Trubus.id — Dianita Risky, S.P. menghadapi pilihan sulit, antara bekerja agar mendapat penghasilan atau mengurus rumah. Ia ingin bekerja setelah menyelesaikan pendidikan di Program Studi Agroekoteknologi Universitas Brawijaya.
Namun, warga Desa Pagung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur itu, juga berat hati meninggalkan anaknya yang masih berumur 2 tahun. Pada akhirnya Dianita justru memilih keduanya.
Sarjana Pertanian itu tetap mengasuh anak, memasak, dan pekerjaan lain di rumahnya sekaligus mendapatkan omzet besar dari usahanya sendiri berhidroponik sayuran.
Kiki—sapaan Dianita Risky—rutin memanen 10 macam sayuran hidroponik seperti selada hijau, selada merah, bayam hijau, dan bayam merah. Harga jual beragam mulai dari Rp10.000–Rp15.000 per 500 gram.
Beragam sayuran itu untuk memasok pasar swalayan di Kabupaten Kediri dan Tulungagung, seperti Hypermart, Golden, Samudra, Super Top, dan Superindo.
Saat ini volume pasokan rata-rata 30 kg per jenis sayuran atau total 200 kg (semua jenis sayuran) setiap bulan. Menurut Kiki, permintaan sayuran hidroponik sejatinya lebih besar lagi. Namun, ia belum sanggup melayani permintaan.
“Jika produksi saya tingkatkan hingga dua kali lipat, pasar masih bisa menyerap,” ujar Kiki.
Perniagaan sayuran hidroponik segar itu memberikan omzet hingga Rp14 juta sebulan. Petani sayuran sejak 2018 itu senang bukan kepalang karena memiliki pendapatan tanpa harus meninggalkan rumah.
Hunian Kiki berdiri di atas lahan 72 m2. Ia memanfaatkan atap rumah untuk bertanam sayuran hidroponik. Ketika mengawali bisnis pada 2018, Kiki menyulap atap rumahnya seluas 24 m2 sebagai lokasi usaha. Di area itu Kiki mengembangkan hidroponik beragam sayuran seperti bayam hijau dan kangkung.
Ia semula membuat rumah tanam berbahan bambu yang menghabiskan Rp10 juta. Di dalamnya terdapat tiga unit meja hidroponik sistem Deep Flow Technique (DFT). Satu meja terdiri atas 10 pipa berdiameter 2,5 inci sepanjang 4 meter. Sebuah pipa memuat 200 lubang tanam. Jarak antarlubang tanam 10 cm. Jadi, pada awal beragribisnis Kiki mengelola total 600 lubang tanam.
Volume produksi masih terbatas rata-rata 30 kg per hari dan beromzet Rp1 juta per bulan. Saat itu, ia menjual hasil panen ke konsumen langsung. Permintaan sayuran hidroponik di Kediri terus melonjak.
Setahun berselang, pada 2019 Kiki membangun dua rumah tanam lagi masing-masing berukuran 6 m × 4 m dan 12 m × 11 m. Hal itu karena permintaan sayuran hidroponik yang terus melonjak.
Ia menerapkan sistem DFT dan Nutrient Film Technique (NFT). Alasannya, perawatan lebih mudah dan risiko endapan kotoran lebih minim. Dua rumah tanam baru itu berlokasi di halaman rumah orangtuanya.
Komoditas pun lebih beragam, seperti selada merah, kale, dan daun poko (Mentha arvensis). Jumlah lubang tanam meningkat hingga 4.150 buah. Kini, Kiki yang mengelola Kea Farm memiliki tiga rumah tanam.
Ia berencana menambah rumah tanam untuk melayani peningkatan permintaan pasar. Bahkan, Kiki mengembangkan kemitraan yang melibatkan 11 mitra di Kediri dan satu kelompok tani di Jombang, Jawa Timur.
