Berdasarkan pemberitaan harian umum Kompas 7 Maret 2006, seekor burung walet di Pangkalpinang, Bangka Belitung, terpapar virus avian influenza (AI). Berita itu cukup membuat panik para pengusaha walet di dalam dan luar negeri. Wajar jika importir di Hongkong maupun Amerika Serikat langsung mengontak para eksportir di tanahair. Itu juga yang dialami penulis, ?Telepon tak pernah berhenti berdering dari pagi sampai malam.?
Itulah cara Ricky -panggilan akrabnya - mengagumi hasil kerjanya, mencetak cupang jawara. Bila pagi menjelang, ayah si kembar Jordan dan Jennifer itu berkeliling dari lubuk ke lubuk, ibarat menyampaikan salam selamat pagi pada 1.000 cupang kesayangan. Selang sesaat ketika matahari sepenggalah naik, kegiatan menjemur cupang pun menjadi rutinitas.
Bagi pekebun kubis, akar gada menjadi momok. Bengkak akar itu mengganggu distribusi unsur hara dan air pada tanaman. Akibatnya tanaman layu, kering, kerdil, dan akhirnya mati.
Harga sarang walet terus menurun. Dua tahun lalu harga sekilo mencapai Rp16-juta; kini Rp12-juta/kg. Penyusutan nilai itu tidak lepas dari produksi melimpah dari negara produsen. Bagi pemain baru kenyataan ini seperti mimpi buruk. Sebaliknya gejolak harga itu tidak sampai membuat pemain lama harus menyetop bisnis liur emas itu karena merugi. Maklum overhead cost memelihara walet tetap sangat rendah.
Hewan pertama yang ingin saya ternakkan adalah kambing. Ayah membelikan seekor kambing kacang (jenis kecil) saat saya berusia 4 tahun. Setelah masuk taman kanak-kanak, ditambah beberapa ekor domba. Puncaknya, pada waktu kelas 5 SD, jumlahnya menjadi hampir 20 ekor. Kambing, sapi, dan domba!
Sepetak lahan berukuran 2 m x 5 m di dak rumah Crist Indah Pancawati dimanfaatkan untuk membangun kandang-kandang parkit bertingkat 4. Sebuah kandang hanya berukuran 50 cm x 50 cm x 200 cm. Di sanalah sejak 3 tahun silam alumnus Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta, itu menangkarkan 50 pasang Melopsittacus undulatus. Pendapatan tambahan minimal Rp1-juta hasil penjualan parkit umur 4 pekan diraup Iin-sapaan akrabnya-setiap bulan.
Noktah cokelat itu terdapat di sekujur baglog. Dua pekan kemudian berubah menjadi cairan bening tanda menetasnya ribuan telur tungau. Bila sudah begitu alamat gagal panen di pelupuk mata. Itulah yang dialami Wagiman, pekebun di Cangkringan, Yogyakarta. Dua kumbung yang tersisa berisi 12.000 baglog jamur kuping luluh lantak diganyang hama baru. Masyarakat setempat menyebutnya krepes.
Jalan setapak 25 m di antara dua rak itu ditelusuri Junaedi (28 tahun). Ia mengecek rak-rak lain. Ketika pandangannya diarahkan ke rak ke-6, Jujun—begitu sapaannya—terperanjat bukan kepalang: 160 pot melompong. Hanya tersisa media tanam. Rupanya legacy, pride of sumatera, dan red patricia tercerabut dari pot itu dan hilang.
Sejak kecil saya telah membuktikannya. Kakek saya petani sejati. Buta huruf, tapi pandai membuat pondok di ladang. Di sekitar ladang ada sungai, sayur-sayuran liar, ikan-ikan, burung, siput, dan kelelawar yang lezat.
Sepotong plastik sepanjang 1 m bermotif belang-belang hitam-putih berkibar di tengah persawahan. Salah satu ujungnya diikat pada sebatang kayu yang ditancapkan ke tanah.