Tuesday, November 29, 2022

Bumi Gora Berpijar

Rekomendasi

 

Dengan pengering otomatis dalam hitungan 6—7 jam kadar air jagung pipil yang semula 27—30% menjadi 13—16%Jagung di KUD Pasca Karya dikeringkan dengan cara alami selama 2 hari hingga kadar air mencapai 14—16%Potensi alam NTB tersebar di gunung, darat, dan lautnya. Kini NTB gencar mengembangkan 3 komoditas andal: sapi, jagung, rumput lautSuara mesin merderu memekakkan telinga begitu sebuah alat pemipil jagung dihidupkan. Tongkol-tongkol jagung tanpa kelobot yang dimasukkan ke dalam lubang berbentuk kotak terletak di bagian atas segera saja terpisah menjadi 2 bagian: bulir-bulir berwarna jingga terang keluar dari bagian bawah; tongkolnya ke bagian belakang.

Di dekat situ, 4 orang lelaki bersenjatakan semacam ‘sekop’ terbuat dari kayu hilir-mudik menghamparkan bulir-bulir jagung di atas lantai bersemen untuk dikeringanginkan. Jika cuaca mendukung – matahari bersinar terang – 2 hari kemudian jagung pipil berkadar air 14 – 16% itu siap dijual. Setiap hari KUD Panca Karya di Desa Apitai, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat, itu memipil 50 ton jagung.

Nun di sebuah bangunan berdinding setengah tembok setengah seng setinggi 15 m berjarak tempuh 15 menit dari sana, jagung dikeringkan menggunakan mesin pengering. Pekerja cukup memasukkan jagung pipil berkadar air 27 – 30% ke mesin. Lalu dalam hitungan 6 – 7 jam kadar airnya tinggal 13 – 16%. Dengan kapasitas mesin 7 ton per hari, silo jagung yang dikelola gabungan kelompok tani Mula Tulen itu mampu mengolah 14 ton jagung pipil basah per hari.

Jagung pakan

Di kecamatan yang juga sentra penanaman srikaya itu Trubus juga dengan mudah menemukan areal pertanaman jagung membentang. Di beberapa titik terlihat orang-orang berkerumun di tepi jalan sembari menunggui jagung hasil panen yang dibungkus dalam karung-karung plastik. Bisa dipastikan daerah itu memang sentra penanaman Zea mays.

‘Hampir seluruh wilayah kabupaten di NTB merupakan sentra jagung. Pengembangan terluas berada di Kabupaten Sumbawa dengan luas penanaman pada 2010 mencapai 26.239 ha,’ tutur Budi Subagyo, kasie Budidaya Serealia dan Umbi-umbian Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi NTB. Sentra utama lain di Lombok Barat, Lombok Timur, dan Bima.

Total luas penanaman di NTB pada 2009 mencapai 69.975 ha. Lalu meningkat menjadi 80.471 ha pada 2010 dan ditargetkan terus bertambah menjadi 92.541 ha (2011), 106.424 ha (2012), dan 122.387 ha (2013). Di Pulau Lombok jagung ditanam di sawah pada musim kemarau bergiliran dengan padi. Sementara di Pulau Sumbawa tanaman asal Amerika Latin itu dibudidayakan di lahan tegalan selama musim hujan – kerap kali ditumpangsarikan dengan kecanghijau.

Sebanyak 70 – 80% dari seluruh lahan tanam jagung merupakan areal budidaya varietas hibrida. ‘Itu karena kami berorientasi pada pasar industri, antara lain untuk memenuhi kebutuhan industri pakan ternak,’ kata Hilman Iswarta dari bidang Produksi Hortikultura, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi NTB. Sisanya berupa penanaman jagung komposit dan varietas lokal. Dengan komposisi itu produksi rata-rata NTB mencapai 3,788 ton jagung pipilan per ha.

‘Dengan harga berkisar Rp2.700 – Rp3.200 per kg pipil kering banyak pekebun yang berminat,’ kata Budi Subagyo. Hitung-hitungannya, biaya produksi penanaman jagung hibrida Rp5.000.000 – Rp7.000.000 per ha. Dengan produksi 6 ton per ha – ini angka moderat karena potensi hasil jagung hibrida bisa mencapai 9 ton pipil kering per ha – diperoleh pendapatan minimal Rp16,2-juta. Itu setara laba minimal Rp10-juta dalam 3,5 bulan masa tanam.

Pantas jika sejak 3 tahun terakhir Haji Syahruddin di Desa Jembatan Gantung, Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, beralih menanam jagung hibrida.’Kalau menanam varietas lokal atau komposit produktivitas hanya 3 – 4 ton per ha pipil kering,’ kata pria 57 tahun yang mengelola 6 ha lahan itu. Dengan biaya produksi sama, laba yang didulang lebih besar.

Pijar

Pada Desember 2010 Trubus menyambangi sentra-sentra penanaman jagung dalam rangkaian road show atas undangan pemerintah provinsi Nusa Tenggara Barat menyambut hari jadi ke-52 NTB. Sentra jagung menjadi salah satu titik kunjungan karena pengembangan anggota famili Poaceae itu menjadi program unggulan provinsi berjuluk Bumi Gora, gogo rancah.

‘Visi NTB adalah NTB Bersaing. Untuk mewujudkannya antara lain dengan dicanangkannya program PIJAR, yaitu pengembangan 3 komoditas: sapi, jagung, dan rumput laut,’ tutur gubernur NTB, TGH Zainul Majdi. Pemilihan komoditas itu terkait dengan sumberdaya lokal, juga memiliki keterpaduan dengan strategi nasional dan kepentingan para stakeholder.

