Saturday, December 3, 2022

Kampiun Empat Kelas

Rekomendasi
210 pot anthurium dari berbagai kategori mengikuti kontes pada 17 Maret 2019, di Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Adu elok 210 anthurium. Pendatang baru menyabet kampiun di empat kelas berbeda.

Sedi Aidi Juanto. Peserta kontes yang berhasil mendapatkan posisi juara dari empat kategori.

Trubus — Sedi Aidi Juanto baru 3 bulan menggeluti hobi tanaman hias. Meski pengalaman baru seumur jagung, Sedi sukses meraih prestasi segunung. Pehobi anthurium asal Provinsi Bangka Belitung itu menjadi juara di 4 kategori pada kontes anthurium yang digelar Komunitas Anthurium Mania (KaiM). Pria kelahiran Mei 1989 itu meraih juara kategori variegata pemula, variegata madya, varian kobra junior, dan mangkuk senior.

Menurut Sedi, “Perawatan sehari-hari adalah kunci utama. Penyiraman rutin dan menjaga agar terhindar dari penyakit,” kata ayah satu anak itu. Sedi rutin menyiram anthurium koleksinya pada malam hari. Ia menyelingi penyiraman dengan diguyur pada satu hari dan penyiraman kabut pada dua hari berikutnya. Kiat lain mengelap daun agar tetap apik.

Perdana

Kontes yang berlangsung pada 17 Maret 2019 itu adalah kontes anthurium perdana yang diselenggarakan KaiM. Panitia membagi peserta kontes menjadi sepuluh kategori. Selanjutnya dewan juri menilai peserta dari segi karakter, warna, performa, dan kesehatan tanaman. Menurut koordinator dewan juri, Roy Jazri, “Hampir semua peserta punya kelebihan. Kali ini juri justru mencari kekurangan dari masing-masing tanaman agar pengurangan nilai lebih mudah dilakukan. Peserta kali ini secara keseluruhan sudah bagus,” katanya.

Kiri-kanan: Ahmad Fauzi, Roy Jazri, FLO, Rofy,
Andi Umar dan Hamdan Hamjani. Panitia dan juri
kontes anthurium.

Ketua pelaksana dan ketua KaiM, Awie, tak menyangka bila kontes yang semula hanya berskala regional, yakni Jabodetabek, ternyata disambut antusias para pehobi dari kota lain. Sebanyak 210 peserta datang dari berbagai kota di Pulau Jawa, Bali, hingga Bangka Belitung. Awie berharap kontes anthurium dapat membangkitkan kembali jiwa-jiwa pehobi anthurium yang sempat redup.

Sepekan sebelumnya kontes tanaman hias yang tak kalah seru juga berlangsung di Wonosobo, Jawa Tengah. Pada 9 Maret 2019 komunitas para pencinta sansevieria di Wonosobo menggelar kontes bertajuk Spektakuler Sansevieria. Dalam ajang 3 tahunan itu sebanyak 201 peserta berkompetisi. Para peserta datang dari berbagai daerah, seperti Surabaya, Probolinggo, Sidoarjo, Malang, Mojokerto, Ngawi, Tulungagung, Nganjuk, Yogyakarta, Semarang, Banyumas, Magelang, Temanggung, Wonosobo, Depok, Tangerang, dan Jakarta.

Persaingan ketat

Juara 1 kelas Hibrid Utama

Panitia membagi peserta menjadi 10 kelas. Di antara seluruh kelas itu persaingan yang sangat ketat terjadi di kelas hibrida utama. Di kelas itu lidah mertua koleksi Toro asal Surakarta, Jawa Tengah, bersaing ketat dengan koleksi Ista asal Wonosobo. Persaingan ketat itu akhirnya dimenangkan sansevieria koleksi Toro dengan selisih hanya satu poin dari lebih tinggi dari Ista.

Juara 1 Kelas Variegata Utama

Persaingan ketat juga terjadi di kelas variegata utama. Peserta nomor 6 milik ASC Cimanggis sangat menonjol karena bersosok jumbo dengan bentangan daun mencapai 80 cm. Sansevieria “Mafinga” itu berwarna variegata sangat cerah dengan corak tegas. Namun, pesaingnya, peserta nomor 08, tampil tak kalah memukau. Sansevieria kimayo itu berwarna daun variegata kuning yang cerah dengan strip yang tegas.

Karena penampilannya lebih sempurna, para juri yang terdiri atas Sapto (Surabaya), Ahmad Irfan (Yogyakarta), dan Syah Angkasa (Depok) menobatkannya sebagai yang terbaik di kelas Hibrid Utama. Kontes sansevieria itu diselenggarakan setiap tiga tahun oleh pecinta sansevieria di Wonosobo. Ajang 2019 ini merupakan penyelenggaraan yang keempat. Menurut pembina komunitas sansevieria di Wonosobo, Santoso, saat ini makin banyak pehobi yang dapat menyilangkan sansevieria berkualitas baik. “Oleh karena itulah hasil kerja mereka layak diapresiasi,” ungkap Santoso yang juga penyilang sansevieria. Itulah sebabnya dari 10 kelas yang dipertandingkan, 6 kelas di antaranya adalah kelas hibrida. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol dan Syah Angkasa)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img