Tuesday, November 29, 2022

Bistendu Mencuri Hati

Rekomendasi

Meski tanpa daun, bonsai mustam dengan gaya setengah menggantung tetap cantik dengan hadirnya buah berwarna seronokBonsai mustam istimewa karena dapat berbuah.

Foto bonsai Dyospyros montana karya seniman bonsai di Jepang itu bagai magnet yang menarik perhatian saya. Sosok bonsai terlihat menawan lantaran sarat buah berwarna kuning yang bergelantungan di setiap cabang. Bagi saya bonsai yang memiliki bunga dan buah bernilai tinggi. Perjumpaan pada 1980 itu membuat saya berhasrat untuk mengoleksi bonsai tanaman kerabat kesemek itu.

 

Namun, baru tujuh tahun kemudian saya menjumpainya di tanahair pada sebuah pameran bonsai di Jawa Timur. Pehobi di sana menyebutnya mustam. Penampilan bonsai mustam berbuah lebat pada pameran itu tak kalah cantik seperti pada foto buku itu. Sejak itu hasrat saya untuk berburu bakalan bistendu—sebutan mustam di India—semakin menggebu.

Sayangnya perburuan mustam kerap berujung kecewa. Saya pernah membeli bakalan dari pedagang di Yogyakarta.  Setelah dipelihara selama tiga tahun, bakalan bonsai itu hanya berbunga, tapi kemudian rontok dan tak satu pun menjadi buah. Setelah membaca beberapa literatur, ternyata mustam tergolong tanaman berumah dua. Artinya, bunga jantan dan betina tumbuh pada tanaman yang berbeda. Jadi, ada tanaman yang hanya berbunga betina dan hanya berbunga jantan.

Tanaman jantan

Rupanya bakalan yang saya beli itu merupakan tanaman berbunga jantan. Dari penampilan tanaman memang sulit membedakan antara tanaman berbunga jantan dan betina. Perbedaan keduanya terlihat dari bentuk bunga. Mustam jantan memiliki bunga berbentuk seperti lonceng dan sedikit menutup. Sementara mustam betina memiliki mahkota bunga lebih pendek daripada jantan dan tampak lebih merekah. Ukuran bunga betina lebih besar dibanding bunga jantan. Mustam betina mampu berbuah meski tidak bersanding dengan pejantan.

Barulah pada 2004, salah satu bonsai mustam yang saya peroleh tiga tahun sebelumnya mengeluarkan buah sebesar kelereng. Sayangnya kondisi tanaman kurang prima. Pada beberapa bagian batang busuk karena terlalu sering disiram. Untuk menyelamatkan hidupnya, saya membuang setiap bagian yang sakit, lantas membentuknya menjadi bergaya batang tiga.

Namun, penampilan itu tak membuat saya puas. Karena itu perburuan bakalan mustam terus berlanjut. Kali ini yang menjadi incaran adalah mustam betina. Tanaman betina mampu berbuah meski tanpa mengalami pembuahan alias partenokarpi. Sementara jantan hanya berbunga, lalu rontok. Karena itu sebaiknya membeli bakalan mustam saat sedang berbuah.

Bakalan mustam betina yang sudah  berbuah akhirnya saya peroleh dari salah satu nurseri di kawasan Pluit, Jakarta Utara. Saya lalu menggabungkan bakalan betina itu dengan bonsai mustam jantan dalam sebuah pot batu seperti sebuah saikei. Gabungan kedua tanaman itu kemudian saya sebut “yin dan yang” atau positif dan negatif yang melambangkan jantan dan betina. Penggabungan itu juga memudahkan bagi orang awam untuk membedakan antara tanaman jantan dengan betina.

Pacu berbuah

Memperoleh bakalan mustam dengan potensi bagus dan sedang berbuah tentu sulit. Adakalanya saat berburu kita menjumpai bakalan yang potensi penampilannya istimewa, tapi sedang tidak berbuah. Contohnya pernah saya alami saat memperoleh bakalan dari salah satu nurseri tanaman hias di Cikarang, Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Ketika itu saya menjumpai mustam yang sosoknya setengah menggantung. Penampilan menarik seperti itu jarang dijumpai di pasaran sebab selalu menjadi buruan utama para kolektor.

Saya membawa pulang bakalan setinggi 62 cm itu dengan harga Rp3-juta. Saya lalu menanam bakalan itu pada media berupa campuran pasir, tanah gunung, dan humus dengan perbandingan masing-masing sepertiga bagian. Tanaman lalu diletakkan di tempat yang terkena sinar matahari penuh. Jika kekurangan sinar matahari dapat memicu timbulnya hama dan penyakit seperti kutu putih dan bintil kuning.

Kedua penyakit itu dapat menyebabkan ranting dan cabang mengering. Selanjutnya perawatan  untuk menumbuhkan cabang dan ranting yang diperlukan. Tiga tahun berselang, akar tanaman mulai memenuhi pot tanda tanaman sudah tumbuh dewasa. Menjelang musim kemarau, saya memberikan pupuk majemuk yang mengandung fosfor lebih tinggi ke sekitar perakaran setiap pekan.

Sebulan berselang, tanaman mulai berbunga. Saya lantas memberikan asupan nutrisi tambahan yang mengandung vitamin B1 untuk menguatkan bunga setiap pekan. Dosisnya sesuai dengan anjuran dalam kemasan. Sementara untuk penyiraman hanya dilakukan setiap sore hari. Perlu waktu sekitar tiga bulan dari  bunga untuk menjadi buah. Buah itu akan bertahan di cabang hingga tiga bulan. Mula-mula buah berwarna hijau kekuningan, kemudian berubah jingga lalu merah. Warna seronok itu tentu saja menarik perhatian lantaran kontras dengan hijaunya daun dan batang yang berwarna gelap.

Sewaktu buah mendekati matang, saya mengurung tanaman dengan kurungan anyaman kawat sehingga burung tidak bisa masuk. Maklum warna buah yang mencolok menarik perhatian burung. Setelah tanaman selesai berbuah, saya melakukan peremajaan dengan cara memangkas akar dan mengganti media tanam. Tujuannya agar tanaman dapat beristirahat. Tiga tahun kemudian baru saya buahkan kembali.

Saat seluruh daun tanaman mulai menua, saya melakukan pemangkasan hingga tanaman gundul. Di situlah kelebihan mustam. Tanaman mampu bertahan hidup meski tanpa daun. Tiga pekan pascapemangkasan, daun muda mulai muncul dibarengi munculnya bunga baru dan berkembang menjadi buah. Bistendu pun tampil istimewa. (Budi Sulistyo, praktikus bonsai di Jakarta)

Previous articleBersalin Rupa Lebih Elok
Next articleBidadari Selebes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img