Trubus.id—Kini kompos dan sayur dapat dipanen dalam satu tempat. Anda dapat menggunakan tong bekas yang tidak terpakai. Caranya lubangi sekitar 70 lubang di dinding sebuah tong berkapasitas 150 liter. Jarak antarlubang tanam ke samping 20 cm, sedangkan jarak lubang dengan lubang di bawahnya 10 cm.
Lalu masukkan media tanam berupa campuran pasir dengan kompos perbandingan 1:1. Di dalam tong itu pula letakkan satu tong lagi yang kapasitasnya lebih kecil yaitu 75 liter. Tong kecil itu sebagai bioreaktor atau pengolah limbah rumah tangga menjadi pupuk organik. Lantas masukkan limbah rumah tangga ke dalam tong kecil itu.
Selanjutnya panen limbah yang sudah terurai lewat bagian bawah tong, masukkan ke media tanam sebagai pupuk organik. Sebelum memasukkan limbah rumah tangga ke dalam tabung bioreaktor, masukkan dahulu kompos yang dijual di pasaran hingga ketebalan 5 cm.

Setelah itu baru masukkan limbah rumah tangga seperti nasi, tulang ikan, dan kepala ikan dengan ketebalan kira-kira sejengkal jari tangan.
Langkah terakhir taburi sampah organik dengan segenggam dekomposer bubuk. Setelah 3 hari, pupuk organik sudah bisa digunakan. Syaratnya di dalam pupuk itu tidak boleh ada larva. Anda dapat menanami lubang di dinding tong itu dengan sayuran seperti sawi. Perawatannya sederhana.
Cukup menyiram sehari dua kali pada pagi dan sore ketika musim kemarau. Tidak perlu pemupukan kimia. Cukup dengan satu tong vertikultur berkapasitas 150 liter, sampah organik dari 3—5 keluarga termanfaatkan.
Kombinasi pupuk organik dengan budidaya sayuran sistem vertikultur itu bermanfaat mengurangi limbah dari rumah tangga. Selain itu sebagai sarana rekreasi karena sayuran yang tumbuh mempercantik halaman rumah dan mengurangi stres.
