Friday, January 16, 2026

BRIN Ungkap Potensi Lumut Kerak

Rekomendasi
- Advertisement -

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE) mengadakan penelitian mengenai Usnea spp. atau lumut kerak. Penelitian itu bertujuan mengungkap keanekaragaman dan potensi pemanfaatan lumut tersebut dalam kuliner serta sebagai bahan obat tradisional.

Indonesia memiliki kekayaan hayati yang belum sepenuhnya terungkap, baik dari segi jumlah jenis maupun potensinya. Banyak sumber daya hayati telah dimanfaatkan secara tradisional maupun melalui penelitian, tetapi masih memerlukan data yang lebih lengkap untuk pengembangannya ke tingkat industri.

Salah satu yang menarik perhatian adalah Usnea spp., yang kaya metabolit sekunder dengan berbagai potensi pemanfaatan. Pemilihan bahan baku dalam masakan daerah dipengaruhi oleh ekologi, ketersediaan sumber daya, dan tradisi budaya.

Salah satu contohnya adalah Sayur Babanci, kuliner tradisional khas Betawi yang semakin langka akibat sulitnya memperoleh bahan baku bumbu seperti Usnea spp. Rempah itu dikenal dengan berbagai nama seperti ‘tai angin’, ‘janggot kai’, atau ‘kayu angin’.

Lumut itu telah lama digunakan dalam masakan tradisional, tetapi ketersediaannya semakin terbatas. Kuliner tradisional khas Betawi merupakan cerminan kekayaan budaya dan identitas rasa yang melekat dalam kehidupan suatu komunitas.

Hidangan Sayur Babanci dikenal dengan perpaduan rasa dan rempah yang kompleks. Itu mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Betawi.

Namun, keberadaan kuliner tradisional kini mulai tergerus oleh modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat. Di Indonesia, terdapat sekitar 512 jenis Usnea spp., terutama di Pulau Jawa.

Selain sebagai bumbu, lumut itu juga berpotensi sebagai pewarna alami, antibiotik, hingga obat herbal. Sayangnya, penelitian mengenai pemanfaatannya dalam kuliner masih sangat terbatas.

Oleh karena itu, eksplorasi lebih lanjut diperlukan untuk menggali potensi Usnea spp. Itu penting dalam pengembangan makanan fungsional maupun sebagai bahan baku obat tradisional.

Untuk mendukung riset itu, PREE BRIN bekerja sama dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia (UKI) dalam penelitian bertajuk “Pengungkapan dan Pemanfaatan Keanekaragaman Rempah (Usnea spp.) Berbasis Masyarakat Lokal Suku Betawi”. Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan perjanjian secara virtual pada Rabu (26/03).

Kerja sama itu bertujuan membangun jejaring riset antara BRIN dan UKI untuk mengungkap keanekaragaman Usnea spp. sebagai bahan pangan, obat, dan kosmetika tradisional. Selain itu, penelitian itu juga akan mengidentifikasi jenis-jenis potensial, menganalisis morfologi, serta memahami ekologi dan populasi Usnea spp. di Jawa.

Itu dilakukan guna mendukung pelestarian bahan pangan berbasis kearifan lokal dan membuka peluang eksplorasi lebih lanjut. “Kami menyambut baik kerja sama itu yang akan berlangsung hingga Maret 2028,” ujar Asep Hidayat, Kepala PREE BRIN, melansir pada laman BRIN.

“Penelitian itu sejalan dengan mandat PREE dalam riset inovasi di bidang etnobiologi, terutama dalam pemanfaatan sumber daya hayati, baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk bioprospeksi,” tambahnya. Pengungkapan dan pemanfaatan keanekaragaman rempah itu merupakan topik yang sangat menarik.

Sebagai langkah awal, tim telah menyusun proposal riset untuk diajukan dalam skema pendanaan yang tersedia. “Kami berharap kegiatan itu dapat berjalan sesuai Kerangka Acuan Kerja (KAK) dan menghasilkan inovasi berbasis riset,” tambahnya.

foto: Dok. BRIN

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img