Friday, January 16, 2026

Biopestisida Daun Tembakau Halau Hama Wereng

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Sebagian petani lebih memilih sistem organik dalam budidaya padi. Lantaran lebih ramah lingkungan dan menghasilkan produk yang lebih sehat.  Meskipun begitu sering kali terdapat kendala dalam budidaya seperti serangan wereng cokelat.

Untuk mengatasi itu, petani bisa memanfaatkan biopestisida berbahan daun tembakau. Petani bisa menggunakan biopestisida daun tembakau yang sudah jadi seperti Biopestisida Gogo kreasi periset di Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia, Prof. Misri Gozan.

Untuk aplikasinya, tuangkan 50 ml biopestisida daun tembakau dalam 16 liter air. Selama masa budidaya 100 hari, biopestisida hanya disemprotkan 2 kali. Hasilnya, tanaman padi di sawah akan bebas serangan serangga Nilaparvata lugens.

Daun tembakau mengandung beragam senyawa aktif seperti nikotin, piridin, dan terpenoid. Senyawa itu mengendalikan hama dengan cara memberikan rasa pahit. Akibatnya serangga tidak menyukai tanaman dan mengganggu kebiasaan makan serangga.

Biopestisida tembakau lebih ramah lingkungan, karena berasal dari bahan alam. Itulah sebabnya ekstrak tembakau tidak mengganggu serangga lain yang berperan sebagai musuh alami hama wereng seperti laba-laba dan capung.

Target biopestisida tembakau Nicotiana tabacum amat spesifik, yakni hama wereng cokelat. Serangga-serangga nontarget tetap aman. Selain itu penyemprotan biopestisida tembakau juga sangat mudah. Cukup dengan pelarut air, tidak membutuhkan pengemulsi tambahan.

Biopestisida daun tembakau itu juga telah diuji coba pada tanaman lain seperti kopi, avokad, dan vanili. Uji di kebun kopi robusta di Desa Kebondalem, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah, ekstrak tembakau menurunkan persentase serangan Hypothenemus hampei hingga 15%. Serangan penggerek batang kopi (PBKO) pun turun.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img