Trubus.id — Berawal dari memelihara lima ekor domba saat masih duduk di bangku SMA, Mila, alumnus Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), kini sukses membangun usaha peternakan modern bernama Kerabat Ternak 1-3 di Tuban, Jawa Timur. Bersama suaminya, Sahroni, perempuan yang belum genap berusia 28 tahun itu mengembangkan bisnis peternakan kambing dan domba dengan perputaran omzet mencapai ratusan juta rupiah.
Di tengah anggapan bahwa dunia peternakan identik dengan pekerjaan laki-laki, Mila membuktikan bahwa sektor tersebut juga mampu menjadi ladang usaha yang menjanjikan bagi perempuan. Kerabat Ternak 1-3 kini tidak hanya bergerak di bidang penggemukan dan pembibitan kambing serta domba, tetapi juga mengembangkan usaha ternak perah hingga penjualan sarana produksi peternakan (sapronak).
Perjalanan Mila tidak selalu mudah. Saat memutuskan kuliah di Fakultas Peternakan UGM, pilihannya sempat diragukan keluarga. Namun, keraguan itu justru menjadi motivasi untuk membuktikan bahwa peternakan dapat menjadi profesi yang memberikan kesejahteraan sekaligus manfaat bagi masyarakat.
“Dulu keluarga sempat ragu ketika saya memilih kuliah peternakan,” kenang Mila saat ditemui di kandang Kerabat Ternak di Tuban, Jawa Timur, Senin (29/6).
Ketertarikan Mila pada dunia peternakan sudah muncul sejak remaja. Pada 2014, ketika masih duduk di kelas XI SMA, ia mulai memelihara lima ekor domba sebagai langkah awal merintis usaha.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Fakultas Peternakan UGM pada 2020, Mila memilih fokus mengembangkan usaha peternakan. Menurutnya, ilmu yang diperoleh selama kuliah menjadi bekal penting dalam mengelola bisnis.
“Di Fapet UGM kami diajarkan bukan hanya teori, tetapi juga praktik dan pengalaman lapangan. Itu yang sangat membantu ketika benar-benar terjun ke dunia usaha,” ujarnya.
Selama kuliah, Mila juga aktif belajar langsung dari dosen, praktisi, dan peternak berpengalaman. Baginya, keberhasilan usaha peternakan tidak cukup hanya mengandalkan teori.
“Teori itu penting, tapi tidak cukup. Harus turun langsung ke lapangan,” katanya.
Dalam perjalanan membangun usaha, Mila pernah mengalami kerugian akibat kematian ternak. Namun, setiap kejadian dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki manajemen pemeliharaan dan kesehatan ternak. Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami penanganan berbagai penyakit, mulai dari pneumonia akibat perubahan suhu hingga infeksi yang umum menyerang kambing dan domba.
Kini, Kerabat Ternak 1-3 lebih mengutamakan kualitas dibanding mengejar jumlah populasi. Kebersihan kandang dijaga secara rutin, sementara kebutuhan pakan dipenuhi dari lahan hijauan seluas sekitar 1,5 hektare yang dipadukan dengan pakan tambahan seperti ampas tahu dan kangkung kering.
Strategi tersebut berhasil meningkatkan nilai jual ternak. Kambing unggul dijual dengan harga Rp16 juta hingga Rp23 juta per ekor, sedangkan kambing lokal berkisar Rp3 juta hingga Rp5 juta per ekor. Selain melayani kebutuhan kurban dan aqiqah, Kerabat Ternak juga memasarkan susu cempe, vitamin, serta berbagai perlengkapan peternakan ke sejumlah wilayah di Jawa Timur.
Momentum Iduladha menjadi musim puncak penjualan. Dalam dua bulan menjelang Iduladha 2024, omzet usaha mencapai sekitar Rp500 juta hingga Rp700 juta. Sementara pada hari biasa, usaha aqiqah, penjualan bibit, susu, dan sapronak menghasilkan omzet sekitar Rp50 juta per bulan, ditambah penjualan sarana produksi peternakan sekitar Rp75 juta per bulan.
Tak hanya mengembangkan bisnis, sejak 2023 Mila juga aktif membagikan edukasi peternakan melalui media sosial TikTok. Konten yang dibuat berisi praktik beternak modern dan penerapan teknologi untuk meningkatkan produktivitas peternakan.
Usaha yang dirintisnya juga memberi dampak bagi masyarakat sekitar. Saat ini Kerabat Ternak mempekerjakan dua orang karyawan dan membina kelompok peternak. Salah satu anggota kelompok, Erma, mengaku terbantu dalam pemasaran susu kambing sekaligus memperoleh tambahan pengetahuan tentang budidaya ternak.
“Saya jadi tidak bingung soal penjualan susu. Selain itu juga bisa belajar banyak di kelompok ternak dan di Kerabat Ternak,” ujarnya.
Bagi Mila, keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan, tetapi juga dari manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja, edukasi, dan pemberdayaan peternak.
Berawal dari lima ekor domba saat masih SMA, kini Mila menjadi salah satu peternak muda yang menunjukkan bahwa usaha peternakan modern berbasis ilmu pengetahuan, pengalaman lapangan, dan pemberdayaan masyarakat memiliki prospek yang cerah, termasuk bagi generasi muda dan perempuan
