Trubus.id—Menanam padi gogo di lahan kritis bekas perkebunan karet bukan tidak mungkin. Pasalnya petani padi di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, Sugeng sukses mendongkrak hasil panen padi gogo di lahan itu.
Ia memanen 4,5 ton gabah kering panen (GKP) per hektare di lahan kritis bekas perkebunan karet. Hasil panen sebelumnya hanya 1,4—1,5 ton per ha. Rahasianya ia menggunakan varietas padi unggul dan perawatan intensif.
Saat itu Sugeng menggunakan padi gogo varietas inpago LIPI Go1 dan inpago LIPI Go2. Sugeng sempat resah saat walang sangit, penggerek batang, dan hawar bakteri menyerang kedua varietas padi pada 30 hari pascatanam.
Namun, berkat perawatan intensif kedua varietas padi itu selamat dari amukan hama dan penyakit. Hanya 3% dari populasi yang mati akibat serangan penggerek batang. Selain pemilihan varietas padi yang tepat, budidaya intensif turut andil mendongkrak hasil panen.
Sugeng dan rekan mengandalkan kompos yang terbuat dari kotoran sapi dan starter bakteri untuk mengembalikan kesuburan tanah. Karet tergolong tanaman yang rakus hara sehingga hara yang tersisa sangat minim.
Lapisan top soil atau lapisan tanah teratas yang kaya hara di lahan itu hanya 10 cm. Oleh karena itu sebelum penanaman, Sugeng dan rekan berupaya mengembalikan kesuburan tanah. Sugeng meramu kompos dengan mencampurkan 1 kg bakteri starter dengan 500 kg pupuk kandang.
Ia juga mencampur bubuk biomassa mikroalga ke dalam kompos agar tanah kembali subur. Menurut pengamatan Sugeng pemberian mikroalga membuat padi lebih hijau dan hanya sedikit gulma yang tumbuh.
Sambil menyiapkan lahan, benih Go1 dan Go2 direndam ke dalam larutan berisi bakteri unggul penambat nitrogen (BioPlus) selama 24 jam lalu ditiriskan. Takarannya 500 ml BioPlus untuk 15 kg benih.
Setelah itu benih juga direndam ke dalam Bio Vam, larutan biomassa yang mengandung fungi mikoriza arbuskular (FMA) penyerap fosfat selama 15—30 menit. Sebanyak 40 kg benih direndam dalam 15 ml Bio Vam. Setelah ditiriskan, benih siap ditanam.
Agar produktivitas padi terjaga dapat memakai pupuk organik hayati (POH) cair. Pupuk itu mengandung beragam mikroorganisme unggul sebagai pemulih kesuburan tanah dan memperkuat daya tahan tanaman terhadap serangan penyakit dan hama.
Bahan pembuat POH yakni tauge, gula merah, tetes tebu, bekatul, pakan ikan atau tepung ikan, telur, tepung jagung, agar-agar, air kelapa, air mineral, dan batuan fosfat. Sugeng dan rekan juga memberikan NPK dengan dosis 30% dari total larutan.
Selanjutnya Sugeng juga menyemprotkan POH tiga kali selama dua bulan setelah 10 hari pascatanam. Dosis POH yang digunakan yaitu 250 cc untuk 15 liter air. Ia kembali memberikan NPK saat tanaman berumur 15 hari.
Untuk mengatasi hama, Sugeng menggunakan pestisida nabati. Ia menyemprotkan biopestisida setiap 2 pekan hingga menjelang panen. Dosisnya 500 cc biopestisida dicampur 15 liter air.
Ia juga menebarkan buah mengkudu untuk mengusir tikus. Berkat benih unggul dan perawatan tepat Sugeng dan rekan meraup hasil panen berlipatlipat.