Sapi, misalnya. Secara kultural masyarakat di provinsi yang mencapai swasembada beras pada 1984 itu sudah terbiasa merawat satwa anggota famili Bovidae itu. Maklum beternak sapi menguntungkan (baca: Tigapuluh Sapi, Satu Sarjana halaman 62). Pengembangannya pun sejalan dengan program nasional swasembada daging 2014.

‘Sesuai dengan yang diamanatkan oleh keputusan Menteri Pertanian tentang pengembangan sapi lokal, maka jenis yang dikembangkan di NTB adalah sapi ras bali,’ kata Rosiady Sayuti, kepala Badan Perencana Pembangunan Daerah (BAPEDA) Provinsi NTB. Penunjukkan itu karena di seluruh Indonesia, NTBlah daerah yang paling steril dari penyakit sapi. Sementara pengembangan jagung dan rumput laut didukung sumberdayanya yang melimpah. (baca: Sekarang Dodol, Solar Kemudian halaman 66)

Sejuta sapi

Tekad mengembangkan budidaya sapi dipertegas dengan dicanangkannya program NTB Bumi Sejuta Sapi (BSS). ‘Target BSS adalah meningkatkan jumlah populasi sapi dan peternak 2 kali lipat dari kondisi pada 2008,’ lanjut Rosiady. Pada 2008 tercatat terdapat 560.000 sapi. Jumlah itu diharapkan menjadi di atas 1-juta ekor pada 2013. Untuk itu berbagai dukungan diberikan.

Misal pemerintah provinsi menggulirkan program bantuan pengadaan betina. ‘Terkait dengan program nasional Swasembada Daging maka provinsi NTB bersama NT dan Sulawesi Selatan mendapat bantuan sapi betina produktif melalui dana APBNP 2010. Untuk NTB saja nilainya Rp10-miliar,’ kata Rahmadin dari Bagian Kesehatan Masyarakat Veteriner, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB. Dana itu dipakai untuk pemberdayaan 10 kelompok seperti Kelompok Buli Tepong di Kota Mataram berupa pemberian sapi betina produktif.

Program BSS juga meliputi pembatasan penjualan pedet ke luar daerah, melarang pemotongan sapi betina, dan program pengamanan ternak dengan sistem kandang kolektif. ‘Kandang kolektif sejatinya sudah ada sejak 1990-an untuk mengatasi masalah pencurian ternak,’ ujar Ir H Iswandi, kepala Biro Umum Sekretariat Daerah Provinsi NTB.

Saat ini di masing-masing dusun atau setingkat RT terdapat kandang kolektif yang dikelola para peternak. Jumlahnya mencapai 1.000 kandang untuk seluruh Lombok. Contohnya seperti yang Trubus lihat di Kelompok Tani Ternak Gerak Maju di Desa Sepakek, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah. Di kelompok itu terdapat 173 sapi yang dimiliki oleh 73 peternak. ‘Sebelum ada kandang kolektif, tiap tahun ada saja 2 – 3 ekor sapi hilang,’ kata M Sidik, ketua kelompok.

e-pasar

Semua pengembangan komoditas itu dibarengi dengan permintaan pasar yang besar. ‘PIJAR menjadi unggulan utama karena permintaan pasar dalam negeri saja masih terbuka. Indikatornya kita belum bisa berswasembada, justru masih ada impor. Oleh karenanya hingga 5 – 10 tahun ke depan masih kompetitif,’ kata Rosiady Sayuti. Pintu pemasaran pun dipermudah. ‘Saat ini NTB sedang menggagas yang dinamakan e-pasar, yaitu sistem untuk memasarkan komoditas jagung, dan nantinya rumput laut, dengan cara lelang online,’ tutur gubernur Zainul Majdi. Cara itu memangkas biaya-biaya yang tidak diperlukan.

‘Dalam e-pasar yang mulai dijalankan pada awal 2010 terjual 6.000 ton jagung dalam 3 kali pelelangan hingga akhir tahun. Harga jual melalui e-pasar Rp2.400 per kg, sementara harga di pasar bebas pada akhir 2010 Rp2.500 per kg,’ kata Abdul Ma’ad, kabid Produksi Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi NTB. Upaya lain membangun 3 komoditas itu berupa keberpihakan kebijakan dan anggaran. Harapannya, dengan sapi, jagung, dan rumput laut, Bumi Gora pun berpijar. (Evy Syariefa)

 

  1. Potensi alam NTB tersebar di gunung, darat, dan lautnya. Kini NTB gencar mengembangkan 3 komoditas andal: sapi, jagung, rumput laut
  2. Jagung di KUD Pasca Karya dikeringkan dengan cara alami selama 2 hari hingga kadar air mencapai 14 – 16% Dengan pengering otomatis dalam hitungan 6 – 7 jam kadar air jagung pipil yang semula 27 – 30% menjadi 13 – 16%
  3. Gubernur NTB TGH Zainul Majdi, program pengembangan sapi, jagung, dan rumput laut (PIJAR) untuk mewujudkan visi NTB Bersaing
  4. Rosiady Sayuti, kepala BAPEDA NTB, PIJAR menjadi unggulan utama karena permintaan pasar dalam negeri masih terbuka sehingga 5 – 10 tahun ke depan masih kompetitif
  5. NTB juga salah satu produsen mutiara laut dan air tawar
  6. Potensi lain di NTB berupa beragam buah unggul seperti durian tong medaye, salah satu varietas unggul nasional
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img