Keterbatasan akses layanan kesehatan di wilayah terpencil masih menjadi tantangan serius dalam penanganan penyakit menular di Indonesia, termasuk malaria. Kondisi ini kerap menyebabkan keterlambatan diagnosis yang berujung pada menurunnya peluang kesembuhan pasien.
Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) menghadirkan inovasi bertajuk Malaiscope, sebuah sistem cerdas untuk klasifikasi sel darah otomatis guna mendukung diagnosis malaria. Inovasi ini berhasil memperoleh pendanaan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).
Tim pengembang Malaiscope berasal dari kolaborasi mahasiswa lintas bidang, yakni vokasi dan sosial humaniora. Di antaranya Stefanus Adi Nugraha, Rani Dwi, Mutia Nastiti, Habib Aulia, serta Ardhia Hanindya.
Menurut perwakilan tim, keberagaman latar belakang keilmuan menjadi kekuatan utama dalam merancang inovasi yang lebih aplikatif di lapangan.
“Karena sumber daya manusia kami berasal dari bidang kesehatan, teknis, dan sosiologi, tentunya kami mencoba untuk menjadi inisiator dan inovator dari masalah yang terjadi di lapangan,” ujar Stefanus.
Secara umum, Indonesia masih mencatat ratusan ribu kasus malaria dengan angka kematian yang tidak kecil. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa peningkatan kapasitas diagnosis dan ketepatan pengobatan menjadi syarat penting dalam upaya eliminasi malaria.
Namun, wilayah endemis di daerah terpencil masih menghadapi keterbatasan tenaga kesehatan, fasilitas laboratorium, hingga teknologi diagnostik. Kondisi ini membuat proses deteksi sering terlambat.
Habib Aulia menjelaskan bahwa Malaiscope dirancang untuk mendeteksi parasit malaria pada sel darah merah dengan sistem klasifikasi otomatis. Dibandingkan metode konvensional, alat ini diklaim mampu memberikan hasil yang lebih cepat, akurat, dan presisi.
“Teknologi ini diharapkan dapat mempermudah analis laboratorium dalam menentukan status infeksi pasien secara lebih efisien,” jelasnya.
Sementara itu, Rani Dwi menegaskan harapan agar inovasi ini dapat memperluas akses diagnosis malaria di wilayah yang minim fasilitas kesehatan. “Kami berharap Malaiscope dapat membantu meningkatkan akses diagnosis malaria yang cepat, akurat, dan terjangkau di daerah terpencil,” ujarnya.
Dari sisi pengembangan jangka panjang, tim juga menargetkan penyempurnaan teknologi agar Malaiscope dapat digunakan secara lebih luas dan mudah di lapangan.
“Harapan kami, inovasi ini dapat terus dikembangkan agar lebih akurat, mudah digunakan, dan memberikan manfaat nyata dalam deteksi dini serta peningkatan layanan kesehatan masyarakat,” tutur Mutia Nastiti.
Inovasi Malaiscope menjadi salah satu contoh bagaimana kolaborasi lintas disiplin di lingkungan kampus dapat melahirkan solusi teknologi untuk menjawab tantangan kesehatan di Indonesia, khususnya di daerah terpencil yang masih menghadapi keterbatasan layanan diagnostik.
