Monday, August 15, 2022

Delapan Dewa Menapak Peruntungan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Dengan harga Rp50.000—Rp300.000/pot, ia meraup omzet lebih Rp50-juta. Pengelola Ladang Euphorbia itu tidak menyangka sambutan masyarakat amat bagus. Semula pilihan menjual tanaman berduri itu hanya menguji selera pasar.

Pameran akbar tanaman dan satwa itu awal orang menggemari euphorbia. Para pedagang tak menyangka tanaman asli Madagaskar itu laris manis. Rezeki Asep terus berlanjut dua bulan kemudian. Saat itu 50 pot euphorbia yang dititipkan ke rekannya untuk dipamerkan di Gebyar Bonsai Istana Cipanas ludes dibeli konsumen.

Pengalaman sukses di 2 ajang itu memacu semangat pemuda bertubuh kecil itu lebih giat memperbanyak tanaman. Hampir tak ada waktu tanpa euphorbia. Pekebun di Bumi Serpong Damai, Tangerang, itu seolah berpacu dengan waktu untuk memenuhi permintaan pelanggan yang rata-rata mencapai 500 pot/bulan.

Asep kini sibuk mempersiapkan pak sienhwa—bahasa Cina yang artinya bunga delapan dewa—untuk menyambut Natal. Sebanyak 100 pot dirawat intensif agar tampil prima pada hari-H. Setiap bunga yang muncul dipotes agar tanaman lebih rimbun. Setelah tumbuh subur dan bercabang banyak, baru dibungakan.

Hasilnya tanaman setinggi setinggi 50 cm di pot 50 cm itu kini berselimut kembang berbentuk angka 8. Asep tak membuat target mulukmuluk. Ia hanya berharap setengah dari euphorbia seharga Rp300.000/pot itu terjual. Nyatanya, ketika dipajang di gerai pada awal Desember dalam beberapa hari 20 pot sudah “dilamar” konsumen untuk menyemarakkan Natal.

Impor marak

Kesibukan serupa dialami Anwar, di kawasan Senayan, Jakarta Selatan. Saat ini ia sedang getol-getolnya berburu jenis baru dan memperbanyak tanaman. Pesanan yang terus mengalir membuat Anwar harus memacu produksi. Tiga pekerja yang membantu merawat sekaligus menjual tanaman kini kewalahan. Apalagi bila datang jenis baru. “Kerapkali baru datang sebulan, konsumen sudah memaksa untuk membeli,” ujarnya.

Alhasil, tanaman di kebun tak pernah sempat dibesarkan. Karyawan perusahaan garmen itu pun berencana meninggalkan pekerjaannya yang telah digeluti 20 tahun untuk mengelola Mutia Flora, nurserinya. Kini, setiap minggu minimal ia menjual 100 tanaman seharga Rp100.000/pot.

Padahal, sebelum Flona 2003, terhitung jari orang yang melirik anggota famili Euphorbiaceae itu. Bahkan Chandra Gunawan, salah seorang pionir yang memasukkan 5.000 pot pada 2001 masih menganaktirikan tanaman pengusir roh jahat itu. Perhatian pemilik Godongijo Nursery itu lebih tercurah pada adenium. Crown of thorn itu tak pernah dipasarkan secara khusus sebagaimana kamboja jepang. Bila ada pameran, euphorbia tak pernah dibawa. Walhasil, hingga 2003, jumlah euphorbia di atas tak berkurang.

Geliat bisnis si mahkota duri pada Flona 2003 berimbas juga pada larisnya permintaan yang diterima Chandra. Peluang itu segera ia tangkap. Sebulan kemudian kolektor tanaman variegata itu memasukkan 8.000 tanaman umur 3 bulan dari Thailand. Setelah dipelihara 2—3 bulan mereka siap dijual. Tak sampai 2 bulan, euphorbia ludes. Pembelinya datang dari Medan, Pontianak, Bandung, Semarang, dan Surabaya. Untuk memenuhi permintaan, Chandra kembali memasukkan 7.000 pot pada November 2003.

Marak di daerah

Beberapa pemilik nurseri lantas mengikuti jejak pria kelahiran Semarang itu. Sebelum 2003 hanya ada 2 orang memasukkan euphorbia, kini tercatat 7 importir. Sebut saja Eddy Suharry, Yayan, Ami, dan H. Ahmad dengan volume rata-rata 3.000 pohon sekali mendatangkan.

Di Salatiga, Hedera Nursery, bekerjasama dengan Gama Cactus di Semarang mengimpor 1.000 tanaman pada Maret 2003. Saat dilepas Mei, 500 tanaman langsung habis di pameran tanaman hias di Java Mall, Semarang. Sisanya terjual secara bertahap. Pada Oktober 2003, Lianne Kusumaryani, pemilik Hedera Nursery kembali mendatangkan 2.000 pot untuk persiapan pameran pada Januari 2004. Menjelang natal, 1.000 pot warna merah tua diboyong.

Bunga-bunga dari Hedera Nursery itu lantas dibeli pedagang di seputaran Semarang, Temanggung, Pacitan, Wonosobo, dan Solo. Pun dari luar Jateng, seperti Surabaya, Madiun, dan Kediri. Tak melulu pedagang, euphorbia juga langsung dikoleksi hobiis di Solo, Semarang, Yogyakarta, dan Ungaran.

Kegiatan impor juga dilakukan Pami Hernadi di Bandung. Pada Oktober 2003, pemilik Venita Nursery itu mendatangkan 1.000 pohon dari Thailand. Dalam tempo 1 bulan, pak sien hwa itu habis diborong pedagang dari Medan. Diakui Pami, masyarakat Bandung belum segetol orang Jakarta memburu euphorbia.

Bermuara di Aceh

Geliat bisnis poy sian—namanya di Thailand—di Jakarta dan kotakota lain di Jawa terbilang lambat daripada Medan. Di kota terbesar ke-3 di Indonesia itu, tren euphorbia marak sejak 2001. Menurut Evita Julirentina, pemilik Aneka Indah Nursery di Medan, euphorbia didatangkan langsung dari Thailand lewat Penang, Malaysia. Evita sempat menenteng sendiri 30 tanaman di dalam kopor.

Sayang tanaman rusak sehingga perlu waktu lama untuk menyehatkan kembali. Akhirnya, euphorbia diambil via importir di Jakarta, meski harga jauh lebih mahal.

Itu jelas berkah tersendiri buat para pemilik nurseri di Jakarta dan sekitarnya. “Permintaan dari Medan amat besar,” ungkap Yuni, staf Widjaya Orchids di sentul Bogor. Minimal 3 kali per 2 minggu, 200—300 pot senilai Rp2-juta—Rp3-juta dikirim pada Syahrial. Pelanggan lain, Ny Hasbah, meminta 200—400 pot/bulan, setara Rp2-juta.

Menurut Evita, dari Medan euphorbia lantas dikirim ke Nangroe Aceh Darussalam. Di provinsi berjuluk Serambi Mekah itu, bunga delapan dewa dipelihara orang mulai di pelosok desa hingga kota. Tak jelas mengapa penduduk provinsi paling barat itu menggemari euphorbia. Yang jelas, mereka berani membeli jenis baru dengan harga tinggi. (Syah Angkasa/Peliput: Prita Windyastuti & Destika Cahyana)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img