BRIN: Suhu 5°C dan Oksigen 5% Jaga Mutu Benih Bawang Merah hingga 9 Pekan

Rekomendasi

Trubus.id — Teknologi Modified Atmosphere Storage (MAS) berpotensi menjadi solusi untuk memperpanjang umur simpan benih bawang merah tanpa mengurangi kualitasnya secara signifikan. Hal itu dibuktikan oleh tim periset Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), melalui penelitian yang menunjukkan bahwa pengaturan suhu dan konsentrasi oksigen mampu mempertahankan mutu benih selama penyimpanan.

Peneliti PRTPP BRIN, Nugroho Siswanto, mengatakan bawang merah merupakan komoditas hortikultura yang memiliki umur simpan relatif pendek. Kondisi itu disebabkan tingginya laju respirasi dan aktivitas metabolisme setelah panen sehingga mutu benih cepat menurun apabila tidak disimpan pada kondisi yang sesuai.

Dalam penelitian yang dilakukan bersama peneliti dari Universitas Gadjah Mada, tim mengkaji pengaruh lama penyimpanan, suhu, dan konsentrasi oksigen terhadap kualitas benih bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum L. Back) menggunakan teknologi MAS.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh suhu penyimpanan terhadap kualitas benih bawang merah jauh lebih besar dibandingkan konsentrasi oksigen. Kombinasi suhu rendah 5 derajat Celsius dengan konsentrasi oksigen 5 persen memberikan kondisi penyimpanan terbaik untuk mempertahankan mutu benih,” ujar Nugroho, Selasa (30/6), seperti dikutip dari laman BRIN.

Penelitian menggunakan rancangan three-way repeated measures dengan tiga faktor utama, yakni lama penyimpanan selama sembilan pekan, suhu penyimpanan 5°C, 15°C, dan 28°C, serta konsentrasi oksigen 5 persen, 10 persen, dan 21 persen.

Selama masa penyimpanan, peneliti mengamati berbagai parameter kualitas, meliputi warna umbi (L*, a*, b*), hue angle, nilai kroma, perbedaan warna (total color difference), kandungan padatan terlarut (total soluble solids), hingga tingkat kekerasan umbi.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa selama penyimpanan terjadi peningkatan nilai komponen warna b*, hue angle, perbedaan warna, dan kandungan padatan terlarut. Sebaliknya, tingkat kecerahan warna (L*), komponen warna a*, nilai kroma, serta kekerasan umbi mengalami penurunan. Namun, perubahan tersebut dapat ditekan melalui pengaturan suhu dan komposisi atmosfer penyimpanan.

Menurut Nugroho, perlakuan penyimpanan pada suhu 5°C dengan konsentrasi oksigen 5 persen mampu mempertahankan kekerasan umbi lebih baik sekaligus memperlambat perubahan warna dan peningkatan kandungan padatan terlarut dibandingkan perlakuan lainnya.

“Teknologi MAS pada suhu rendah dan kadar oksigen rendah berpotensi menjadi solusi untuk memperpanjang umur simpan benih bawang merah tanpa menurunkan kualitasnya secara signifikan. Teknologi ini dapat diterapkan sebagai sistem penyimpanan benih yang lebih efisien sehingga mendukung produktivitas pertanian nasional,” katanya.

Teknologi MAS bekerja dengan mengatur komposisi gas di dalam ruang penyimpanan sehingga laju respirasi dan proses metabolisme hasil pertanian melambat. Dengan demikian, kualitas produk dapat dipertahankan lebih lama dibandingkan metode penyimpanan konvensional.

Penerapan teknologi penyimpanan yang tepat diharapkan dapat menekan kehilangan hasil pascapanen, menjaga ketersediaan benih bermutu bagi petani, serta mendukung ketahanan pangan nasional.

Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Advances in Agricultural and Food Research Journal pada 8 April 2026.

Sumber: BRIN


Artikel Terbaru

UGM Kembangkan Ekosistem Kedelai Lokal Terintegrasi, Dorong Kemandirian Pangan Nasional

Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) terus memperkuat upaya pengembangan kedelai lokal melalui pendekatan ekosistem terintegrasi untuk meningkatkan produktivitas...

More Articles Like This