Kinerja ekspor kakao Indonesia menunjukkan tren meningkat dalam lima tahun terakhir. Nilai ekspor pada 2025 mencapai USD 3,60 miliar, naik tiga kali lipat dibandingkan 2021 sebesar USD 1,2 miliar, seiring kuatnya permintaan global.
Menteri Perdagangan RI Budi Santoso mengatakan, kakao menjadi komoditas strategis yang menopang ekonomi nasional. Komoditas itu tidak hanya menghidupi ratusan ribu petani, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan memperkuat ekonomi perdesaan.
Menurut Budi, masa depan industri kakao Indonesia sangat bergantung pada kolaborasi berbagai pihak. Keterlibatan pemerintah, petani, pelaku usaha, lembaga keuangan, akademisi, hingga mitra internasional menjadi kunci pengembangan sektor tersebut.
“Visi Indonesia jelas, menjadi hub global produk kakao dan cokelat premium yang berkelanjutan dan bernilai tambah,” ujarnya saat konferensi internasional kakao di Yogyakarta, Kamis (23/7).
Indonesia juga telah diakui Organisasi Kakao Internasional (ICCO) sebagai penghasil kakao mulia atau fine flavour cocoa. Pengakuan itu membuka peluang bagi Indonesia untuk masuk ke segmen pasar kakao premium dunia.
Budi menekankan pentingnya peningkatan nilai tambah melalui inovasi, penguatan indikasi geografis, dan penerapan produksi berkelanjutan. Strategi ekspor juga diarahkan pada pemenuhan standar internasional dan diversifikasi pasar.
Saat ini Indonesia telah mengimplementasikan 25 perjanjian dagang, dengan dua perjanjian dalam proses ratifikasi dan sebelas lainnya dalam tahap perundingan. Beberapa di antaranya mencakup kerja sama dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat yang diharapkan memperluas akses pasar kakao nasional.
Kementerian Perdagangan juga mengerahkan 46 perwakilan perdagangan di 33 negara untuk mendukung ekspor. Perwakilan tersebut bertugas mempromosikan produk, membuka peluang pasar, dan memfasilitasi business matching antara eksportir dan pembeli internasional.
Vice President & Managing Director Cargill untuk Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru menilai prospek kakao Indonesia kian cerah. Tren konsumen global yang mengarah pada produk autentik, berkelanjutan, dan berbasis sumber lokal menjadi peluang besar bagi Indonesia.
Direktur Eksekutif ICCO Michel Arrion menambahkan, Indonesia telah berkembang dari sekadar produsen menjadi pengolah kakao. Peningkatan produksi biji kakao dinilai akan semakin memperkuat posisi Indonesia dalam industri cokelat global.
Konferensi kakao internasional menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi dan inovasi. Upaya tersebut diharapkan mampu mendorong hilirisasi dan meningkatkan daya saing kakao Indonesia di pasar dunia.
