Sunday, December 14, 2025

Dorong Inovasi Pakan Ruminansia, Peneliti BRIN Gunakan Analisis Metabolomik

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berupaya melakukan inovasi untuk menciptakan solusi pakan efisien dan efektif bagi ruminansia.  Misalnya dengan menekan produksi gas metana.

Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Rusli Fidriyanto, menuturkan terdapat berbagia metode untuk mengevaluasi pakan ternak seperti analisis in vitro dan in vivo.

Ia menjelaskan bahwa analisis in vtiro itu untuk mengetahui tingkat kecernaan pakan dengan mensimulasi kondisi pencernaan ruminansia di laboratorium. In vitro juga berfungsi untuk mengetahui  produksi gas metana yang  menjadi perhatian utama industri peternakan.

“Metana sendiri memiliki efek pemanasan global yang lebih kuat dibandingkan karbondioksida (CO2),” ujarnya.

Sementara analisis in vivo meliputi pengukuran parameter yang lebih luas yakni profil mikroba rumen, senyawa metabolit cairan rumen, hematologic darah, senyawa metabolit plasma darah, senyawa metabolit cairan urin, dan senyawa metabolit feses.

Menurut Rusli dengan meode itu memungkinkan penilaian yang lebih komprehensif mengenai pengaruh pakan. Musababnya tidak hanya pada produksi gas metana, tetapi juga pada kesehatan ternak. 

Ia menuturkan bahwa evaluasi pakan dengan dua analsis itu didukung oleh analisis metabolomik—metode yang fokus pada indentifikasi dan kuantifikasi senyawa-senyawa kecil hasil metabolisme.

Ia menuturkan bahwa pemanfaatan analisis metabolomik dalam evaluasi pakan itu  merupakan  inovasi pakan berbasis sains. Menurut Rusli dengan metode itu para peneliti memungkinkan  untuk lebih memahami perubahan yang terjadi dalam tubuh ternak setelah mengonsumsi pakan tertentu.

Menurut Rusli metabolomic dapat mengevaluasi pengaruh senyawa bioaktif dalam pakan terhadap metabolism tubuh ternak. Ia menjelasnkan bahwa senyawa bioaktif yang pada tumbuhan dapat dimanfaatkan sebagai pakan aditif.

“Memiliki potensi tidak hanya dapat menurunkan produksi gas metana, tetapi juga dapat meningkatkan kesehatan ternak,” ujarnya di lansir pada laman BRIN.

Keunggulan metabolomik lainnya yakni untuk mengidentifikasi perubahan metabolisme tubuh ternak pascakonsumsi pakan tertentu. Ia menuturkan dengan metode itu juga memungkinkan penelitian lebih mendalam mengenai degradasi senyawa bioaktif dalam proses pencernaan rumen ruminansia.

Salah satu sumber pakan yakni limbah daun serai dapur. Rusli menuturkan bahwa daun serai mengandung minyak asiri yang berpotensi untuk pakan aditif yang dapat menurunkan produksi gas metana pada rumen.

“Kami menggunakan limbah daun kayu putih sebagai bahan pakan, hasilnya menunjukkan bahwa kandungan minyak asirinya memiliki potensi untuk menurunkan produksi gas metana serta meningkatkan kesehatan ternak,” ujar Rusli.

Ia menuturkan bahwa subtitusi hijauan pakan rumput gajah dengan limbah daun kayu putih  dapat menurunkan produksi gas metana secara signifikan. Penelitian itu menunjukkan bahwa penggunaan metabolomik memungkinkan untuk mengidentifikasi degradasi senyawa bioaktif dalam rumen.

“Sebagian besar senyawa bioaktif yang tidak terdegradasi dalam rumen diketahui memiliki aktivitas antioksidan yang memiliki efek positif terhadap kesehatan ternak,” ujarnya.

Rusli menuturkan bahwa pendekatan metabolomik berpotensi dalam mengembangan solusi pakan yang lebih efektif dan ramah lingkungan. Menurutnya hasil analisis metabolomik itu dapat diintegrasikan dengan analisis Omic.

Artikel Terbaru

Anggrek Antar Anak Muda Ini Raih Omzet Ratusan Juta

Keelokan bunga anggrek tak hanya memanjakan mata, tetapi juga membuka peluang ekonomi bernilai tinggi. Hal itu dibuktikan Nandia Anindhita,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img