Wednesday, August 10, 2022

Jungkat-Jungkit Permata Siam

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Tulip siam hibrida turunan Curcuma sparganifolia, bercorak di ujung kelopakBunganya berwarna merah, merah muda, putih, berbercak cokelat, atau merah marun di ujung kelopak, bahkan kuning. Bentuknya dipuji laksana susunan mahkota lotus yang anggun. Tangkai bunga panjang dan kaku. Jika dipotong dengan tangkai setinggi 60 – 90  cm, bunga segar hingga 3 minggu dalam rangkaian. Saat ditanam sebagai tanaman taman, ia memamerkan bunga tanpa perlu perlakuan khusus terutama pada kemarau.

“Ini salah satu tanaman hias andalan kami,” tutur Surawit Wannakrairoj PhD, ketua Ornamental Plant Variety Developed Club, Thailand. Asisten profesor pada Biotechnology for Crop Improvement, Kasetsart University, itu, merujuk pada hibrida-hibrida tulip siam alias bunga kurkuma asal negeri Gajah Putih.

Sosok idaman

Hibrida-hibrida itu lahir dari tangan dingin Pichai Manichote, pelopor penyilangan kurkuma di Thailand. Pichai memulainya pada 1997 dengan mengawinkan Curcuma alismatifolia dengan C. cordata. Keduanya sama-sama memiliki kelopak bunga berwarna merah muda. Bedanya kelopak alismatifolia lebih lebar sehingga susunan kelopaknya terlihat roset seperti bunga lotus. Cordata berkelopak kecil, tapi jumlahnya banyak.

Sayangnya, tangkai bunga alismatifolia pendek yakni hanya 45 – 60 cm. Sementara tangkai bunga cordata mencapai 60 – 90 cm. Alismatifolia hanya dapat dinikmati keindahannya di dataran tinggi di atas 800 m dpl seperti Provinsi Chaiyaphum dan Chiang Mai, Thailand utara. Cordata adaptif di dataran rendah. “Itulah sebabnya saya ingin menciptakan tulip siam yang bersosok seperti alismatifolia, tapi bertangkai panjang dan kaku seperti cordata, sekaligus adaptif di dataran rendah dan menengah,” ujar Pichai.

Setelah 3 tahun melakukan penyilangan, lahirlah permata siam – sebutan lainnya – generasi baru seperti yang diidam-idamkan. Pichai pun menanam laddawan – nama tulip siam hibrida silangan Pichai – di Nakhon Pathom yang berketinggian di bawah 100 m  dpl dan Kanchanaburi (400 – 450 m dpl) seluas 10 ha.

Pichai memanen kurkuma dalam 2 bentuk: rimpang dan bunga potong. Rimpang kurkuma biasanya untuk memenuhi pasar ekspor seperti Belanda, Jepang, dan Amerika Serikat; bunga potong, pasar lokal. Hingga kini Belanda salah satu negara di Eropa yang mengembangkan tulip siam secara intensif (baca: Surga Tulip Siam di Negeri Ratu Wilhelmina, edisi Agustus 2011 halaman 54 – 57).

Salju chiang mai

Kesuksesan Pichai melahirkan varian kurkuma baru itu menginspirasi para pengusaha tanaman hias di kawasan Chiang Mai, sentra bunga potong di Thailand. Mereka beramai-ramai menyilangkan aneka jenis alismatifolia dengan jenis kurkuma lain untuk mendapatkan variasi warna dan beragam bentuk kelopak. Mafhum, Thailand memang surganya kurkuma. Dari 65 spesies kurkuma yang tersebar di Benua Asia, Afrika, dan Australia, 30 spesies di antaranya hanya tumbuh di negara yang tak pernah dijajah bangsa lain itu.

Sebut saja Curcuma thorelii yang kerap dipakai sebagai indukan untuk melahirkan kurkuma berwarna putih. Indukan lainnya, C.  sparganifolia, yang menurunkan karakter kelopak berwarna merah muda dengan bercak cokelat atau merah marun di ujung kelopak. Yang tak kalah cantik C. gracillima sebagai induk untuk menghasilkan varian dengan kelopak bercorak.

Dari para penyilang di Chiang Mai  itulah muncul hibrida baru yang populer seperti chiang mai pink dan chiang mai snow. Kedua kultivar itu membanjiri pasar bunga potong Thailand, pun negara-negara di Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat.

Sayang, euforia budidaya tulip siam itu tersendat wabah penyakit busuk umbi dan serangan kutu pada 2005 – 2006. Maklum, tingginya permintaan pasar membuat para pekebun membudidayakan kerabat temulawak itu di lahan sama secara terus-menerus. Para penyilang juga belum memperhatikan aspek ketahanan penyakit sebagai salah satu sifat unggul. “Ketika itu kami masih fokus menghasilkan sosok kelopak yang beragam,” tutur Pichai.Popularitas tulip siam kian tenggelam dengan munculnya tren euphorbia, aglaonema, adenium, dan anthurium.

Genjot produksi

Memasuki 2008 popularitas keempat tanaman hias tren mulai melorot. Jumlah pekebun dan produksi melonjak membuat pasar jenuh. “Pada kondisi seperti itu bisnis tanaman hias yang bertahan adalah lansekap dan bunga potong,” ujar Setapong Lekawatana, direktur Promosi Produksi Tanaman Hias dan Bunga, Departemen Pengembangan Pertanian, Thailand, saat dijumpai di Batam, Kepulauan Riau. Karena itu pemerintah Thailand kembali fokus menggenjot produksi permata siam sebagai komoditas andalan.

Contohnya Pichai yang kembali menanam setidaknya 6 – 7 varietas tulip siam seluas 2 ha di Nakhon Pathom dan 4 ha di Kanchanaburi. Harapannya permata thailand itu kembali membanjiri pasar bunga potong lokal dan pasar umbi untuk ekspor. (Imam Wiguna)

Previous articleKasava Juara Dunia
Next articleCantik Walau Tanpa Bunga
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img