Biofertizinc, Solusi BRIN Atasi Defisiensi Zink dan Dorong Ketahanan Pangan

Rekomendasi
- Advertisement -

Defisiensi zink masih menjadi tantangan besar pertanian Indonesia karena berdampak langsung pada produktivitas dan kualitas tanaman pangan. Kondisi ini juga berkontribusi pada rendahnya kandungan gizi hasil panen yang berimplikasi pada masalah kesehatan masyarakat.

Indonesia memiliki jutaan hektare lahan yang mengalami kekurangan unsur mikro zink. Akibatnya pertumbuhan tanaman tidak optimal dan kualitas hasil panen menurun, sehingga diperlukan solusi efektif yang tidak merusak lingkungan.

Inovasi biofertizinc. (Tangkapan layar Youtube BRIN)

Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan biofertizinc, pupuk hayati berbasis mikroba pelarut zink. Inovasi ini memanfaatkan konsorsium bakteri klarizink yang mampu meningkatkan ketersediaan zink secara alami di dalam tanah.

Menurut Etty Pratiwi , peneliti Pusat Riset Tanaman BRIN dalam BRIN TV, luas lahan sawah yang terindikasi kekurangan zink mencapai sekitar 2,9 juta hektare dari total 8 juta hektare. Oleh karena itu, pendekatan biologis menjadi strategi penting untuk meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.

Biofertizinc terbukti mampu meningkatkan kandungan zink dalam tanah hingga 20% sekaligus memperbaiki serapan nutrisi tanaman. Dampak tersebut tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga kualitas bulir yang lebih kaya zink.

Pupuk hayati ini tersedia dalam bentuk padat, serbuk, dan cair sehingga fleksibel digunakan petani. Aplikasi padat dapat dilakukan melalui benih, sedangkan bentuk cair diaplikasikan dengan penyemprotan sebanyak 2–3 kali selama masa tanam.

Selain mudah digunakan, biofertizinc juga ramah lingkungan dan ekonomis. Penggunaannya mampu menghemat pupuk kimia hingga 25% serta dapat disimpan pada suhu ruang atau suhu dingin 4–10 derajat Celsius hingga satu tahun.

Peningkatan kandungan zink pada hasil panen menjadi nilai tambah penting karena berkontribusi terhadap perbaikan gizi masyarakat. Dengan demikian, biofertizinc tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga berpotensi membantu pemerintah dalam upaya penanganan stunting.

Artikel Terbaru

Mengubah Sukun Murah Jadi Industri Pangan Berdaya Saing!

Satu buah sukun mungkin hanya bernilai sekitar Rp4.000. Namun, setelah diolah menjadi stik, keripik, tepung, tapai, hingga sukun beku,...

More Articles Like This