
Perancang taman beromzet miliaran rupiah. Ia memantau tren tanaman hias.
Trubus — “Ayo kita ngobrol sambil ngopi,” kata Fathul Maki, S.P. menyambut Trubus yang berkunjung ke kebun pembibitan dan lanskap Amandri miliknya di Kota Depok, Jawa Barat. Ia mengenakan celana jins dan kaos oblong. Sekilas tidak tampak bahwa ia perancang taman vertikal (vertical garden, vega) yang diperhitungkan banyak orang.
Kini ia menggarap vega di ibukota seluas lebih dari 400 m². Dengan banderol harga minimal Rp2,7 juta per meter persegi, nilai proyek itu lebih dari Rp1 miliar. Padahal, dalam sebulan ia mengerjakan minimal 2 pesanan taman vertikal. Hasilnya jauh melampaui gajinya ketika bekerja di penyedia jasa lanskap ternama di Jakarta 5 tahun silam.

Mandiri
Maki merangkai taman vertikal justru menggunakan tanaman hias berharga ekonomis seperti Syngonium, Dracaena, Ixora (bunga soka), anthurium bunga, maupun anggrek tanah Spathoglottis. Maklum, kekuatan utama taman vertikal adalah keindahan yang terbentuk dari rangkaian tanaman. Alumnus Program Studi Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu bahkan pernah merangkai tanaman sayur dan rempah untuk taman vertikal di kediaman seorang koki selebritas yang kerap muncul di layar kaca. Fathul Maki menekuni tanaman hias sejak lulus kuliah pada 1999. Berpindah-pindah kerja, ia sempat berlabuh di beberapa perusahaan lanskap ternama di Jakarta. Akhirnya Maki memutuskan mandiri dan membuat perusahaan sendiri. Setelah itu keteguhannya memegang keputusan itu mendapat cobaan berat.
Toh, rezeki datang di saat tak terduga. Seorang relasi lama tiba-tiba menelepon dan memintanya menangani pembuatan taman. Perlahan, kondisi keuangannya membaik dan terus membubung sampai sekarang. Sejak itu ia yakin bahwa usai kesulitan akan datang kemudahan.
Harga sepadan

Maki menerapkan prinsip itu dalam melayani pesanan. Ia hampir selalu berada dalam posisi sulit lantaran pemesan vega adalah kalangan berpunya. Setiap menerima pesanan, ia pasti berhadapan dengan minimal 3 pihak yaitu pemilik, orang kepercayaan sang pemilik, dan arsitek atau desainer. Kadang masih ditambah penanggungjawab kebun atau pengurus rumah. “Keinginan dan selera mereka masing-masing hampir selalu berbeda, tapi semua harus terwadahi,” ungkapnya.
Ia selalu menemukan jalan tengah yang membawa berkah. “Karena puas, pemesan biasanya menambah luasan atau jumlah pesanan. Otomatis rezeki saya juga bertambah,” ujarnya.

Berkah lain, mereka merekomendasikan Maki kepada rekan atau kerabat yang terpincut melihat vega garapannya. Hasilnya, pesanan mengalir lancar hingga berbagai kota di Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Hal itu ia capai tanpa bantuan media sosial maupun laman daring (online). Berlawanan dengan strategi banting harga yang dilakukan pesaing, ia malah anti menawarkan harga murah.
Fathul Maki membuktikan bahwa harga yang ia tawarkan sepadan. Ia menggunakan karpet geotekstil yang ringan, menyerap air, awet, dan tidak menimbulkan bau untuk melekatkan tanaman. “Pesaing ada yang menawarkan harga seperempat harga saya, tapi dia menggunakan karpet lantai. Tidak lama setelah pemasangan, muncul bau dari karpet,” ungkapnya. Ia juga memberikan garansi 2 bulan pascapemasangan. Selewat masa garansi, ia pun rutin menghubungi sang pemilik untuk memastikan taman vertikal yang ia pasang terpelihara baik.

Sebagai sumber informasi tren tanaman, Maki mengandalkan majalah Trubus. Ia mengoleksi majalah yang konsisten di pertanian dan hobi itu sejak kuliah. “Saya masih sering membuka kliping fotokopi Trubus lama untuk mencari ide,” kata pria kelahiran Banyumas, Jawa Tengah, itu. Trubus pernah terbit dalam format monokrom sehingga cocok difotokopi tanpa mengaburkan informasi di dalamnya. Layaknya tren di masyarakat, ia melihat isi Trubus selalu berbeda meski komoditasnya berulang.
Maki mencontohkan tren hidroponik, yang informasinya ia andalkan ketika menggarap taman vertikal sayuran dan rempah. “Pembahasan hidroponik dalam Trubus terbitan 2004—2005 agak berbeda dengan tren yang muncul 4—5 tahun belakangan,” katanya. Bagi Maki yang menggantungkan hidup dari tanaman, Trubus menjadi sumber informasi andalan. (Argohartono Arie Raharjo)
