Tuesday, January 13, 2026

Fokus Swasembada Pangan

Rekomendasi
- Advertisement -

Kedua orang tuanya tak ada yang menjadi petani. Namun, Anita Safitri sendiri yang tergerak untuk terjun bertani.

Dengan bermodalkan tanah bengkok dengan luas tanah sekitar 2 hektare (ha), ia mantap menjadi petani padi. Harap mafhum, selain petani padi, ia juga seorang sekretaris desa di Desa Kadilangu, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah.

Ia juga menanam padi di lahan pribadi seluas kurang lebih 1 ha. Saat ini ia mempekerjakan 4 orang untuk menggarap sawah.

“Saya tidak sering ikut terjun menanam. Saya sebagai manajer ikut memasarkan, memberi modal, dan mengatur modalnya akan diputar seperti apa,” kata Anita.

Saat ini varietas yang ia tanam seluruhnya padi Inpari 32. Selama bertani Anita memperoleh hasil cukup menjanjikan.

Dari lahan seluas itu mampu memanen rata-rata 6 ton gabah per ha. Harga jual rata-rata Rp6.500 per kg sehingga ia mampu meraup omzet sekitar Rp39 juta per ha.

Dengan penghasilan sebanyak itu, ia menyebut bahwa menjadi petani tidak merugikan. “Justru setiap empat bulan sekali saya bisa mendapat penghasilan dari menjual hasil panen,” kata perempuan berusia 29 tahun itu.

Ia hanya salah satu contoh petani padi. Pada 2026, pemerintah memastikan jumlah petani padi akan semakin bertambah.

Pasalnya, Kementerian Pertanian (Kementan) menganggarkan sebesar Rp10,07 triliun untuk merealisasikan tambahan target cetak sawah dari 225.000 ha menjadi 275.000 ha. Dengan adanya penambahan luas areal tanam itu, maka akan ada tambahan bantuan benih dari semula untuk 300.000 hektare menjadi untuk 1 juta hektare.

Kementan menargetkan penambahan cetak sawah dalam rangka untuk mendukung upaya swasembada pangan. Menurut Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Deni Surjantoro, dalam siaran pers Kemenkeu pemerintah mendesain Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun anggaran 2026 untuk mewujudkan delapan agenda pembangunan (Asta Cita).

Melalui berbagai kebijakan fiskal menuju Indonesia tangguh, mandiri, dan sejahtera. Dengan mengusung tema “Kedaulatan Pangan, Energi, dan Ekonomi”, strategi kebijakan dalam RAPBN tahun anggaran 2026 ditempuh melalui berbagai bidang prioritas pembangunan.

Prioritas utama adalah bidang ketahanan pangan. Anggaran bidang ketahanan pangan yang direncanakan sebesar Rp164,4 triliun.

Anggaran itu diarahkan untuk mendorong produktivitas pangan melalui ekstensifikasi dan intensifikasi lahan pertanian. Modernisasi sistem pertanian dan penguatan infrastruktur pertanian juga menjadi fokus.

Selain itu, anggaran juga diarahkan untuk menjaga stabilitas harga pangan. Upaya itu dilakukan melalui penguatan lumbung pangan, cadangan pangan, serta penguatan rantai pasok dan distribusi yang efektif.

Meningkatkan kesejahteraan petani juga penting melalui bantuan sarana-prasarana pertanian serta akses permodalan dan perlindungan usaha. Rancangan program prioritas Kementan 2026 mulai dari peningkatan produksi padi.

Mereka menargetkan produksi padi sebesar 60,34 juta ton gabah kering giling atau setara 34,7 juta ton beras pada 2026. Untuk mencapai target itu, cetak sawah dan optimasi lahan adalah salah satu upayanya.

Yang tak kalah penting adalah penyediaan air untuk pertanian, penyiapan benih unggul, alat dan mesin pertanian (alsintan), dan pupuk subsidi. Penyuluhan menjadi prioritas Kementerian Pertanian yakni aneka cabai.

Maklum, komoditas itu kerap menjadi biang kerok inflasi. Dalam Berita Resmi Statistik pada 1 Oktober 2025, BPS mengonfirmasi bahwa Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,21% pada September 2025 dibandingkan dengan Agustus 2025.

Lonjakan harga bumbu dapur itu mampu memberikan andil inflasi hingga 0,08% dari total inflasi bulanan 0,21%. Artinya, hampir separuh tekanan inflasi nasional di bulan itu terpusat pada cabai.

Oleh sebab itu, pada 2026 Kementan menargetkan produksi 3,08 juta ton aneka cabai. Bawang merah juga menjadi salah satu komoditas strategis pada 2026.

Kementan menargetkan produksi 2 juta ton bawang merah. Hal itu sesuai dengan prediksi Direktur Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas), Ir. Soekam Parwadi.

Menurut Soekam, cabai dan bawang merah sudah sejak lama menjadi penyebab inflasi sehingga terus menjadi perhatian pemerintah. Salah satu contoh terjadi di Padang.

Rilis Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat mencatat perkembangan harga di Sumatera Barat secara umum pada Agustus 2025 mengalami kenaikan sebesar 0,52% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Secara tahun kalender, Januari—Agustus 2025 terjadi inflasi sebesar 2,59%.

Secara tahunan, Agustus 2025 dibandingkan dengan Agustus 2024 terjadi inflasi sebesar 2,89%. Komoditas strategis lainnya adalah jagung.

Pada 2026 Kementan menargetkan produksi 18 juta ton jagung. Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Pudji Ismartini, dalam siaran pers BPS, produksi jagung nasional sepanjang Januari—Desember 2025 diperkirakan terus menunjukkan tren positif.

Berdasarkan hasil survei Kerangka Sampel Area (KSA) BPS, potensi produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% mencapai 16,55 juta ton. Angka itu meningkat 1,41 juta ton (9,34%) dibandingkan dengan periode yang sama pada 2024.

Peningkatan produksi itu sejalan dengan bertambahnya luas panen jagung secara nasional. Potensi luas panen jagung pipilan sepanjang Januari—Desember 2025 diperkirakan mencapai 2,79 juta hektare.

Angka itu naik 0,24 juta hektare (9,4%) dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Menurut Soekam petani dapat menjajaki menanam wortel karena digadang-gadang berprospek bagus pada 2026.

Namun, bukan wortel dengan penanganan pascapanen konvensional, tapi wortel yang dihasilkan teknik pascapanen modern. “Saat ini mulai banyak petani yang menerapkan pascapanen dengan menentukan usia panen, sortasi, pengkelasan, pencucian, pengemasan, hingga branding,” tutur Soekam.

Hal itu membuat pasar wortel lebih bergairah di masa mendatang. Namun, harga wortel dengan penanganan pascapanen modern sedikit lebih mahal dibandingkan dengan penanganan konvensional.

Meski demikian konsumen lebih memilih yang modern karena lebih efisien. Jika membeli wortel dengan penanganan pascapanen konvensional, biasanya yang dapat dikonsumsi hanya 50—75%.

Sisanya dibuang atau berakhir menjadi pakan ternak. Adapun wortel modern bisa dikonsumsi 100%.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img