Trubus.id— Pekebun di Desa Doda, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Nasarudin rutin memanen 400 buah nanas bobot 3—5 kilogram (kg) pada lahan 1 hektare (ha). Artinya ia menuai 1,2 ton nanas dari lahan itu. Nasarudin menuai omzet sekitar Rp16,8 juta per panen. Ia menjual nanas itu ke pasar tradisional setempat.
Nanas lokal milik Nasarudin itu berbobot besar dan tahan hingga 15 hari. Sebetulnya harga nanas dari kebun Nasarudin bisa lebih tinggi. Pasalnya, nanas milik ketua Kelompok Tani Setia itu hasil budidaya organik.
Label organik pun bukan hanya klaim sepihak. Penyuluh pertanian di Desa Doda, Nurmayanti, S.Hut., mengatakan bahwa kebun milik Nasarudin tersertifikasi organik dari Indonesian Organic Farming Certification (Inofice) sejak 2018.
Pekebun di Desa Doda membudidayakan nanas lokal. Lazimnya mereka menggunakan bibit dari tunas akar untuk penanaman kedalaman 1,5—2,5 cm dan berjarak tanam 5—10 cm. Pekebun menanam bibit di lahan setelah 3—5 bulan atau bibit setinggi 25—30 cm.
Sebelumnya pekebun menyiapkan lahan berupa penggemburan lahan dan pembuatan bedengan. Setelah itu ia memasukkan 2 ton pupuk kompos per ha setara 45 g per lubang untuk populasi 45.000 bibit/ha. Pekebun juga bisa menggunakan bokashi sebagai pupuk dasar. Penanaman di lahan pada awal musim hujan.
Perawatan harian berupa penyiraman, penyiangan gulma, pembumbunan, dan penyemprotan pestisida nabati jika ada serangan organisme pengganggu tanaman. Waktu panen tergantung dari jenis bibit. Petani memanen nanas 24 bulan setelah tanam jika menanam bibit dari mahkota bunga, sedangkan bibit dari tunas batang 18 bulan.
Adapun masa panen penanaman dengan tunas akar sekitar 12 bulan. Ciri nanas siap panen antara lain mahkota buah terbuka, tangkai buah mengerut serta mata buah lebih datar dan membulat. Ciri lainnya warna dasar buah kuning dan buah nanas beraroma khas.
Dosen pemuliaan tanaman di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim, Prof. Dr. Rosmaina, SP., M.Si., mengatakan, budidaya organik mengacu pada budidaya ramah lingkungan dengan memperhatikan seluruh komponen seperti olah tanah, pemupukan, induksi pembungaan, pengairan, dan pascapanen yang dilakukan secara alami.
Keunggulan lain nanas organik yaitu bergizi lebih tinggi dibandingkan dengan nanas konvensional. Alasannya nanas organik menghasilkan metabolit sekunder yang lebih tinggi. Sayangnya waktu pembungaan lebih panjang karena mangandalkan induksi alami. Sementara penanaman konvensional menggunakan induksi pembungaan berupa ethrel dan etefon memacu pembungaan agar lebih cepat.
