti kayu, jerami, atau daun melalui proses pirolisis. Proses ini dilakukan dengan pemanasan dalam kondisi minim oksigen, sehingga karbon yang dihasilkan dapat dikunci di dalam tanah.
Proses produksi biochar menghasilkan syngas yang dapat digunakan kembali untuk menjaga suhu pirolisis. Hal ini menciptakan siklus produksi energi bersih tanpa tambahan bahan bakar fosil.
Selain memperbaiki kesuburan tanah, biochar berpotensi meningkatkan kemampuan tanah menyerap air dan menahan unsur hara. Biochar telah digunakan dalam berbagai komoditas seperti padi, cabai, kelapa sawit, dan perkebunan lainnya.
Metode AWD mengubah cara irigasi sawah dari sistem tergenang terus-menerus menjadi pola bergantian antara basah dan kering. Dalam artikel itu disebut cara ini dapat menghemat air serta menurunkan emisi metana yang dihasilkan oleh lahan sawah.
Metana adalah gas rumah kaca yang 25 kali lebih kuat dari karbon dioksida dalam menjebak panas. Dengan metode AWD, emisi metana dapat ditekan secara drastis tanpa mengganggu produktivitas padi.
Ketika biochar dan AWD digabungkan, dampaknya menjadi jauh lebih besar dalam pengurangan emisi. Data menunjukkan kombinasi ini mampu mengurangi emisi metana hingga 67% dan emisi nitrous oxide (N₂O) hingga 59%.
Inovasi ini mendukung upaya Indonesia dalam mencapai target iklim nasional. Penggunaan biochar dan AWD dapat dimasukkan dalam perhitungan pengurangan emisi di bawah Sistem Registri Nasional (SRN PPI) dan skema REDD+.
Diskusi yang digelar di Solo pada 22 April 2025 oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Asosiasi Biochar Indonesia Internasional menyoroti pentingnya penerapan teknologi ini. Selain mengurangi emisi, teknologi ini juga memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan hasil pertanian.
Sawah-sawah Indonesia telah menjadi bagian penting dalam sejarah agrikultur bangsa selama berabad-abad. Kini, dengan dukungan teknologi tepat guna, lahan pertanian dapat menjadi ujung tombak solusi krisis iklim.
