Wednesday, August 10, 2022

Boncel dan Koko Berjaya di Dieng

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Koko, Koleksi H. Sohipin, Wonosobo, The Best in Show, Grand Prix seri III di WonosoboBlue clone, koleksi Santoso, Temanggung, peraih nilai tertinggi grand prix seri III di Wonosobo10 besar pemenang grand prix sansevieria 2010Sansevieria ‘boncel’ bernasib serupa. Sansevieria koleksi Tangerang Sansevieria Club itu dinobatkan sebagai sansevieria terbaik Indonesia 2010. Padahal, boncel belum pernah menjadi juara 1 di 3 seri Grand Prix Sansevieria sepanjang 2010. “Puncak prestasinya juara 2 di kontes Wonosobo, Jawa Tengah, sekarang ini,” kata Willy Purnawanto, koordinator juri.

Di seri ke-1 Grand Prix di Pati, Jawa Tengah, boncel yang bertarung di kelas round leaf majemuk hanya menembus peringkat ke-6 dengan total nilai 193. Itu jauh di bawah blue clone milik Imam dari Nganjuk di posisi pertama yang meraih nilai 240. Berikutnya pada GP ke-2 di Kediri, Jawa Timur, boncel naik ke peringkat 4 dengan nilai 230. Tentu poin itu di bawah koko koleksi H. Sohipin dari Wonosobo yang meraih 241. Baru di putaran terakhir grand prix di Wonosobo, Jawa Tengah, pada akhir 2010 boncel meraih posisi ke-2, dengan poin 233. Ia hanya terpaut 3 angka di bawah blue clone milik Santoso, asal Parakan, Kabupaten Temanggung, yang jadi kampiun dengan nilai 236.

Toh, kegagalan menjadi yang terbaik di 3 seri itu tak membuatnya kalah dalam mengoleksi poin total. “Ketika dihitung total nilai mencapai 656. Itu nilai tertinggi di akhir klasemen,” ungkap Willy. Poin itu mengungguli blue leaf koleksi H. Sohipin di peringkat ke-2 klasemen, yang meraih angka 638 serta pearsonii koleksi Santoso di posisi ketiga (622) dan ballyi, koleksi H. Sohipin di peringkat ke-4 (621). Beberapa peringkat atas di seri grand prix urung menjadi yang terbaik sepanjang 2010 karena absen di seri lainnya.

Kampiun di Wonosobo

Seri terakhir Grand Prix Sansevieria 2010 itu juga melahirkan the best in show. Bedanya penentuan best in show tidak ditentukan berdasarkan nilai tertinggi, tetapi voting juri terhadap para juara di kelas prospek. Pertarungan pun berlangsung ketat. Enam juri, Sentot Pramono (Jakarta), Rusmadi Haryo Saputro (Kebumen), Bimo Sekti (Surabaya), Syah Angkasa (Trubus), Irfan (Yogyakarta), dan Yoyok (Surabaya) menjagokan koko dan blue clone.

Baru setelah dilakukan voting ulang koko unggul telak dengan skor 5:2, sehingga koleksi H. Sohipin ditetapkan sebagai the best in show. Prestasi itu mengulang sukses pada Grand Prix kedua di Kediri. Sayang 2 kali meraih best in show, tak cukup mendongkrak nilai juara I kelas round leaf tunggal itu untuk merebut gelar sansevieria terbaik 2010. Musababnya, koko absen hadir pada Grand Prix I di Pati.

Menurut Santoso, ketua panitia, kemenangan boncel dan koko itu menandai berakhirnya rangkaian grand prix kontes sansevieria 2010. Kompetisi yang berlokasi di Terminal Mendolo, Wonosobo itu diikuti 213 sansevieria yang berlaga pada 17 kelas utama dan madya. Hobiis dari Medan, Jakarta, Bandung, kota-kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, hingga Bali pun menyambut lahirnya sansevieria terbaik 2010. (Syah Angkasa)

  1. Boncel, Koleksi TSC Tangerang, Juara ke-1 Grand Prix 2010
  2. Koko, Koleksi H. Sohipin, Wonosobo, The Best in Show, Grand Prix seri III di Wonosobo
  3. Blue clone, koleksi Santoso, Temanggung, peraih nilai tertinggi grand prix seri III di Wonosobo
  4. 10 besar pemenang grand prix sansevieria 2010

Foto-foto: Syah Angkasa

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img