Friday, December 9, 2022

Dalam Rongrongan Tyrophagus

Rekomendasi

 

Dari 10 kumbung, 8 di antaranya hancur. Dua kumbung lain yang tersisa kembali diisi masing-masing 6.000 baglog dan tak luput dari serangan krepes (kedua huruf e dibaca keras seperti pada kata tempe). Akibat serangan hama itu pria kelahiran 60 tahun lalu menderita kerugian lebih dari Rp40-juta. Harga sebuah baglog di sana Rp900. Serangan datang sebelum miselia tumbuh. Memang pada mulanya permukaan jamur yang diserang. Namun, lama-kelamaan hama merasuk ke dalam baglog. Jamur pun gagal tumbuh. Bila tumbuh pun ukurannya amat kecil dan teksturnya keras.

Setahun terakhir serangan hama baru itu meluas. Sumedi Purbo, pekebun jamur kuping lainnya, menghadapi masalah serupa. Alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada itu mengelola 2 kumbung berukuran 12 m x 7 m yang diisi masing-masing 7.000 baglog. Dampak serangan hama, produktivitas baglog menurun drastis. Biasanya (panen, red) minimal 60 gram segar per baglog, sekarang cuma 25 gram. Turunnya hingga 55%, kata Sumedi.

Jika dirata-ratakan, Semedi hanya memanen 9 kuintal jamur segar dari 7.000 baglog per musim panen. Sebelum tungau mengamuk, ia mampu memetik 24 kuintal Auricularia auricula pada periode sama atau turun 15 kuintal. Harga jamur kuping segar di tingkat pekebun Rp7.000 per kg sehingga kerugiannya mencapai Rp3.200.000 dari sebuah kumbung per sekali produksi. Di sentra jamur Kaliurang, Yogyakarta, hama baru itu momok bagi pekebun. Dari total 150 pekebun, yang bertahan kini hanya 50 orang.

Serangan meluas

Selain Yogyakarta, serangan hama baru itu meluas di beberapa sentra di Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti Purwokerto, Temanggung, Wonosobo, Semarang, dan Malang. Penyebarannya begitu cepat melalui penjualan baglog. Solihin, pekebun jamur kuping di Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, salah satu korbannya. Tahun lalu ia rugi Rp2-juta karena 2.000 baglog yang dibeli dari Bandung terserang hama itu. Waktu buka cincin baglog, baru kelihatan sekumpulan telur berwarna cokelat, ujar pria 52 tahun itu.

Hama jamur kuping itu menyambangi sentra Cangkringan, 30 km utara Yogyakarta, pada 2004. Serangga itu hanya menyerang jamur kuping. Meski di kumbung itu terdapat jamur tiram, krepes tidak akan menyerangnya. Itulah yang dialami Sumedi Purbo. Menurut Tri Harjaka SP MP, ahli hama Universitas Gadjah Mada, krepes termasuk dalam genus Tyrophagus. Sayang, spesiesnya belum teridentifikasi.

Semula pekebun di daerah berhawa sejuk itu menganggap tidak berbahaya. Telur itu mirip Urea yang bergerombol, dicuci saja sudah hilang, ujar Wagiman. Saat itu tungau hanya tampak di lembaran jamur kuping. Menurut ayah dua anak itu, krepes kemudian menyebar ke dalam baglog. Telur-telurnya dipecahkan dan keluar cairan putih lengket. Cairan itulah yang menghambat pertumbuhan jamur. Ketika telur ditekan, terdengar bunyi pes sehingga masyarakat setempat menyebutnya krepes.

Menurut Dr Ir Sedyo Hartono MP, ahli hama jamur di Universitas Gadjah Mada, krepes sudah ditemukan pada 2002. Saat itu krepes ditemukan hanya 2 persen dari jumlah baglog jamur kuping. Wajar jika pertumbuhan jamur belum terganggu. Meledaknya populasi krepes karena lingkungan kumbung dan cara produksi yang kurang bersih. Mungkin peralatannya steril, tapi tangannya tidak, kata lulusan Tokyo University of Agriculture and Technology itu. Setelah melakukan sterilisasi, tangan pekebun biasanya langsung dilap dengan kain kering. Dari kain kering itulah krepes menyebar.

Siklus hidup hama baru itu unik. Induk betina mengandung setelah itu ia kawin. Lantas mati. Sebelum meregang nyawa ia mengisap dan menggigit tudung jamur. Namun, kandungannya semakin besar. Telur di dalam abdomen itu mengisap cairan induknya sebagai pakan. Dua pekan berselang sekitar 200 telur menetas menjadi tungau. Belum diketahui umur tungau hingga mati.

Kondisi lingkungan terlalu lembap dan kaya bahan organik seperti kayu lapuk dan tumpukan bekas media menjadi sarang krepes. Guyuran hujan mendorong tungau masuk ke kumbung. Di rumah tanam jamur itu tungau leluasa hidup dan berkembang biak. Pada dasarnya krepes takut air, tutur Tri Harjaka. Oleh karena itu jamur yang terserang cukup disemprot dengan air maka krepes muda berukuran 0,5 mm mati. Namun, krepes dewasa berukuran 2 mm tetap bertahan.

Pekebun di Yogyakarta mengendalikan hama dengan penyemprotan akarisida. Dosis 20 cc per liter air. Namun, cara itu tidak efektif. Di sentra sayuran yang lokasinya di sekitar kumbung, penyemprotan pestisida berdosis tinggi menyebabkan hama mencari daerah baru nirpestisida. Jamur kan tidak bisa tumbuh kalau disemprot pestisida, kata Sedyo Hartono. Oleh karena itu jamur jadi pilihan lokasi baru bagi tungau.

Sanitasi lingkungan yang terkontrol solusi untuk menghambat pertumbuhan dan perkembangan hama. Kumbung akan tetap tahan terhadap hama jika setiap 2 tahun direnovasi mulai dari awal. Rak-rak baglog musti diganti lantaran kayu cenderung lembap dapat menjadi sarang cendawan lain. Selain itu, minimal satu bulan setelah panen, kumbung dibersihkan dengan cara penyemprotan desinfektan dicampur dengan larutan air kapur pertanian. Setelah didiamkan seminggu, barulah baglog ditaruh di rak.

Sanitasi tak hanya kumbung, baglog pun harus dijaga. Sebaiknya pekebun menggunakan plastik baru sebagai wadah baglog. Bibit yang digunakan pun harus diketahui asal-usulnya. Jika bibit yang digunakan telah terkontaminasi, pertumbuhan tungau akan semakin merajalela. Oleh karena itu keterpaduan antara penjual bibit dan pekebun serta sesama pekebun jamur dalam menjaga lingkungannya sangat berpengaruh dalam pemberantasan hama tungau. (Vina Fitriani/Peliput: Rosy Nur Apriyanti)

Previous articleUlar Palsu
Next articleBatu Luruh Karena Laurat?
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mentan Ingin Produk Hortikultura Segera Tembus Pasar Mancanegara

Trubus.id — Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menginginkan produk hortikultura, seperti buah dan sayur bisa tembus pasar mancanegara. Mengingat,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img