Satu buah sukun mungkin hanya bernilai sekitar Rp4.000. Namun, setelah diolah menjadi stik, keripik, tepung, tapai, hingga sukun beku, nilainya bisa meningkat berkali-kali lipat dan bahkan melahirkan bisnis dengan omzet puluhan juta rupiah.
Faktanya, sudah banyak pelaku usaha di Indonesia yang membuktikannya. Ada yang memulai hanya dengan modal Rp200 ribu, ada yang kini mengolah hingga 2 ton sukun per hari, bahkan sebagian produknya telah menembus pasar Malaysia, Taiwan, Australia, hingga Amerika Serikat.
Kalau peluangnya sebesar itu, kenapa industri olahan sukun belum berkembang lebih cepat?
Jawabannya ternyata bukan pada pasar. Permintaan sudah ada. Produknya sudah diterima konsumen. Tantangan terbesarnya justru ada pada rantai pasok, mulai dari ketersediaan bahan baku yang stabil, budidaya yang belum terintegrasi, hingga pascapanen yang masih perlu diperkuat.
Di episode Bedah Agribisnis kali ini, Trubus membedah potensi bisnis olahan sukun secara menyeluruh, mulai dari peluang usaha, kisah sukses para pelaku, hingga tantangan yang masih harus diselesaikan agar komoditas lokal ini mampu naik kelas menjadi industri pangan yang berdaya saing.
