Sunday, January 25, 2026

Bongsor Karena Kulit Pisang

Rekomendasi
- Advertisement -

Limbah kulit pisang bermanfaat sebagai pupuk organik untuk memacu pertumbuhan dan produktivitas jambu madu deli hijau.

Trubus — Industri pengolahan pisang di Kecamatan Simpangkanan, Kabupaten Rokanhilir, Provinsi Riau, menyisakan limbah berupa kulit pisang. Tumpukan sampah itu meresahkan warga. Beberapa warga ada yang memanfaatkan limbah kulit pisang itu sebagai pakan ternak. Namun, serapannya masih sedikit sehingga limbah tetap berlimpah. Rahmad Santoso memanfaatkan kulit buah Musa sp. sebagai sumber hara.

Kulit buah pisang mengandung 15% kalium dan 2% fosfor lebih banyak daripada daging buah. Kandungan kalium dan fosfor yang cukup tinggi itulah yang membuat kulit pisang berpotensi sebagai pengganti pupuk. “Pupuk limbah kulit pisang adalah sumber potensial pupuk potasium,” ujar Rahmad. Kulit pisang kering mengandung 46—57% K2O. Selain itu kulit pisang juga mengandung magnesium, sulfur, dan sodium yang dibutuhkan tanaman.

Bahan pupuk

Potasium atau kalium adalah unsur hara makro yang berperan membantu pembentukan protein, karbohidrat, dan gula, serta membantu pengangkutan gula dari daun ke buah. Kalium juga berfaedah memperkuat jaringan tanaman dan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan penyakit. Tanaman memerlukan magnesium dalam pembentukkan klorofil. Unsur hara mikro itu juga berperan sebagai katalisator dalam penyerapan unsur fosfor dan kalium.

Kulit pisang (kering) mengandung 46—57% K2O, juga kaya magnesium, sulfur, dan sodium yang dibutuhkan tanaman.

Sodium mempunyai sifat mudah menyerap dan menahan air cukup kuat sehingga tanaman lebih tahan kekeringan. Potensi itulah yang mendorong Rahmad meriset untuk memanfaatkan limbah kulit pisang untuk bahan baku pupuk organik. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Universitas Sumatera Utara itu menguji potensi kulit pisang sebagai bahan baku pupuk organik pada tanaman jambu madu deli hijau (MDH).

Anak bungsu dari dua bersaudara itu memilih jambu madu sebagai objek penelitian karena di daerahnya banyak pekebun jambu air unggul asal Kabupaten Binjai, Sumatera Utara, itu. Konsumen menggemari buah jambu berbentuk seperti lonceng dan berwarna hijau semburat merah itu karena rasanya yang sangat manis seperti madu. Keunggulan lain produktivitas jambu madu juga tinggi, yakni mencapai 30—45 kg per pohon berumur 1,5—2 tahun dalam setahun.

Dari segi bisnis budidaya jambu madu juga menggiurkan. “Harga jambu madu deli hijau sekilogram isi rata-rata 5—7 buah harganya cukup mahal, yaitu Rp30.000—Rp60.000, tergantung kualitasnya,” ujar pria kelahiran 1996 itu. Dalam penelitian itu Rahmad menggunakan bibit jambu madu berumur 6 bulan yang tumbuh dalam polibag. Ia lalu membagi tanaman itu ke dalam 4 kelompok uji.

Tanaman pada kelompok I sebagai kontrol, tanpa pemberikan pupuk apa pun. Tiga kelompok lain memperoleh pupuk organik berupa ekstrak kulit pisang dengan dosis berbeda-beda. Rahmad mengekstrak kulit pisang dengan cara memfermentasi (lihat ilustrasi). Dosis pupuk ekstrak kulit pisang pada kelompok II hanya 200 ml per polibag. Adapun dosis untuk kelompok III dan IV masing-masing 300 ml dan 400 ml per polibag.

Buah organik

Rahmad memberikan pupuk dengan cara menyiramkan larutan ekstrak kulit pisang di permukaan media tanam pada pukul 15.00—17.00. Pemberian pupuk dilakukan sejak tanaman pindah tanam ke polibag. Interval pemupukan dua pekan. Sementara itu frekuensi pemupukan 3 kali. Rahmad juga merawat intensif. Ia rutin menyiram hingga jenuh saat media tanam kering.

Selain itu ia juga menyiangi gulma setiap kali hendak memupuk. Begitu pula pencegahan serangan hama seperti semut dan ulat daun tak luput dari perhatian Rahmad. Pria 23 tahun itu menyemprotkan insektisida berbahan aktif deltametrin 2,5 EC berkonsentrasi 1 cc per liter air. Selama penelitian berlangsung Rahmad hanya 3 kali menyemprotkan pengendali organisme pengganggu tanaman.

Hasil penelitian menunjukkan, tinggi tanaman mulai bertambah secara signifikan dibandingkan dengan kontrol pada pekan ke-10 setelah pindah tanam. Jumlah percabangan juga mulai bertambah secara signifikan pada pekan ke-8 dan ke-12. “Dengan bertambahnya jumlah cabang berarti peluang untuk menghasilkan buah juga makin bertambah,” ujar Rahmad. Artinya pemberian pupuk ekstrak kulit pisang dapat mendongkrak produktivitas buah.

Menurut pekebun dan juga penangkar bibit jambu madu asal Binjai, Sunardi, pemberian pupuk organik untuk jambu madu sangat baik. Apalagi bila perawatan tanaman seluruhnya menggunakan bahan organik. Pasalnya, saat ini beberapa konsumen meminta buah organik. Mereka berharap dapat mencicipi manisnya jambu madu, tapi juga lebih sehat karena tanpa residu bahan sintetis kimia. (Imam Wiguna)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img