Wednesday, January 28, 2026

Dahlia, Dag Osteoporosis

Rekomendasi
- Advertisement -

 

Dahlia molek bunganya, umbinya berkhasiat sebagai antiosteoporosisYayasan Osteoporosis Internasional mencatat satu dari tiga perempuan dan satu dari lima pria di Indonesia terserang osteoporosis atau tulang rapuh.  Sayangnya, penyakit itu tak menunjukkan tanda-tanda khusus pada mulanya. Penderita baru mengetahui osteoporosis ketika mengalami patah tulang. Oleh karena itu osteoporosis dijuluki epidemi diam-diam. Padahal, kita dapat mencegah osteoporosis, antara lain dengan  konsumsi umbi dahlia.

Umbi tanaman anggota famili Asteraceae itu siap panen saat berumur minimal 7 bulan setelah tanam. Umbi itu mengandung inulin atau  senyawa karbohidrat alamiah yang merupakan polimer dari unit-unit fruktosa. Adanya inulin menyebabkan umbi dahlia terasa manis.

Atasi osteoporosis

Peneliti utama di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian Bogor, Dr Sri Widowati MAppSc, mengatakan inulin berpotensi mencegah dan mengatasi osteoporosis. Dalam riset ilmiah, Widowati mengekstrak inulin dari umbi dahlia, yang merupakan bahan substrat bagi pembuatan DFA III (difructose anhydride III) untuk memperkuat tulang dan mencegah osteoporosis.

Mikroflora kolon memfermentasi inulin sehingga bersifat sebagai prebiotik. Prebiotik komponen pangan yang berfungsi sebagai substrat mikroflora yang menguntungkan di dalam usus.  Di samping itu, beberapa mikroflora spesifik menghasilkan asam laktat yang merangsang gerak peristaltik usus. Dampaknya adalah  meningkatkan penyerapan kalsium yang pada akhirnya  mencegah osteoporosis.  Asam laktat sekaligus mencegah konstipasi atau sembelit.

Hasil riset peneliti di Pusat Penelitian Kimia LIPI, Dra Sri Pudjiraharti MS, menunjukkan  DFA III meningkatkan absorpsi kalsium pada usus tikus, sapi, dan manusia. Proses penyerapan kalsium lebih cepat dengan adanya DFA III. Pudji melakukan teknologi proses produksi senyawa DFA III secara enzimatik dengan memanfaatkan mikroba aktinomiset Nonomuraea sp yang menghasilkan enzim inulinfruktotransferase. Aktivitas enzim tetap stabil sampai suhu 70oC sehingga berpotensi untuk pengembangan skala industri.

Umbi dahlia berpotensi besar untuk dikomersialkan. “Dahlia yang selama ini hanya dimanfaatkan bunganya, sebenarnya berpotensi sangat besar. Dengan berbagai penelitian yang ada diharapkan umbi dahlia mampu menjadi bahan baku industri suplemen untuk mencegah osteoporosis dan berbagai manfaat lainnya,” kata Widowati. Apalagi kadar inulin dahlia mencapai 93,5%.

Menurut Widowati dahlia jenis pompom yang berbunga merah darah berdiameter 6 – 8 cm  mengandung inulin tinggi. Dahlia  jenis itu juga kaya karbohidrat dan serat pangan larut paling tinggi. Inulin juga terdapat pada umbi articok jerusalem Helianthus tuberosus, cikori Chicoryum intybus,  dandelion Taraxacum officinale,  dan yakon Smallanthus sanchifolius.

Estrogen

Herbalis di Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Lukas Tersono Adi  mengatakan sejak dulu kaum perempuan di pedesaan Jawa mengonsumsi umbi dahlia. Mereka merebus umbi dan menikmatinya seperti menyantap ubijalar atau singkong. Alumnus Universitas Diponegoro itu mengatakan pada umumnya yang mengonsumsi umbi berwarna kecokelatan itu adalah perempuan dewasa untuk menambah hormon kewanitaan.

Menurut konsultan reumatologi, divisi Reumatologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,  dr Bambang Setiyohadi SpPD, perempuan lebih berisiko terkena osteoporosis daripada pria. Kementerian Kesehatan mencatat prevalensi osteoporosis pada perempuan berusia kurang dari 70 tahun mencapai 18 – 36%; pria 20 – 27%. Prevalensi osteoporosis untuk perempuan berusia lebih dari 70 tahun sebesar 53,36%,  sedangkan pria 38%. Makin bertambah usia, kian tinggi risiko osteoporosis.

Setiap peningkatan umur satu dekade setara peningkatan risiko osteoporosis 1,4 – 1,8 kali. Itu berkaitan dengan menurunnya kadar estrogen. Keberadaan hormon itu memang memiliki efek langsung dan tak langsung pada tulang. Secara tak langsung estrogen berpengaruh terhadap penyerapan kalsium di usus, ekskresi kalsium di ginjal, dan sekresi hormon paratiroid. Secara langsung kadar estrogen yang tinggi akan meningkatkan formasi tulang dan menghambat resorpsi tulang oleh osteoklas.

Pascamenopause pembentukan tulang di tubuh tidak berubah bahkan cenderung menurun.  Padahal, produksi estrogen jauh berkurang yang diikuti meningkatnya aktivitas osteoklas atau pengikisan tulang dan meningkatnya ekskresi kalsium di ginjal. Defisiensi estrogen meningkatkan resorpsi tulang daripada pembentukannya. Pascamenopause rata-rata kehilangan massa tulang 1,4% per tahun. Massa tulang yang rendah dan kerusakan jaringan tulang yang berakibat pada kerapuhan tulang memang menjadi penanda osteoporosis.

Menurut World Health Organization  massa tulang diklasifikasikan dengan dasar    skor T yaitu bilangan deviasi standar dari densitas mineral tulang (Bone Mineral Density/BMD). Massa tulang penderita osteoporosis menunjukkan angka lebih kecil daripada -2,5. Risiko pria terserang osteoporosis lebih rendah karena puncak BMD pria lebih tinggi, hilangnya massa tulang lebih lambat, harapan hidup lebih pendek, lebih jarang mengalami jatuh, dan penghentian hormon produksi yang lebih bertahap.

Laki-laki tidak pernah mengalami menopause, maka kehilangan massa tulang yang besar seperti pada perempuan tidak pernah terjadi. Namun, kebiasaan merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol justru meningkatkan risiko osteoporosis. Konsumsilah rutin dahlia, maka selamat tinggal osteoporosis. (Susirani Kusumaputri)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img