Sunday, November 27, 2022

Terpesona Sepatu Dewi Negeri Tetangga

Rekomendasi

 

Paphiopedilum bullenianum, banyak ditemukan di Semenanjung MalayaPaphiopedilum hirsutissimum, endemik Burma, China bagian selatan, dan VietnamPaphiopedilum almaud in charm alba, ciri khasnya memiliki sepal dorsal jumboItulah yang membuat langkah YABhg Toh Puan Dato’ Seri Utama Hajah Majimor binti Shariff, istri Gubernur Pulau Pinang, Malaysia, terhenti saat melewati Paphiopedilum sanderianum di arena kontes anggrek pada Pesta Bunga Pulau Pinang 2010. Kedua matanya terus menatap sanderianum yang memamerkan 5 kuntum bunga. Petalnya menjuntai melambai-lambai diterpa angin. ‘Anggrek ini cantik sekali. Beda dengan anggrek yang pernah saya lihat,’ katanya.

Menurut Chairani Siregar, ahli anggrek di Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat, pujian itu pantas disematkan pada sanderianum. Di antara ratusan jenis anggrek berkantung, hanya sanderianum yang memiliki panjang petal mencapai 1 m. Bentuknya juga khas: berpilin menyerupai spiral. Lazimnya petal paphiopedilum lain maksimal 10 cm. Sayang, saat itu petal yang mirip helaian pita itu agak mengering. Ia pun gagal menyandang gelar best plant of the year. Toh anggrek koleksi Lim Mui Hua, kolektor anggrek asal Penang, itu sukses meraih gelar best of species.

Hampir seabad

Saking uniknya sanderianum, pada 1886 John Day, kolektor anggrek asal London, Inggris, mengabadikan anggrek yang ditemukan J Forstermann, kolektor tanaman asal Jerman, di Sarawak, Malaysia, itu di atas kanvas lukisan. Tujuh belas tahun kemudian keluarga John Day menyerahkan lukisan itu kepada Royal Botanical Garden di Kew, Inggris.

Kelak berbekal lukisan itu para ahli botani di Royal Botanical Garden menyusuri asal-muasal sanderianum di habitat aslinya di Sarawak. Sayang, setelah beberapa dekade pencarian para ahli botani tak jua membuahkan hasil. Para ahli pun sempat meragukan keberadaan sanderianum dan dinyatakan punah. Ia pun pernah hanya dianggap imajinasi belaka.

Keraguan para ahli itu terjawab 93 tahun kemudian. Pada 1978, Ivan Nielsen, ahli botani asal Denmark, menemukan sanderianum yang tengah berbunga di sekitar Gunung Api Sarawak secara tidak sengaja. Kini kawasan tempat ditemukannya anggrek langka itu diawasi ketat oleh pengelola Taman Nasional Mulu di Sarawak. ‘Lokasi habitatnya dirahasiakan dan dilindungi,’ tutur Michael Ooi, ahli anggrek dari Federation of Malaya Orchid Society (FOMOS). Lalu, pada 1989 sanderianum ditetapkan sebagai tanaman Apendiks I CITES. Sanderianum hasil buruan di alam, serbuk sari, buah, biji, bunga, dan daunnya dilarang diperdagangkan.

Sejak itulah Taman Nasional Mulu dan para penangkar anggrek di Malaysia getol memperbanyak sanderianum agar lestari. Hasilnya, anggrek sepatu nan langka hasil tangkaran mulai banyak dikoleksi hobiis. ‘Tapi jumlahnya masih terbatas karena perawatannya tergolong sulit dan pertumbuhannya sangat lamban,’ ujar Michael.

Chairani sempat menelusuri keberadaan sanderianum hingga ke perbatasan Sarawak pada 2004. Sayang, pencarian itu nihil. ‘Rupanya penyebaran sanderianum hanya di kawasan Taman Nasional Mulu,’ kata dosen Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura itu. Ia justru mendapatkan sanderianum dari mahasiswanya yang memboyong anggrek eksotis itu dari Royal Botanical Garden. ‘Sayang anggrek itu mati,’ ujarnya.

Berbagai negara

Di Sarawak, sanderianum punya ‘saudara’ yang juga berpetal panjang: Paphiopedilum stonei. Itu yang Ayub S Parnata, penganggrek senior di Bandung, Jawa Barat, memboyong ke kebunnya 3 tahun silam. Petalnya mencapai 15 cm. Petal menjuntai menyerupai pita dan berpilin seperti sanderianum.

Anggrek sepatu dewi negeri serumpun yang tak kalah cantik ialah Paphiopedilum bullenianum. Ia banyak ditemukan di negara bagian Johor sehingga kerap juga disebut Paphiopedilum johorense. Ciri khas anggrek itu terletak pada bagian tepi atas petal yang  bergelombang dari pangkal hingga separuh bagian petal.

Di ajang Pesta Bunga Pulau Pinang 2010 itu ada juga anggrek kantung dari berbagai negara yang dipamerkan. Contohnya Paphiopedilum hirsutissimum yang habitat aslinya di Burma, China bagian selatan, dan kawasan pantai Vietnam. Hirsutissimum unik karena mampu tumbuh di dua habitat: menempel pada tanaman lain alias epifit dan di permukaan batu atau litofit. Menurut Ayub lazimnya paphiopedilum tumbuh menempel di lereng bukit batu berkapur.

Karena tumbuh di dua habitat, daya adaptasi hirsutissimum lebih luas dan relatif mudah dirawat. Hobiis leluasa memilih media tanam untuk pertumbuhannya. Media tanam papan pakis dapat dipilih bila hendak menempelkannya di dinding. Sementara bongkahan batu berkapur dapat dipakai untuk di pot.

Kontes itu kian menarik berkat hadirnya Paphiopedilum haynaldianum yang endemik Pulau Luzon, Filipina. Di sana hadir juga beberapa jenis paphiopedilum hibrida yang tak kalah istimewa seperti Paphiopedilum almaud in charm. Selain berwarna alba, keistimewaan lainnya adalah bentuk sepal dorsal yang berukuran jumbo. (Imam Wiguna)

 

 

Paphiopedilum sanderianum, panjang petalnya bisa mencapai 1 m

Paphiopedilum bullenianum, banyak ditemukan di Semenanjung Malaya

Paphiopedilum hirsutissimum, endemik Burma, China bagian selatan, dan Vietnam

Paphiopedilum almaud in charm alba, ciri khasnya memiliki sepal dorsal jumbo

Paphiopedilum stonei, setipe dengan sanderianum tetapi petalnya lebih pendek. Sama-sama berasal dari Sarawak, Malaysia

Foto-foto: Imam Wiguna

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img