Trubus.id—Nursahid memanen 19,2—21 ton cabai rawit dari kebun seluas 1 hektare (ha) yang berpopulasi 6.000 tanaman. Bandingkan dengan produksi kebun milik petani lain yang hanya menuai 6—12 ton cabai rawit di luasan dan populasi sama.
Cabai rawit kepunyaan Sahid juga genjah karena berbunga saat tanaman berumur 55 hari setelah tanam (hst). Selang 40 hari petani di Desa Uwie, Kecamatan Muara Uya, Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan, itu memanen tanaman sarat buah. Masa simpan cabai itu pun relatif lama yakni 14 hari pada suhu ruang (25—30oC). Keunggulan lain cabai rawit itu yakni relatif toleran antraknos.
Ia menanam cabai rawit lokal bernama tiung tanjung. Pria berumur 49 tahun itu menanam di dataran medium 300—500 meter di atas permukaan laut (m dpl). Ia menanam sekitar 6.000 cabai tiung tanjung di luas lahan 1 ha dengan jarak tanam 80 cm x 170 cm.
Tim peneliti cabai rawit tiung tanjung Yudhi Ahmad Nazari, S.P., M.P., dari Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat mengatakan Cabai itu juga dilepas sebagai varietas cabai rawit dengan nomor 140/Kpts/PV.240/D/ IV/2023 pada 2023.
Penanaman tiung tanjung cocok di dataran rendah sampai menengah (kurang dari 500 m dpl). Tinggi tanaman tiung tanjung 150—210 cm dengan umur berbunga 55—80 hst dan umur panen mulai 95—105 hst. Memiliki potensi hasil 13,25—16,41 ton per ha.
Bentuk buah tiung tanjung kerucut dengan panjang 3,7—4,9 cm dan diameter 0,56—1,27 cm. Cabai itu berwarna hijau kekuningan hingga oranye kemerahan. Cabai itu juga memiliki bentuk biji bulat pipih dengan bobot 1.000 biji yaitu 4,88—5,05 g. Buah mampu disimpan selama 7 —8 hari pada suhu ruang (25—30oC).
Populasi per ha mencapai 6.000—6.500 tanaman dengan kebutuhan benih 39,65— 47,53 gram per ha. “Varietas itu semakin dikenal mulai 2023 sebagai cabai rawit varietas unggul lokal,” kata Yudhi.
