Raka Nanda Saputra memilih jalan hidup yang tidak biasa. Pria asal Desa Banyurojo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, itu meninggalkan karier sebagai pegawai negeri sipil demi menekuni dunia anthurium yang penuh tantangan sekaligus peluang.
Keputusan tersebut dilandasi keinginannya untuk fokus mengembangkan potensi di bidang tanaman hias, khususnya anthurium. Baginya, anthurium bukan sekadar tanaman, melainkan ruang eksplorasi yang membuka peluang menghadirkan varietas-varietas baru dengan karakter unik.
Sejak 2019, Raka mulai belajar menyilangkan anthurium secara otodidak. Minimnya referensi saat itu membuatnya harus mengandalkan eksperimen. Dari proses tersebut, ia memahami karakter genetik tanaman hingga mampu menghasilkan berbagai silangan bernilai tinggi.
Kini, Raka mengelola ribuan koleksi anthurium hasil persilangan sendiri. Usahanya berkembang pesat dengan omzet mencapai puluhan juta rupiah per bulan dari penjualan 20—50 tanaman ke pasar mancanegara seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan Eropa.
Permintaan ekspor itu datang dari unggahan foto di media sosial. Ia membangun citra sebagai penyedia koleksi premium dengan menyasar pembeli individu, bukan pasar grosir, sehingga produknya memiliki nilai eksklusif.
Namun, menembus pasar global bukan tanpa tantangan. Raka harus terus mengikuti tren yang berubah sangat cepat. Dalam hitungan bulan, minat pasar bisa bergeser dari jenis velvet ke silver, lalu beralih ke warna daun merah atau ungu.
Kondisi tersebut menuntut kesiapan stok yang sesuai dengan tren. Jika tidak, peluang penjualan dapat berkurang. Oleh karena itu, Raka berupaya menjaga ketersediaan tanaman yang diminati pasar.
Selama menjalankan ekspor, ia belum pernah mengalami penipuan. Kendala yang pernah terjadi lebih bersifat teknis, seperti tanaman mati akibat paparan panas berlebih saat pengiriman.
Raka memahami bahwa konsumen luar negeri cenderung menghindari risiko. Mereka lebih memilih tanaman berukuran kecil hingga medium karena lebih terjangkau dan aman selama proses pengiriman.
Di pasar domestik, ia tetap melayani penjualan dengan rata-rata 50—100 tanaman per bulan. Pehobi lokal umumnya menyukai anthurium dengan karakter unik dari segi bentuk, warna, maupun variegata.
Untuk menjaga kualitas tanaman, Raka menerapkan perawatan intensif. Ia menggunakan media tanam campuran pakis cacah, kelenteng, dan pasir malang, serta rutin memberikan pupuk daun tinggi nitrogen dan pupuk slow release.
Ia juga menambahkan nutrisi lengkap yang mengandung kalsium dan magnesium guna menjaga pertumbuhan optimal dan kestabilan pH. Perawatan dilakukan secara rutin setiap pekan dengan dosis terukur.
Keseriusannya juga terlihat dari investasi fasilitas. Raka membangun greenhouse berukuran 4 m x 9 m dengan tinggi 3,5 m senilai Rp50 juta yang mampu menampung lebih dari 1.000 tanaman, dengan total luas mencapai sekitar 200 m².
Seluruh greenhouse dirancang tertutup untuk menjaga suhu dan kelembapan tetap stabil, yakni 28°C—30°C dengan kelembapan 70%—90%. Kondisi tersebut ideal untuk menunjang pertumbuhan anthurium, terutama jenis yang sensitif terhadap panas.
Raka optimistis prospek anthurium masih terbuka lebar. Munculnya hibrida-hibrida baru secara konsisten diyakini mampu menjaga minat pasar, baik di dalam negeri maupun mancanegara.
Melalui usahanya, Raka membawa anthurium hibrida Indonesia ke panggung internasional. Ia berharap karya-karya lokal semakin dikenal dan mampu bersaing di pasar global.
