Tuesday, January 27, 2026

Ekspor Perikanan Tumbuh 10,66 Persen, Udang Jadi Komoditas Utama

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membuktikan tahun 2022 sebagai momentum akselerasi. Hasilnya, KKP mencatat peningkatan nilai ekspor perikanan 10,66% pada periode Januari–November 2022 dibanding periode yang sama tahun lalu.  

Adapun nilai ekspor perikanan periode Januari–November 2022 mencapai USD5,71 miliar. Sementara itu, nilai impor di periode yang sama hanya USD0,64 miliar. Ishartini, Plt. Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), bersyukur dengan capaian itu.

“Alhamdulillah, artinya masih surplus neraca perdagangan hasil perikanan sebesar USD5,07 miliar,” terangnya, dikutip dari laman Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Komoditas utama ekspor Indonesia meliputi udang dengan nilai USD1.997,49 juta, tuna-cakalang-tongkol senilai USD865,73 juta, cumi-sotong-gurita sebesar USD657,71 juta, rumput laut sebesar USD554,96 juta, dan rajungan-kepiting sebesar USD450,55 juta.

Komoditas-komoditas ini dikirim ke negara tujuan ekspor utama seperti Amerika Serikat senilai USD2,15 miliar (37,63%), Tiongkok USD1,02 miliar (17,90%), Jepang USD678,13 juta (11,89%), Asean USD651,66 juta (11,42%), serta 27 negara Uni Eropa senilai USD357,12 juta (6,26%).

Ishartini mengakui dinamika kondisi global seperti perang Rusia–Ukraina sangat berdampak pada ekspor perikanan Indonesia. Kendati demikian, KKP tetap menjaga pangsa pasar ke negara-negara tujuan ekspor utama. Selain itu, mulai menjajaki tujuan pasar prospektif di Timur Tengah seperti pemenuhan katering haji dan umroh di Arab Saudi. 

“Kita cari peluang alternatif selain pasar-pasar yang sudah mapan, ini tentu sebagai respons dinamika global yang terjadi sejak awal tahun 2022 yang tentu berpengaruh terhadap kelancaran arus barang,” tutur Ishartini.

Selain itu, Ishartini meminta jajarannya mensosialisasikan kepada pelaku usaha tentang persetujuan kesepakatan dagang antara Indonesia dan beberapa negara Eropa (Islandia, Liechtenstein, Norwegia, dan Swiss) yang tergabung dalam EFTA (European—Free Trade Association) melalui IE-CEPA (Indonesia European—Comprehensive Economic Partnership Agreement).

Ada pula Mozambique—Preferential Trade Agreement (IM-PTA) yang menyepakati penurunan tarif untuk Tuna Segar, Kepiting, dan Udang Beku serta Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang merupakan perundingan perdagangan bebas antara negara ASEAN (10 negara) dengan 5 negara mitra, yakni Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, Australia, dan Selandia Baru.

Lebih lanjut, Ishartini mengungkapkan, capaian nilai ekspor perikanan diperkirakan tumbuh 8,84% dengan nilai USD6,22 miliar hingga Desember 2022 dibanding akhir 2021.

“Ekspor yang bergeliat ini juga berdampak positif terhadap minat investasi di sektor kelautan dan perikanan,” jelas Ishartini.  

Dikatakannya, realisasi investasi triwulan 3-2022 mencapai Rp6,39 triliun atau meningkat 45,62% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya dan menyebar ke sejumlah daerah seperti di Jawa Timur, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan, dan Jawa Tengah.

Ishartini menambahkan, Republik Rakyat Tiongkok menjadi negara terbesar yang berinvestasi pada sektor kelautan dan perikanan, disusul Singapura, British Virgin Islands, dan Jepang.

“Kami memperkirakan realisasi investasi akan menembus Rp7,78 triliun atau meningkat 29,71% dibanding tahun sebelumnya di bulan Desember 2022,” urainya.

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img