Bonsai, anggrek, dan sansevieria beradu cantik.

Batang utama pohon yang tinggi dan meliuk menunjukkan kerap menerima terpaan angin. Cemara Juniperus chinensis sargentii itu kokoh menancapkan akarnya ke sekeliling batu karang. Guratan yang tegas kulit batang yang mengelupas menyiratkan kesan usia tua. Rimbun daunnya meneduhkan bagi siapa pun yang memandangnya. Begitulah penampilan bonsai kelas medium milik Tedi Priyatna dari Bandung, Jawa Barat.

“Gerak dasarnya, penampilannya, keserasian, kematangannya sangat alami dibanding dengan peserta lain,” ujar Maya Rosmayadi, juri dalam gelaran Bonsai Vaganza 2016 di Baleendah, Bandung, Jawa Barat. Itulah musabab cemara itu meraih gelar best in show. Penyelenggara Bonsai Vaganza pada 30 Oktober 2016 itu Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Kabupaten Bandung.
Tampil alami
Kemenangan sargentii milik Tedi itu menunjukkan tanaman berkualitas tertinggi. Maya mengatakan, tanaman itu penampilannya memang prima, batang utama dengan kulit kayu tebal, dan berkerut tampak sangat alami. Menurut Tedi cemara miliknya itu masih perlu waktu lebih lama lagi untuk mencapai penampilan alami tanpa lilitan kawat. Itu lantaran umur pohon yang masih sekitar 5 tahun.

Ia mendapatkan tanaman itu dari rekannya di Lembang. Tedi mengatakan, cemara sargentii termasuk tanaman yang paling sulit untuk dibentuk, sebab pertumbuhan tanaman sangat lambat. “Kalau di Jepang, pebonsai yang memiliki sargentii dengan penampilan indah akan menjadi orang yang disegani, karena terbayang betapa keras usaha untuk membentuknya,” ujarnya. Sejatinya mudah merawat sargentii asal disiplin.
Sementara itu senyum semringah juga menghiasi wajah Sunjana, dari Pameungpeuk, Kapupaten Garut, Jawa Barat. Bonsai-bonsai koleksi Sunjana menjuarai 2 kelas sekaligus, yaitu ligustrum di kelas small dan suweng di kelas mame. Sosok ligustrum berbatang utama besar dan akar gantung yang tumbuh dari cabang mengingatkan pada bentuk ideal pohon beringin. “Ligustrum salah satu tanaman favorit pebonsai,” kata Sunjana.
Juri menetapkan tanaman yang tumbuh di perbukitan itu sebagai jawara lantaran berdaun kecil dan lebat serta susunan percabangan seimbang. Pada kelas mame, suweng koleksi Sunjana mengungguli 11 peserta lain. “Peserta kelas mame penampilannya bagus, tetapi harus dipilih satu sebagai juara pertama. Pohon suweng itu yang paling bagus di antara yang lain,” ujar Maya Rusmayadi.

Menurut Maya bonsai milik Sunjana sangat mirip dengan pohon dalam ukuran normal yang tingginya dapat mencapai belasan meter. Kesannya sangat natural, penampilan daun dan susunan percabangan serasi dan kompak. Ketua panitia Bonsai Vaganza 2016, Lili Suarli, mengatakan acara itu kali ke-2. “Selain sebagai ajang kontes, gelaran itu terutama untuk mempererat silaturahmi antarpebonsai di Bandung dan sekitarnya,” ujar Lili.
Kontes anggrek
Di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, pada 10 November 2016 berlangsung kontes anggrek. Ratusan anggrek berjajar di halaman Balai Kota Among Tani, Kota Batu. Di antara 118 anggrek peserta lomba se-Jawa-Bali bertajuk Batu Shining Orchid 2016 itu, perhatian pengunjung terpusat pada anggrek di barisan terdepan. Itulah anggrek milik Dedek Setia Santoso yang dinobatkan sebagai juara umum.
Anggrek dari kelas hibrida dengan kalung pin bernomor 1 itu bentuknya unik. Menurut ketua tim juri, Sugeng Praptono, pada umumnya tangkai anggrek tumbuh ke samping, tapi anggrek milik Dedek itu tumbuh vertikal, persis pohon tegakan. “Warnanya memang tidak jauh berbeda dengan anggrek lain, yakni ungu bercampur kecokelatan, tapi bentuk bunganya menyerupai tanduk keriting,” ujar Sugeng.

Anggrek milik Dedek merupakan hasil silangan Dendrobium sianne velvet dengan Dendrobium sutiknoi. ”Dua jenis anggrek itu saya pilih (menyilangkan) karena memiliki keunggulan dan karakter kuat,” kata petani asal Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, itu. Dendrobium sianne velvet pernah meraih juara satu lomba anggrek unggul silangan dalam negeri pada April 2014.

Anggrek Dendrobium violaceoflaven milik tim PAI Jayapura, Papua, merebut gelar best of species di kelas anggrek spesies. Juri Sugeng mengatakan, anggrek yang lazim disebut anggrek besi itu memiliki warna perpaduan kuning dan ungu yang bagus. Kualitas tanaman juga prima lantaran sifat alam Dendrobium violaceoflaven daya tahan yang tangguh di berbagai lingkungan.

Panitia kontes anggrek, Agung Supriadi, mengatakan Dinas Pertanian Kota Batu menyelenggarakan acara itu untuk memperingati hari jadi ke-15 Kota Batu. “Ide penyelenggaraannya untuk memperkenalkan Kota Batu sebagai penghasil anggrek berkualitas. Selama ini masyarakat lebih mengenal Batu sebagai sentra apel,” kata Agung.
Kontes sansevieria

Sementara itu Malang Raya Sansevieria menyelenggarakan kontes sansevieria pada 12—13 November 2016. Koleksi Rudy L Syah, memenangi 2 kelas sekaligus. Pehobi sansevieria dari Tangerang, Provinsi Banten, itu menurunkan 5 tanaman di 2 kelas, yaitu variegata small A dan kelas variegata aurea. Sansevieria pinguicula putih menjadi juara 1 di kelas variegata small A dan Sansevieria Blue Clone juara 1 di kelas variegata aurea.
Menurut juri kontes, Febri Widhi Armanu, pinguicula putih tampil apik. Mulai daun kecil tersusun rapi sampai ke atas. “Selain itu jenis pinguicula putih jarang sekali variegatanya bisa sestabil tanaman juara itu,” ujarnya. Sansevieria blue clone tampilan sehat, warna kuning merata dan mencolok. Susunan daun sudah mulai berbentuk seperti kipas sehingga terlihat indah. Menurut panitia acara, Andryansyah, menarget 100 peserta. Namun, pada pelaksanaannya terdaftar 134 peserta berasal dari berbagai kota seperti Jakarta, Malang, Wonosobo, Probolinggo, dan Surabaya. (Muhammad Hernawan Nugroho)
