Monday, August 8, 2022

Cantik Walau Tanpa Bunga

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

E. unispina koleksi Andy Chandra terbesar di IndonesiaSejak pertama kali melihat sosoknya dalam buku Caudiciform & Pachycaul Succulents karya Gordon D. Rowley pada 2008, Andy Chandra, langsung terpikat pada Euphorbia primulifolia. “Sosoknya unik seperti gantungan kunci,” katanya. Setelah mencari selama 6 bulan, seorang kerabat yang tengah berkunjung ke Thailand mengabarkan bahwa tanaman incarannya dijual di salah satu nurseri di sana. Tanpa menunggu lagi, Andy langsung meminta untuk dibelikan. Kini si “gantungan kunci” itu menghuni kediaman hobiis di Surabaya, Jawa Timur, itu.

E. primulifolia tampil unik dengan kaudeks selebar keping cakram padat. Sosok tanaman terlihat cebol dengan cabang yang pendek. Daun hanya tumbuh di ujung-ujung cabang. Bentuk daun lanset dan tipis, mirip E. milii yang dulu populer di tanahair. Sosok tanaman terlihat tua karena tekstur kulit batang kasar seperti pecah-pecah. Sayang, Andy tidak mengetahui pasti umur tanaman. “Sejak dibeli hingga kini pertumbuhannya sangat lambat. Paling hanya bertambah beberapa milimeter,” katanya.

Lelang Eropa

E. primulifolia itu kini ditemani caudiciform lain, merujuk  pada tanaman yang batang dan akarnya membesar. Sebut saja E. unispina koleksi eksklusif yang didapat Andy dari acara lelang terbatas di Eropa 2 tahun silam. Tanaman setinggi 65 cm berbatang putih menggembung itu memang istimewa.

Kerabat jarak pagar itu memiliki daun berbentuk segitiga dengan bibir daun berwarna merah marun. Permukaan daunnya licin dan mengilap. Daun tumbuh bergerombol di setiap ujung cabang dan tersusun menyerupai kuntum bunga mawar Rosa sinensis. Pada batang muda diselimuti duri. Andy rela menggelontorkan uang hingga Rp25-juta untuk memboyong tanaman yang sosoknya ibarat miniatur pohon raksasa itu. Primulifolia dan unispina menjadi kebanggan Andy karena merupakan yang terbesar di tanahair.

Total jenderal terdapat 20 caudiciform dikoleksi Andy. Walau habitat asli tanaman gurun itu dari Afrika, hampir semua koleksinya diperoleh dari berbagai nurseri di Eropa, Amerika, dan Thailand. Ayah 2 anak itu kerap menitip pada kerabat yang bepergian ke mancanegara. Mafhum, komunitas pencinta tanaman berkaudeks menggembung itu di luar negeri cukup banyak dan koleksinya lebih beragam.

Secara harfiah, Kaudeks merupakan organ penyimpan air pada tanaman yang tumbuh di daerah kering dan miskin unsur hara. Proses adaptasi terhadap lingkungan ekstrem itu melahirkan beragam bentuk kaudeks yang unik secara alami. Paparan sinar ultraviolet yang kuat mempertinggi peluang terjadinya mutasi alami. Keunikan bentuk juga bisa didapat lewat teknik budidaya. Itu yang dilakukan beberapa hobiis dengan men-training batang dan akar yang gendut layaknya bonsai.

Mini

Bentuk serbaunik itulah yang memikat hobiis. Lihat saja E. moratii koleksi Didi Turmudi di Tangerang, Banten. Bentuknya bak miniatur pegulat yang kulit tubuhnya berlipat-lipat tengah menunduk. Fat plant – sebutan euphorbia berkaudeks – itu didatangkan dari Inggris 2 tahun silam.

Didi juga mengoleksi E. primulifolia yang batangnya berkulit kemerahan sehingga kerap disebut red caudex. Tinggi tanaman hanya 5 cm. Pada ujung batang muncul 2 cabang yang melengkung ke bawah seperti tanduk kerbau. Meski tak bertabur bunga, kelangkaan dan keunikan euphorbia eksotis menyihir para hobiis. (Tri Istianingsih)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img